“Aku nggak mau diganggu!” “Kamu dengar, Dit, ayo kita keluar.” “Aku nggak mau. Aku harus bicara sama Arunika.” “Aku nggak mau diganggu!” ulangku lebih kerasa dari sebelumnya. Aku dan Adit bertatapan untuk beberapa detik sebelum berpura-pura fokus pada laptopku. “Nik,” panggilnya. Aku mengabaikannya. “Dit, kamu bisa bicara nanti di rumah. Di sini kamu Cuma buat Arunika jadi bahan gibahan. Ayo, kita keluar dan biarkan skandal ini reda dulu.” Mereka berdua keluar dari ruanganku. Sebuah pesan datang dari nomor asing. Nik, ini aku Melanie. Bisa kita ketemu malam ini? Aku mau minta ma’af. Aksa menemuiku siang tadi dan Melanie mengajakku bertemu nanti malam. Apa-apaan ini? *** Aku baru aja mengolesi bibirku dengan lipstik warna nude saat Adit masuk ke kamarku. Dia mena

