GM-17-Lets be friend

1093 Words
Arsen hanya ingin berteman, tapi kenapa lelaki ini menolaknya mentah - mentah? "Aku bisa membantu menyelesaikan naskah ceritamu itu, asal kau mengizinkanku untuk menetap di sini." Sian, lelaki itu mendesah seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan. Memangnya rumah Sian tempat penampungan apa?! Kemarin si gadis nyentrik itu memaksanya untuk setuju menginap di rumah Sian. Sekarang? Arwah penasaran bernama Arsenik atau apalah itu, menawarkan kerjasama yang berusan ia tawarkan? "Kau pikir aku anak indih*me?" "Indigo!" koreksi Arsen seraya menggeleng pelan. "Ya, itu maksudnya!" balas Sian membenarkan. Untungnya tubuh Sian cepat - cepat ia jauhkan dari si arwah bernama Arsen itu. Bagaimana jika Arsen benar - benar merasuki dan bisa mengendalikannya? Pikir Sian tidak - tidak. "Lagian! Kamu itu kan setan!-," Arsen berdecak sebal. Berapa kali ia harus mengatakan bahwa ia bukan setan. "Saya itu arwah! AR-WAH! Bukan setan!" tukasnya tidak terima. Sementara Sian mendengkus karena sebal. Masa bodo dia itu arwah atau setan atau apalah! Pikir Sian seraya memutar bola mata malas. "Ya, itu! Apalah lasa Lagian kan, kamu itu ar-wah! Kenapa juga butuh tempat tinggal? Kamu-," Sian menghentikan kalimatnya seraya berpikir sejenak. Kenapa juga ia harus berbicara seformal itu pada arwah? Sian baru menyadarinya. Mungkin ia terbawa suasana dan karena Arsen juga berbicara formal padanya. Makanya lelaki itu jadi ikut - ikutan.. "Kamu, apa?" tanya Arsen menunggu kelanjutan kalimat lelaki di hadapannya itu. "Lo kan arwah, jadi bisa bebas ke mana aja kan? Kenapa juga lo mau netap di rumah gue?!" lanjut Sian seraya meraih benda persegi yang tergeletak di atas nakas. Menatap layar ponselnya sebentar. Tidak ada chat penting. Pikir Sian seraya melemparkan benda pipih itu ke atas kasur dengan pelan. Jarum jam dinding yang terpatri di dinding kamarnya bahkan sudah bergerak menuju angka empat sore dan Sian masih terjebak dengan obrolan tak masuk akalnya dengan arwah seperti Arsen. Arsen bahkan baru saja memejamkan mata setelah salat ashar. Padahal ia merasa mengantuk sekali karena jam tidurnya makin tak karuan akhir - akhir ini. "Kau tidak mengerti. Tidak semua orang bisa aku ajak berteman dan bisa aku rasuki," jelas Arsen dengan tidak jelas. "Lah! Gue kan gak mau temenan sama lo, dan yang paling penting gue juga gak mau lo ngerasukin tubuh gue. Jadi, kenapa juga lo ngotot pengen ngajak gue temenan dan pengen netap di sini?!" cecar Sian dengan panjang seraya melangkahkan kaki mendekati pintu kamarnya. "Awas aja lo ngintip - ngintip ade gue!" ancam Sian setelah membuka dan menutup pintu kamarnya lagi. "Jadi, kalau gue ngintip lo, boleh?" goda Arsen seraya tersenyum geli. "ASTAGHFIRULLAH! Lo homo?!" tanya Sian kaget seraya mundur ke belakang. Padahal dia tidak tau keberadaan Arsen saat ini. Arsen yang ternyata berdiri tepat di hadapannya itu tergelak seketika. Lucu sekali wajah Sian saat ini. "Gue normal, sorry! Gue cuma mau liat respon lo doang kok," balas arwah tak tau diri itu dengan santai. Sian benar - benar ingin mencekik Arsen saat ini juga kalau tidak ingat bahwa Arsen tidak dapat ia lihat dan ia sentuh. "Lo juga bisa bahasa gaul ternyata?" tanya Sian heran. Arsen hanya mengedikkan dadanya dengan sombong. "Yaiyalah! Lo pikir gue arwah zaman purba apa?" sewotnya pada Sian. Masa bodo juga, si Arsen itu arwah zaman apa. Zaman purba kek, zaman megalitikum kek zaman fir'aun bujang kek. Bodo amat! Pikir Sian seraya mengedikkan bahu dan berlalu ke luar kamar. "Lo mau ke mana? Woy!" lelaki itu benar - benar ketus. Pikir Arsen seraya melangkahkan kaki mendekati kasur Sian dan merebahkan tubuhnya di sana. Empuk. Gumam pria itu seraya memejamkan mata. Sepertinya kamar Sian cocok untuknya. Lelaki itu tipe lelaki pembersih dan juga rapi. Hanya saja, sepertinya Arsen harus berusaha keras agar Sian mau menerimanya dan bekerja sama dengannya kelak. Arsen ingin tahu banyak hal yang berhubungan dengan dirinya. Akan tetapi, entah mengapa seolah semua pintu kemungkinan ia dapat tahu itu sudah tertutup semuanya. Arsen tidak tahu harus memulai mencari tahu dari mana dan hal apa. Selama ini ia hanya berusaha bertahan di antara dua alam. Berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya tanpa mendapatkan hal yang ia inginkan. Arsen hanya ingin nasibnya segera jelas. Ia ingin tahu apa - apa yang membuatnya terombang - ambing di batas alam dunia nyata dan gaib. _____ Kana, gadis dengan rambut sebahu itu mengusap tengkuknya seraya menyapukan pandangan ke setiap sudut kamar yang ia tempati. Entah kenapa rambut kuduknya berdiri seolah merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata. Ia baru saja menyelesaikan PR Biologinya. Meletakkan kembali pensi dan pena yang semula ia gunakan ke dalam wadah khusus alat tulis. Kedua adiknya terlihat masih sibuk berkelana di alam mimpi. Kana bercedak saat memperhatikan dua gadis yang sudah tak karuan posisi tidurnya itu. Berjalan mendekati kasur. Kana menyentuh tangan kedua adiknya itu seraya membangunkan mereka. "Kun, Ken! Bangun! Ini udah sore. Udah mau malam malah," seru kana seraya menarik - narik lengan kedua adiknya itu. Akan tetapi si empunya hanya bergumam tidak jelas dan beringsut sebentar lalu melanjutkan tidur mereka kembali. Kana mendesis seraya beranjak meninggalkan kamar. Sepertinya Kana hanya akan membuang energinya cuma - cuma jika memaksa kedua adiknya itu bangun. Pasalnya kedua gadis itu kalau sudah tidur maka akan sangat sulit untuk dibangunkan. Di kamar, Kuna sedang bergumam tidak jelas. Sepertinya ia mimpi. Tangannya bergerak secara tiba - tiba lalu menutupi kedua bola matanya. Entah apa yang ia lihat di dalam alam bawah sadarnya itu. Sepertinya gadis itu sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Jam dinding yang terpatri di ruang tengah sudah bergerak secara perlahan namun pasti menuju angka lima. Ibu Amina baru saja pulang setelah pekerjaannya sebagai ART selesai. Sebenarnya tidak ada satupun yang tahu kalau bu Amina bekerja sebagai ART. Anak - anaknya menganggap kalau Amine bekerja sebagai be di salah satu butik yang merupakan milik tetangga mereka. Amina sangat yakin kalau Sian, anak sulungnya itu akan melarangnya jika tahu pekerjaannya selama ini. Untungnya tetangga bu Amina mau berbaik hati dengan menyembunyikan fakta itu. Sian menatap ibunya dengan lirih saat ia mendapati sang ibu sedang sibuk memasak dan menyiapkan makan malam untuk mereka. "Ibu kok gak bilang kalau sudah pulang? Abang kan bisa jemput," tanya Sian seraya mengambil alih kegiatan ibunya. "Gak pa-pa bang, lagian kan dari sini ke butiknya Bu Cesi kan, dekat bang," balas bu Amina seraya mengelap pinggiran meja kompor yang nampak kotor. Sian sedang mengaduk - aduk masakan yang ada di hadapannya. "Kalau bisa, ibu jangan kerja dulu aja. Abang kan udah kerja dan gajinya juga lumayan kok bu." Bu Amina hanya mengangguk seraya tersenyum tipis. Beruntung sekali dia, karena memiliki anak lelaki seperti Sian. Syukurlah, Sian tumbuh dengan baik walau tanpa kehadiran seorang ayah dalam menemani pertumbuhannya selama ini. _____
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD