Adit menatapku kesal karena aku mengenakan gaun belahan d**a rendah, tanpa lengan dan di atas lutut. “Kamu mau menarik perhatian mantan kekasih berengsekmu itu?” katanya pedas. “Emangnya kenapa kalau aku pakai gaun ini. Aku suka kok. Nggak ada masalah kan lagian Aksa itu sekarang suami Melanie.” Aku keukeuh nggak mau ganti gaun ini. Entah kenapa aku merasa ingin mengenakannya. Aku jarang sekali mengenakan gaun terbuka seperti ini. Hening. Adit hanya menatapku dalam kediamannya. “Apa yang kita tunggu?” tanyaku. “Aku nggak bisa pergi saat mata pria lain tertuju sama kamu, Nik.” Kenapa perkataannya seperti orang yang cemburu aja sih? “Ganti gaunmu dengan yang lebih sopan atau kita nggak akan pergi.” Aku meliriknya tajam. “Aku nggak minta datang ke nikahan Aksa

