Terlepas dari kau terlahir sebagai apa dan berasal dari keluarga mana, kau bisa memilih apa - apa yang ada di hidupmu.
Kau di masa depan, adalah hasil akumulasi dari pilihan - pilihan yang kau ambil di masa lampau.
Hidup itu pilihan. Memang. Banyak hal yang bisa kita pilih di dalam hidup ini. Bertahan atau meninggalkan. Mencintai atau membenci. Mengingat atau melupakan. Semuanya bagian dari pilihan yang kadang kala kita temui di persimpangan jalanan kehidupan yang sedang kita tempuh.
Sepanjang perjalanan pulang, gadis berwajah oriental itu tak henti - hentinya mengingat betapa baiknya calon mertuanya. Tak hanya baik, tapi sangat baik. Sampai - sampai perempuan di sampingnya yang tak lain dan tak bukan adalah kakak si gadis menggelengkan kepala berkali - kali.
Kedua sudut bibir gadis itu rasanya sudah tertarik sampai telinga. Saking lebarnya ia tersenyum.
"Kamu kesurupan, dek?" tanya Di pada adik bungsunya yang kini menoleh dan malah terkikik sendiri.
"Menurut kakak gimana? Mertua Tri baik banget kan? Apalagi kak Sian," lagi - lagi ia tak bisa menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak terangkat tinggi saat mengingat bagaimana Sian mengakhawatirkannya.
"Kenapa kamu gak bilang kalau nginap di kosan Nisa selama dua hari? Mana katanya kamu gak bawa uang ke sekolah. Kamu mau jadi gembel beneran?"
Seperti itulah cara lelaki itu mengkhawatirkannya. Meski kadang ketus dan sedikit menyebalkan. Tri tetap suka.
Di membelokkan mobil ke kanan memasuki kawasan perumahan elite yang di mana rumah mereka berada di ujung komplek. Perempuan itu tersenyum pada seorang satpam komplek sebagai sapaan.
Pak Carbon sempat bertanya kenapa Diana pulang semalam ini. Pasalnya Di tak enak hati menyela pembicaraan yang terangkai setelah makan malam. Ibu Amina seolah sangat senang bercerita banyak hal dengan Diana. Diana seorang editor dari penerbit yang bernama Kufrumpublisher. Bu Amina dulu juga seorang yang berkecimpung di dunia penerbitan. Bedanya bu Amina dulu seorang coppy writter.
Bu Amina memutuskan untuk berhenti bekerja setelah memiliki ketiga putrinya. Ia sadar, bahwa tugas utama seorang ibu adalah mendidik anak - anaknya tanpa terhalang oleh waktu bekerja. Sudah seharusnya ia lebih mengutamakan menjaga dan mengurus anak - anaknya dibanding bekerja di luar rumah. Sebab ibu adalah madrasah pertama bagi anak - anaknya.
Saking banyaknya mengobrol mereka bahkan tak sadar bahwa jam sudah bergerak pelan namun pasti menuju angka sembilan. Untungnya mereka sudah melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang mukmin.
Mobil yang dikendarai Di kini sudah mencapai pagar rumah megah yang ada di hadapan mereka. Sujurus kemudian, seorang satpam berseragam lengkap dengan pentungan di pinggang itu membukakan gerbang seraya tersenyum pada Diana dan dibalas perempuan itu dengan senyuman serta sapaan.
"Malam pak Kal," sapa Diana ramah yang dibalas dengan pak Kal dengan anggukan dan,
"Malam non Di, Tri."
Mobil itu berhenti tepat di dalam sebuah garasi besar dan bergabubg dengan beberapa mobil mewah di dalam sana.
Diana dan Tri turun setelah mematikan mesin mobil. Melangkah keluar dan masuk ke dalam rumah.
Gadis berwajah oriental itu nampak ragu. Anatara mau melangkah masuk atau tetap berdiri di ambang pintu seperti orang bodoh.
Perempuan cantik yang semula berjalan gontai itu berhenti sejenak saat menyadari bahwa Tri tidak ada di sampingnya saat ini. Menoleh ke belakang dan menemukan gadis cantik itu sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah datar.
Diana melangkah berbalik arah. Mendekat pada gadis itu dan menarik lengan Tri hingga membuat gadis itu tersadar dari lamunan panjang yang ia rangkai di kepalannya barusan.
"Ngapain berdiri di situ sih dek? Kayak orang asing aja," omel Di pada adiknya yang masih saja berwajah datar. Entah apa yang kini gadis itu pikirkan.
Saat sampai di lantai atas, Di membuka pintu kamarnya. Sedangkan Tri, gadis itu masih saja ragu akan apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Belum sampai sepekan kamu gak di rumah loh dek. Masa udah lupa kamar sendiri?" Tri hanya meringis seraya menggigit bibir bawahnya pelan.
Diana meraih tangan adik bungsunya itu dan membawanya mendekati pintu berwarna pink pastel dengan papan kayu unik dengan ukiran nama sang adik tergantung manis di sana.
Membuka pintu itu dengan menggunakan tangan kiri seraya tangan kanannya memegang tangan Tri.
"Ayo masuk!" ajak Di seraya menarik tangan adiknya dan Tri sempat menolak untuk masuk ke kamarnya sendiri.
Setelah dirasa sang adik nyaman di kamarnya. Di berlalu setelah mengatakan bahwa jika Tri membutuhkan sesuatu, ia bisa memanggil kakaknya itukapan saja.
Sepeninggalan Di dari kamarnya, Tri terdiam sejenak seraya menyapukan pandangan ke setiap sudut kamar. Cat kamarnya masih sama. Berwarna biru dan dipadukan dengan pink pastel. Membentuk pola garis - garis.
Ruangan itu masih sama seperti sebelum ia meninggalakan rumah dan memutuskan untuk tidak pulang.
Kasurnya bersih dan wangi. Pikirnya seraya mengusap pelan kasur tempatnya bertengger saat ini.
Merebahkan tubuhnya ke kasur. Matanya menatap langit - langit kamar yang dicat seperti langit malam yang dihiasi bintang - bintang kecil dan satu bulan sabit yang besar.
Pikirannya kembali mengingat hal - hal indah yang ia lalui saat ia berada di luar rumah. Kenangan indah yang mungkin tak akan pernah ia temui di dalam gedung megah yang ia tinggali saat ini.
______
Arsen, lelaki itu nampak sedang tersenyum geli saat menatap layar benda berbentuk kotak di hadapannya saat ini.
Bagaimana tidak, layar itu sedang menampilkan lembar dari microsoft word yang berisi narasi dan dialog dari sebuah cerita. Cerita romansa chessy dan menye - menye khas kesukaan remaja zaman now. Pikir Arsen seraya terkekeh.
Bagaimana bisa lelaki--yang kini sedang tertidur pulas dalam keadaan duduk di kursi yang menghadap laptopnya--itu menulis cerita sechessy itu.
Arsen tak hentinya - hentinya tersenyum seraya membayangkan adegan yang tertulis di naskah yang tadi ia baca.
Seorang gadis SMA yang merupakan badgirl dan penguasa sekolah tiba - tiba dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang guru lelaki tegas dan seseorang yang idealis yang mengajar di sekolah sang gadis. Dengan alasan, agar si gadis dapat berubah menjadi perempuan yang lebih baik. Sebab orangtuanya sudah kewalahan dan menyerah dalam mendidik gadis keras kepala itu.
Lalu, berlanjutlah pada pertemuan - pertemuan dan menggambarkan konsep benci tapi cinta di dalam kisah chessy dan menye - menye. Arsen terkikik seraya duduk di pinggiran kasur. Matanya mulai menelisik setiap sudut kamar Sian yang sederhana bahkan terbilang sempit, namun begitu rapi dan nyaman.
Entah bagaimana Arsen bisa berada di kamar Sian saat ini. Apa yang membuatnya tertarik dengan kehidupan seorang Sian.
____