GM-21-Saya bukan setan, Sian!

1136 Words
Meski ini bukan kali pertama Sian merasakan keberadaan Arsen, si arwah pengganggu itu, namun rasanya ia masih merasa was was. "Saya bukan setan Sian! Jangn bacakan saya ayat kursi. Mentang-mentang saya masih iqro. Kamu mau pamer?" Arsen tidak senang saat lelaki yang sudah menjadi partner untuk membantunya agar mengingat memorinya yang hilang, itu sedang komat kamit melapalkan ayat kursi. Sudah berapa kali ia katakan. Arsen hanya arwah malang yang terombang ambing di dunia nyata dan ghaib. Sian nampak mengusap bulu kuduknya. Entah kenapa, ia merasa kalau Arsen marah, maka suaranya akan menjadi sedikit menyeramkan. "Plis! Lo gak usah marah marah, bisa?" Sian bertanya dengn mata yang menelisik setiap sudut kamarnya dengan ngeri. "Suara lo serem kalo marah marah," tamnah Sian seraya bergegas menaiki kasur dan bersiap menarik selimut. Arsen yang dari tadi sibuk melihat benda yang ada di nakas di samping kasur Sian, hanya mendengkus pelan. "Siapa suruh bikin saya marah?" Ia sebal karena Sian masih kerap mempelakukannya seolah ia adalah setan yang harus diusir. Padahal, Arsen hanya arwah gelandangan yang tidak tahu akan ke mana. Satu hal yang ia syukuri sebagai seorang arwah, yaitu ia tidak merasakan yang namanya lapar. Hanya saja. Jika ia terlalu sering berpindah-pindah tempat. Maka ia akan merasakan kelelahan atau energinya akan terkuras. Oleh karena itu, ia butuh tempat tinggal yang nyaman. Agar ia tidak perlu berpindah pindah tempat terlalu sering. Energi yang ia punya harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Agar suatu saat, ia bisa mengungkap misteri di balik kematiannya. Ah, apa iya, ia sudah meninggal? Bisa saja tubuhnya sedang terbaring koma di suatu tempat, bukan? Seerti halnya di film - film yang pernah ia tonton dulu. Tunggu, ...? Ia baru saja mengingat momen di mana ia sedang menonton sebuah film. Assa! Arsen tersenyum bahagia seraya memejamkn matannya. Berharap cuplikan ingatan menonton film yang sempat meli tas tadi berlanjut. Hingga mengantarkannya pada kenangan - kenangan lainnya. "Arrghhh!" Pria berwajah pucat itu menggeram saat rasa pusing yang berdenyut - denyut dan mengantarkan sensai nyeri yang menjalari kepala. Hampir saja Sian terjungkal dari kasurnya, saat mendengar suara geraman yang menyeramkan. Lelaki membuka matanya, megedarkan pandangan ke setiap sudut kamar seraya beristighfar ria. "Lo kalo sering bikin gue kaget begini, mending minggat deh! Lo gak liat sekarang jam berapa?" Arsen, pria itu nampak mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang setia berdetak mengisi keheningan malam. Jarumnya sudah menunjuk angka dua belas malam lewat. Itu artinya, ini sudah hampir lewat tengah malam. Di luar hujan. Sian nampak sudah bergelung dalam selimutnya. Tidak mengatakan kata selamat tidur untuk Arsen. Sekadar basa basi. Meski pria itu tidak dapat melihatnya. Pria itu nampak bersandar pada punggung kursi yang ada di samping tempat tidur Sian. "Apa besok kamu akan menemui editor itu lagi?" tanya Arsen seraya memperhatikan Sian yang nampak tidak bergerak sama sekali. Apa ia sudah tidur? Pikir Arsen seraya mendekatkan wajahnya. "Kau sudah tidur?" Arsen kembali bertanya meski pria yang ditatapnya itu sudah memejamkan mata dengan tenang. Seolah tidak terusik sama sekali. Sian sudah berkelana ke alam bawah sadarnya. Sementara Arsen masih bingung, perihal ia akan memulai misinya dengan Sian dari mana. Ah iya. Dimulai dengan membantu lelaki itu menyelesaikan naskah novelnya. Hingga sampai ke tangan editor yang menawarkan untuk terbit cetak itu. Lalu, mencari informasi yang berkaitan dengan dirinya. Tapi apa? Arsen bahkan tidak dapat mengingat banyak. Sesekali hanya cuplikan ingatan singkat yang melintas di kepalanya, dan menyisakan nyeri seperti dipalu. Ia pernah ingin memaksakan dirinya untuk mengingat cuplikan apa saja yang sekiranya dapat menjadi petunjuk. Lalu, yang terjadi apa? Ia merasa kepalanya akan pecah. Malam semakin larut, Arsen masih saja sibuk dengan rencana yang akan ia jalankan bersama Sian. Pria itu nampak mondar mandir seraya menggigit ujung - ujung kukunya. Sementara Sian, lelaki itu nampak terlelap dengan tenang. Seolah tidak ada beban. Pikir Arsen seraya memandangi partner kerjanya itu, lalu menggelengkan kepala. Sebaiknya ia juga segera tidur. Urusan besok mah belakangan. Yang penting, ia sudah punya tempat tinggal yang nyaman. Ya, di samping Sian. Pelan - pelan Arsen melangkah manaiki kasur. Untungnya, ukuran kasur itu cukup menampung dua orang. Jadi, Arsen bisa ikut berbaring di samping Sian yang kini sudah mendengkur. Membuat Arsen berdecak pelan. Ia sangat tidak bisa tidur jika mendengar suara dnegkuran. Maka dari itu, yang harus ia lakukan adalah, menyumbat lubang telinganya dengan gumpalan kertas yang ia ambil dari nakas. Semoga saja Sian tidak menyadari kehadirannya di kasur ini. Karena kalau iya, pri itu bisa memekik histeris seraya menerjangnya dengank kuat dan memarahinya habis - habisan. Sian masih tidak bersikap begitu welcome padanya. Dan kalau Arsen membuat kesalahan sekecil apapun itu, bisa - bisa ia akan ditendang ke luar dari rumah ini. Arsen, pria itu melirik ke samping kanan, di mana Sian sedang terlelap dengan begitu tenang. Dikibas - kibasnya telapak tangan di depan wajah Sian. Saat tidak ada respon, barulah Arsen menghela napas lega dan bisa terlelap dengan tenang nantinya. *** Hari ini seharusnya Sian pergi ke kampus. Memeriksa sampel penelitiannya di lab lalu melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing skripsinya. Seharusnya begitu. Tapi, di luar nampak hujan tengah mengguyur kota Argon dengan begitu deras. Apalah daya, Sian yang biasa ke kampus dengan sepeda motornya, harus menunda keberangkatannya ke kampus. Duduk di sebuah kursi kayu seraya menatap tetesan - tetesan hujan di teras rumah. Bu Amina keluar seraya membawa secangkir teh hangat dan pisang goreng yang masih mengepulkan asap. "Kenapa gak naik taksi aja, bang?" tanya ibu Sian seraya meletakkan nampan berisi secangkir teh dan sepiring pisang goreng di atas meja bulat dan ikut duduk di kursi yang berada di samping Sian. "Ongkos taksi makin mahal, bu. Sian bisa hemat sampai lima puluh ribu kalau ke kampus nya pake motor." Ibu Amina nampak tersenyum. Entah ia harus sedih atau bangga. Sian begitu dewasa dan juga tidak boros. Sebisa mungkin, ia menghemat uang yang ia punya. Karena selain untuk keperluan kuliah semester akhirnya yang menguras dompet, ia juga punya ibu dan adik - adik yang harus ia biayai. "Yaudah, nanti ibu belikan abang jas hujan, ya." Sian menggelengkan kepala. "Gak usah, bu. Uang yang ibu punya pakai buat keperluan sehari - hari sama sekolah adek - adek aja," tolaknya seraya mengunyah gigitan pisang goreng yang barusan ia ambil dari piring. "Nanti Sian beli jas hujan dari gaji kerja di kafe aja, bu." Bu Amina nampak mengangguk. Hujan nampak berangsur - angsur reda. Tetesan - tetesannya nampak mengecil dan melambat. "Kayaknya, hujannya udah mau reda. Kalau gitu, abang pamit ya, bu," ucap Sian seraya bangkit dari kursi. Setelah menghabiskan satu pisang goreng dan meneguk teh yang ada di gelas putih itu sampai setengah gelas. Diraihnya tangan kanan sang ibu. Lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut seraya mengucapkan salam. "Wa'alaikumussalam, hati - hati bang," balas bu Amina seraya tersenyum menatap anak lelakinya itu. Sian mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan perkarangan rumah bersama motor maticnya. Membelah jalanan kota Argon yang nampak basah di berbagai sudut jalannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD