2. Bertemu

1404 Words
Aku ingin berteduh dalam damai senja ini. Tapi, mengapa tak kau biarkan hati merasa tenang? ** Matahari menyerang kota dengan sangat terik. Perjalanan dari Jakarta sudah cukup membuat seorang gadis cantik nan mungil yang bernama Anindhiya Putri Talita mendengus kesal, apalagi sahabatnya dengan tidak punya hati malah tertidur di samping dan belakangnya yang lelah menyetir sedari tadi. Anindhiya atau yang kerap disapa Dhiya sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan kegiatan pramuka dan untuk pelatihan mental yang di adakan oleh sekolahannya. Yang Akan dipimpin langsung oleh para Tentara Angkatan Udara. Sebenarnya, kalau sudah menyangkut udara, nyali Dhiya akan menyusut. Dhiya adalah seorang wanita yang memiliki fobia akan ketinggian karena suatu peristiwa yang terjadi dimasa lalunya. Kalau bisa menolak Dhiya akan melakukannya. Namun, dia tak memiliki kuasa karena dia bukan anak kepala sekolah apalagi anak pemilik sekolah. Kegiatan ini adalah kegiatan penting yang harus di lakukan oleh semua siswa dan siswi SMA GARUDA JAKARTA yang mengikuti extrakulikuler Pramuka. Sebuah kegiatan emas menurut teman-temannya. Namun, tidak menurutnya. "Mau buat gue pingsan ditengah-tengah terjun? Atau mau buat gue mati mendadak karena saking takutnya ngadepin ketinggian? Come on Dhiya lo masih muda! Masih banyak cita cita yang harus lo raih dulu." gerutu Dhiya ditengah lelahnya menyetir. Bukan hanya lelah menyetir dia juga harus memutar otaknya memikirkan bagaimana caranya Dhiya terhindar dari pelaksanaan paralayang. Meskipun akan di lakukan bersama para senior tetapi Dhiya masih merasa waswas dan takut yang berlebih dalam hatinya. "Cetek banget sih pikiran gue," sambungnya kembali. "Tau gini gue sendiri aja. Huh, dasar teman laknat yah kalian." gerutu Dhiya kembali sambil melirik kearah dua temannya yang sedang terlelap dengan damai disaat panas-panasnya perjalanan. "Kalau bukan sahabat, udah gue tendang kalian dari mobil ini, kalau perlu gue ceburin ke segitiga Bermuda." Selama perjalanan Dhiya terus menerus menggerutu sendiri. Teman-teman yang lainnya menggunakan BIS. Sedangkan ia, lebih memilih membawa mobil pribadi. Awalnya guru menolak karena Dhiya masih di bawah umur untuk mengendarai mobil dengan jarak jauh. Namun, Bukan Anindhiya namanya kalau dia kalah untuk berdebat, karena nyatanya dia sudah mempunyai SIM. Dengan segala rayuan dan sedikit penjelasan akhirnya guru pun mengizinkan. Namun dengan satu syarat, Dhiya harus mengikuti kegiatan selama 10 hari tanpa ada alasan apapun. Dan dhiya menyanggupinya. Gila! Benar Gila bukan? ** Sangat terasa lelah karena menyetir seorang diri, akhirnya Dhiya dan Rombongan sampai di Villa yang menghadap langsung ke arah lautan. Di sinilah Dhiya dan teman-temannya berada, kota dengan julukan 'Hawaii Van Jabar'. Dari sini Dhiya akan menjalani tugas dengan para Tentara tua, yang menurutnya akan sangat membosankan. "Oke anak-anak. Acara akan di mulai besok, jadi buat kalian. Silahkan beristirahat Di Villa yang sudah disiapkan." terang bu Rini selaku panitia acara. "Baik bu," jawab serentak siswa-siswi SMA GARUDA. Dhiya segera mencari nomor kamar dan nomor Villa yang sudah guru beritahukan lewat selembar kertas. Setiap Villa Sudah di bagi dan satu kamarnya akan diisi oleh tiga sampai empat orang. Dhiya mendapatkan Villa yang paling ujung. Di sini terdiri dari lima Villa, tiga villa untuk siswa, satu villa untuk guru dan satu villa nya lagi untuk para tentara, masing masing villa mempunyai dua lantai. Dhiya, Siska dan Indah masih mencari kamarnya. Ada yang aneh dengan villa ini. Bukan! Bukan aneh karena berbau mistis tapi teman-teman yang lainnya tidak ada disini. Mereka seperti tidak satu villa dengan teman yang lainnya. Mereka bertiga segera bertukar pandangan, seolah-olah berbicara lewat tatapan matanya, 'Kita bertiga Dikucilkan begitu?' "Oh ayolah cuman kehabisan kamar aja, lagi pula ini pasti akan sangat menyenangkan, bukan?" ujar Dhiya yang di angguki kepala pasrah oleh Siska. Mereka bertiga Akan tinggal satu rumah bersama guru atau .. Tidak mungkin dengan para tentara. Tapi itu bukan masalah bagi Dhiya . Dengan begitu, dia bisa menghembuskan nafasnya lega karena tidak akan mendengar suara kebisingan yang di ciptakan oleh teman yang lainnya. Ada untungnya juga. "Kita serasa dikucilin tau" rengek indah dengan nada manjanya. "Seru kok sepi kayak gini, jadi gak ada yang bakal berisik." jawab Dhiya santai sambil membereskan barang barangnya ke lemari yang telah di sediakan oleh pihak villa "Seru gimana hah? Lo kenapa sih dhi gak suka keramaian?" tanya Indah jengah yang memang tak habis pikir dengan sikap Dhiya yang tidak suka ramai. Untung Dhiya tidak irit bicara dengannya kalau sampai itu terjadi. Mungkin dhiya tidak akan mempunyai satu orangpun teman. "Buat apa ramai. Kalau gue masih aja ngerasa sendiri!" jawab Dhiya enteng. Hening Indah dan Siska tahu pasti jawaban yang akan di lontarkan Dhiya akan begini. Entah apa yang membuat Dhiya seperti itu, untuk alasan pastinya mereka tak tahu. ** Dengan memakai sepatu kets putih, rok, baju blous putih dan kerudung berwarna mocca. Mampu membuat Dhiya terlihat sangat cantik. Apalagi wajahnya tidak memakai make up sedikitpun, topi pantai dan kacamata yang bertengger indah membuat kesan kecantikan dan modis tersendiri baginya. Semilir angin sore hari mampu menciptakan kesejukkan di laut. Matahari yang sudah berada di ufuk barat mengguratkan senja berwarna jingga. Pohon-pohon besar yang ada di samping belakangnya membuat Dhiya tidak ingin beranjak dari duduknya. Nyaman, aman, dan tentram itulah yang sekarang Dhiya rasakan. "Bunda dimana? Dhiya pengen ketemu bunda?" lirih Dhiya dengan suara pelan. Tesss Satu bulir air mata jatuh langsung dari kelopaknya. Sosok bunda? Adalah pelukan yang Dhiya nantikan sejak dulu, kasih sayang yang Dhiya ingin dapatkan dari seseorang yang sering teman-temannya panggil bunda, suapan manja, jalan-jalan bersama. Itulah yang Dhiya inginkan dari dulu. Dimana bundanya? Dhiya sangat ingin memeluknya detik ini juga. "Ayah bilang bunda sedang jalan-jalan saja dan nanti pasti kita akan bertemu" lirihnya kembali, "Namun, sudah 17 tahun aku ada di dunia kenapa aku belum juga ketemu bunda" sambungnya dengan isak tangisnya "Hay, boleh ikut duduk disini?" Dhiya melirik, pemuda itu memakai masker dan nampak gagah memakai celana army dan baju putih polos pendek yang meminta izin untuk duduk di sampingnya. Dhiya segera mengusap kasar air matanya, lalu mengangguk. Mana bisa Dhiya menolak duduk bersama, toh hanya duduk. "Laut pun ikut sedih kalau ngelihat bidadarinya nangis" ucap pria itu tiba tiba. Pipi Dhiya langsung bersemu sambil menahan senyumnya. "Dan kamu tau gak? Ternyata bukan hanya kepiting yang wajahnya merah manusia juga ada kok." lanjut laki laki barusan. Dhiya yang merasa tersindir dan terpojokkan pun langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya "Om apaan sih, sok kenal sok dekat banget, dasar buaya ijo!" ucap Dhiya ketus. Jauh dalam lubuk hatinya, dia merasa senang. "Kok buaya ijo sih?" tanya seorang pria itu. "Ya, abisnya kan pake celana ijo." jawab Dhiya ngasal. Membuat laki-laki itu terkekeh pelan. "Arkana Wiratama" ucap pemuda itu memperkenalkan dirinya. Dhiya segera memandang kesamping tepat laki laki itu duduk. Dhiya hampir saja melompat seperti melihat hantu. Bukan. nyatanya bukan hantu, tetapi disampingnya ini tengah duduk sosok pangeran yang menjelma menjadi manusia. Bagaimana tidak dikatakan pangeran wajahnya saja semakin kelewatan tampan bak dewa apalagi wajahnya yang tersorot sinar matahari terbenam. "Hmmm" Dhiya berdehem, guna menetralisir degup jantung nya yang berdetak lebih cepat. Dhiya buru-buru memalingkan mukanya dan menghadap lagi ke arah depan, melihat matahari yang beberapa menit lagi akan terbenam di ujung laut. Memandangnya dengan khidmat, meskipun perasaanya tak karuan karena di temani pemuda tampan. "Dan nama mu?" suara berat itu. menyadarkan dhiya dari lamunannya "Ah iya om. Nama ku Anindhiya" jawab Dhiya dengan sedikit gugup. "Kenapa nangis?" tanya Arkan. Namun, pandangan Dhiya masih tetap lurus ke depan. Ia enggan melirik kembali, takut. Ya, takut jika dia terpesona. Dhiya hanya diam dan tidak mau menjawab pertanyaan dari lelaki yang barusan ia sebut sebagai Om. Bercerita? Tentu tidak akan. Karna Dhiya tipikal orang yang suka memendamnya sendiri, lagi pula pemuda yang ada di sampingnya adalah orang asing. "Percuma saja, cerita gak cerita pun semuanya akan tetap sama, bukan?" jawab Dhiya masih dengan menatap lurus kedepan. "Yasudah. Saya tau, kamu tidak akan mau bercerita pada orang asing seperti saya" jawab Arkan tepat sasaran, "Kalau begitu, saya pergi dulu ya." sambungnya. Dhiya mengangguk kecil, terbesit perasaan tak rela kala laki-laki yang bernama Arkan itu berdiri dan mulai melangkah pergi. "Sebentar lagi magrib cepat balik ke villa. Nanti di culik Jun lagi." ujar Arkan sedikit berteriak. Sontak saja Dhiya segera berdiri dan sedikit berlari menyusul Arkan. Karena memang beberapa menit lagi adzan magrib akan berkumandang. "Kok Jun sih? Emangnya ada?" tentu saja, pertanyaan Dhiya mengundang tawa Arkan. "Jin nya lagi cuti." jawab Arkan singkat. Dhiya menyamai langkahnya dengan Arkan, membuat dia meperkecil langkahnya. "Om cenayang ya, kok tau sih aku tinggal di villa." tuduh Dhiya kepada Arkan. Arkan hanya terkekeh pelan dan terus berjalan menghiraukan beberapa pertanyaan dari mulut wanitanya. Ah ralat sejak kapan Arkan meng-klaim bahwa Dhiya adalah wanitanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD