Setelah berguling ke sana ke mari dan hampir terjatuh dari kasur. Tri, gadis itu memutuskan untuk bangkit dari posisi berbaringnya. Lalu menghidupkan lampu tidut yang ada di atas nakas.
Diraihnya benda berbentuk pipih yang ada di samping lampu. Menatap layarnya seraya mendesah pelan.
Sudah hampir pukul satu. Akan tetapi, matanya masih sangat segar. Alih - alih berat dan ingin terlelap, ia malah menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Pasalnya, pada layar homescreen ponselnya terpampang sebuah foto yang menampilkan dirinya dan seorang pria dengan alis tebal yang kontras dengan alisnya yang tipis.
Ah iya, gadis itu hampir lupa. Kalau ia menjadikan foto selfie dirinya dan Sian sebagai background layar homescreen di ponselnya.
Bisa - bisa ia menjadikan foto itu layar homescreen ponselnya. Bagaimana kalau pria itu tak sengaja melihatnya? Bisa bisa ia dicap sebagai perempuan tidak tahu malu.
Padahal mereka bukan siapa - siapa. Untuk apa juga ia menggunakan foto itu sebagai tampilan homescreen ponselnya? Sepertinya Tri melakukannya tanpa sadar.
Lalu dibukanya galeri ponsel. Mencari foto dirinya dan mengganti homescreen ponselnya dengan foto dirinya yang berdiri di bawah lengkungan besi berbentuk hati yang dijalari oleh bunga - bunga cantik.
Setelah mengganti homescreen ponselnya. Gadis itu nampak menyalakan lampu kamar hingga ruangan itu terang sepenuhnya.
Setelah berpikir sejenak, gadis dengan baju tidur doraemonnya itu memutuskan untuk melangkah mendekati meja belajarnya yang ada di sisi kanan ruangan.
Meraih sebuah buku berwarna orange. Sebuah buku motivasi yang kadang dibacanya ketika sedang tidak bisa tidur.
Setelah membaca selama hampir lebih dari sepuluh menit. Gadis itu mengusap kedua matanya dengan pelan. Matanya terasa sudah panas dan berair.
Ditutupnya buku itu setelah meletakkan pembatas pada halaman yang baru saja ia baca.
Sebelum kembali ke kasur, ia memutuskan untuk membuka kotak besi berbentuk persegi empat berwarna merah. Entah kenapa, semenjak ia tahu, bahwa Sian adalah pria yang pernah ditemuinya di masa lalu, saat ia kecil dulu. Rasanya ia selalu ingin menatap beberapa foto lama yang ada di dalam kotak besi itu.
Foto pertama yang berada paling atas dari tumpukan beberapa foto. Menampilkan tiga sosok orang dewasa bersama seorang gadis kecil yang tentu saja adalah dirinya.
Sudut matanya tampak menyipit saat ia tersenyum menatap pada foto itu. Tri kecil yang sedang cemberut, dikelilingi oleh dua kakak perempuannya yang sedang membujuknya dengan menyodorkan cokelat dan permen kapas berbentuk doraemon. Lalu, tatapannya terhenti pada seorang pria dengan wajah yang tak asing di matanya. Pria dengan tawa renyah dan gigi kelincinya yang terlihat saat ia tertawa seraya menatap ke arah Tri kecil.
Pria yang sudah lama tidak ia temui. Pria yang berarti bagi kakak keduanya, Diana.
Ke mana pria yang amat dicintai oleh kakaknya itu?
Tidak ada yang tahu ke mana perginya pria ramah dan kerap ia sapa dengan 'Bang Nik' nya itu.
Sehari sebelum pernikah kak Di dan bang Nik, Tri masih ingat. Bagaimana terpukulnya Di, sesaat mendengar kabar kalau Nik menghilang tanpa jejak.
Semua tempat sudah mereka datangi. Rumah, kantor polisi dan tempat - tempat yang mungkin pria itu datangi.
Nik hanya seorang yatim piatu. Hidup sebatang kara di kota Argon setelah kehilangan seorang nenek yang merawatnya sejak kecil setelah kepergian orang tuanya karena sebuah tragedi berdarah di kota Argon saat itu.
Tidak ada petunjuk apapun yang bisa mereka temukan. Seolah kepergiannya benar - benar direncanakan dengan baik.
Polisi, tidak ada yang bisa dilakukan pihak berwajib karena minimnya bukti dan petunjuk yang jelas.
Kilasan kenangan pahit di mana Diana, kakak perempuannya yang kehilangan seorang yang berarti di hidup wanita itu datang tanpa bisa dicegah.
Tanpa sadar menghempaskan Tri pada kenyataan pahit yang harus ia terima. Bahwa bang Niknya sudah tidak mungkin untuk ia temui.
Buru - buru Tri mengembalikan foto itu ke tempatnya semula. Menutupnya dengan rapat dan menyembunyikannya di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Diana saat kakaknya itu berkunjung ke kamarnya.
Dua tahun sudah berlalu. Akan tetapi, Tri paham betul. Bahwa kakaknya itu tidak sepenuhnya baik - baik saja. Tentu saja.
Tidak ada yang baik - baik saja setelah mengalami episode kehilangan dalam hidupnya. Lalu, episode yang paling menyesakkan adalah, saat - saat di mana kita sadar. Bahwa ia yang telah hilang dari hidup kita, tak dapat kita temui meski kita mengatakan bahwa kita tengah merindukannya setengah mati.
***
Renacana untuk segera menyelesaikan naskah novelnya kini menguap begitu saja. Saat Arsen, hantu yang hampir seharian tidak Sian temui, malah mengajaknya untuk berdiakusi mengenai tawaran si hantu sebagai Ghost Writermya Sian.
"Yang benar saja. Gaya tulisan kita berbeda. Dan satu lagi, saya memang penulis amatir, namun saya menjungjung tinggi keorisinilan karya saya," tolaknya mentah - mentah saat Arsen menawarkan diri untuk membantu Sian menyelesaikan naskah yang ditulis pria itu dalam waktu yang cepat.
Arsen mendengkus kuat - kuat.
"Apa kau bilang? Orisinil?" Arsen bertanya dengan skeptis.
"Tidak ada karya yang benar - benar orisinil Sian. Yang ada hanya, karya yang ditulis oleh orang yang berbeda, akan tetapi dengan kemungkinan tulisan yang sama itu sangat jelas.
"Kau tahu, tema cerita yang kau angkat, ini, sudah menjamur di dunia pernovelan." Arsen mendekat ke arah Sian. Melihat - lihat rak buku yang ada di meja belajar pria itu. Lalu meraih satu buku bersampul tebal dengn warna kebiruan.
"Lihat, ini!" tunjuknya pada Sian.
"Buku ini sudah pernah aku baca saat kau tidur. Dan kau tahu apa?" Arsen menatap Sian dengan wajah penuh semangat.
"Ada beberapa adegan di dalamnya yang sangat mirip dengan adegan yang kau tulis di draft laptopmu." Fakta yang tak Sian ketahui akhirnya terdengar dari seroang hantu, ah iya, Arsen bukan hantu atau setan. Ia adalah arwah yang pensaran. Pikir Sian seraya meraih novel yang ada di tangan Arsen.
Dibolak - baliknya buku itu lalu meletakkannya di atas meja seraya mengembuskan napas berat.
"Lalu, apa maksudmu dengan tawaranmu tadi?" tanya Sian seraya menatap arwah pria yang kini menatapnya dengan antusias.
"Maksudku, kau gunakan waktu sengangmu untuk membantu mencari petunjuk tentang diriku. Aku akan membantumu menyeleaaikan naskah ini," Jelas Arsen seraya menyerahkan secarik kertas yang berisi tulisan tangannya.
ARSENIK DOMINICK
"Ini untuk apa?!" tanya Sian dengan wajah lelahnya. Seharian ini otaknya terasa lelah karena memikirkan plot dan alur cerita yang sudah banyak ia lupakan karena urusan perkuliahan dan pekerjaan. Dan ya, akhir - akhir ini ia juga disibukkan dengan urusan percintaan.
"Barangkali kau menemukan seseorang yang mengenalku. Kemudian ia meragukan ceritamu tentang diriku. Kau harus menyerahkan ini," Arsen berujar seraya meletakkan kertas itu di atas meja belajar Sian.
"Apa hubungannya?" tanya Sian geram karena arwah pria yang ada di hadapannya ini sangat bertele - tele.
"Ia akan mempercayaimu. Karena tulisan tanganku ini asli dan aku juga mencantumkan tanggal hari ini. Agar jelas bahwa aku menulisnya hari ini, bukan saat aku hidup." Sian mendesah seraya memijat pelipisnya yang terasa berkedut.
"Baiklah. Aku akan menyimpan ini baik - baik." Diambilnya kertas itu. Melipat benda itu dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam dompet yang selalu ia bawa ke mana - mana.
Malam itu, Sian memutuskan untuk tidur setelah menyudahi obrolannya dengan Arsen.
Saat pria itu terlelap dalam tidurnya. Arsen mulai melanjutkan aktivitas menulis naskah Sian yang sempat terhenti karena sang penulis kelelahan dan memilih tidur segera.
Sebenarnya, Arsen tidak merasa kalau ide cerita Sian ini unik dan menarik. Pasalnya, ide cerita lelaki dewasa yang menyukai perempuan yang jauh lebih muda darinya, itu, sudah begitu banyak bertaburan.
Arsen memang tidak mengetahui banyak hal apa - apa yang terjadi sebelum kematiannya. Hanya saja, ia memutuskan untuk mempelajari literasi dan sering membuka aplikasi Ways lewat ponsel milik Sian.
Dan seeprti yang ia bilang. Ide cerita yang Sian sajikan sudah sangat mainstream dan juga menjamur di aplikasi itu.
Entah pembacanya memang pada menyukai ide cerita seperti itu atau karena ide cerita seperti itu sangat umum untuk ditulis. Tidak membutuhkan riset yang terlalu berat.
Arsen meringis tiap kali menemukan kesalahan penggunaan kata -di yang tidak sesuai pada tempatnya.
Arsen sempat menggeram seraya menatap Sian yang sudah terlelap dengan begitu nyenyak hingga terdengar suara mendengkur.
Bagaimana bisa pria itu mengaku menyukai literasi, sementara penggunaan kata -di saja ia tak paham.
di sajikan? Ah, Arsen rasanya ingin menangis melihat naskah yang ada di hadapannya saat ini.
disekitar? Yang benar saja. Ia benar - benar tak habis pikir. Jangan - jangan, Sian memang tidak mengerti bagaimana penggunaan kata -di yang benar.
Jangan - jangan Sian lulus mata pelajaran Bahasa Krypton dengan menyogok gurunya.
Selama Arsen merevisi naskah itu, ia tak sempat merevisi alur, penokohan dan lain sebagainya. Pasalnya, secara teknis saja, tulisan Sian sudah begitu banyak salahnya. Dimulai dari kesalahan kecil sampai kesalahan yang fatal.
Tak hanya penggunaan kata -di yang benar. Sian juga kerap kali melakukan typo yang sangat fatal. Typo yang tidak hanya sekadar typo, tetapi typo yang bahkan mengubah arti keseluruhan kata bahkan kalimat. Satu lagi, terlalu banyak kata yang tidak baku di dalam penulisan naskah ini.
Arsen lagi - lagi menghela napas panjang lalu mengembuskannya dengan berat. Beberapa kali ia memijat pelipisnya yang terasa berkedut.
Sepertinya revisi naskah malam ini akan menjadi revisi yang panjang lagi melelahkan.
***