Prolog

345 Words

"Dalam hidup itu kita harus memilih, bukan sekedar mengikuti alur yang akan ditentukan."

- Airin Fernandan.

***

Seorang gadis dengan pakaian berwarna hitam dan tampilan sexy memasuki sebuah club malam. Di dalam sana terlihat banyak sekali manusia yang menggoyangkan pinggulnya diiringi musik DJ.

"Airin!!" pekik seorang gadis sembari melambaikan tangannya.

"Deska? lo kapan nyampenya di LA?" tanya gadis yang memiliki nama Airin itu.

"Tadi pagi sih nyampenya. Lo ngapain di sini?" tanya Deska, gadis dengan dress di atas lutut yang menampilkan kaki jenjangnya.

"Biasa lah." Airin memesan minuman pada Bartender di hadapannya.

"Gila, sebulan gak ketemu lo tambah cantik aja tuh muka," puji Deska.

"Bisa aja lo," ucap Airin, sembari mengambil minuman pesanananya.

Gadis bersurai hitam legam itu pun meneguk habis secangkir red wine yang dipesannya. Bunyi dentuman musik memenuhi indra pendengaran siapapun yang memasuki club tersebut.

"Tumben gak ke dance floor?" tegur seorang pria berambut blonde.

"Gue lagi gak minat."

"Drettt ... Drett!" 


Bunyi getaran ponsel milik Airin mengangetkannya. Gadis itu pun segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas bermerek gucci miliknya. Sebuah nama tertera di layar ponsel miliknya. Mommy. Itulah nama yang tertera di layar ponselnya itu.

Airin pun buru-buru mengangkat panggilan masuk dari Ibunya, karena jika terlambat maka macan akan mengaum.

"Halo, Mom."

"Halo, Rin. Kamu di mana sih? Kok berisik banget," ucap wanita di seberang sana.

"Mampus gue," batin Airin.

"Oh ini Mom, Airin lagi di pesta ulang tahun teman Airin," dusta Airin.

"Oke. Itu, Mommy mau bilang kalau kamu harus pulang minggu depan ya?"

Airin mengernyitkan dahinya, baru kali ini Mommy-nya menyuruh untuk pulang. "Memangnya kenapa, Mom?"

"Nggak, kita cuma kangen sama kamu. Sekali-kali pulang dong liburan."

"Hm, oke Mom. Nanti Airin usahakan pulang minggu depan."

"Oke, see you sayang," ucap wanita di seberang sana.

Panggilan pun terputus. Airin merasakan hatinya bimbang kali ini. Ia tak tahu harus memilih pulang atau bagaimana. Ia sebenarnya rindu dengan keluarga dan negerinya di sana. Tapi, dia juga berat meninggalkan kehidupannya di Amerika.

Airin menghembuskan napasnya kasar, ia akan memilih pulang untuk berkumpul bersama keluarganya. Bagaimana pun keluarga adalah yang paling utama.
****

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd