"Lo beneran nggak sekolah?"
Pagi-pagi, Rian sudah siap dengan seragam batik sekolahnya. Dia selalu rapi dan wangi. Rambutnya tertata seperti seorang taruna, gagah, tetapi lembut dalam berbicara.
"Gue mau ke rumah, Seira. Mau datengin mama sama papanya."
"Lo nggak takut?" Rian sebenarnya agak cemas apalagi melihat bekas luka di wajah Amam.
"Gue takut, tapi ini harus gue jalanin sebagai laki-laki. Berani berbuat, berani bertanggung jawab."
Rian melemparkan senyumnya kepada Amam. Kemudian, ia menepuk pundak sahabatnya. "Gue yakin semuanya akan berjalan baik. Allah selalu bersama kita."
Atas ucapan Rian barusan, Amam mengangguk.
"Ya udah, gue sekolah dulu. Ibu udah nyiapin sarapan buat lo, jangan lupa makan, ya?"
Lagi-lagi Amam mengangguk. "Ya udah sana, lama amat briefing-nya."
Rian terkekeh sekilas. Ia lalu berbalik badan dan memutar kenop pintu. Ia meninggalkan Amam sendirian di kamarnya.
Setelah ditinggal pemilik kamar, Amam mengembuskan napas. Dia membayangkan akan jadi apa dia beberapa waktu ke depan. Bagaimana jika nanti dia dan Seira menikah, apakah hidup mereka bahagia?
Menjadikan Seira istri adalah salah satu rencana jangka panjang yang Amam buat. Dia sangat mencintai perempuan itu dan dia tidak keberatan menjadi suaminya. Yang justru menjadi masalah adalah bagaimana di usia mereka yang teramat belia ini, mereka harus hidup sebagai orang tua.
***
Sonya bangun tidur agak kesiangan. Dia sudah berencana untuk bolos demi menemani Amam menemui orang tua Seira. Begitu gadis itu membuka gorden di pintu balkon, Sonya menggeleng takjub melihat mobil Arkan masih ada di halaman.
"Mama benar-benar gila. Dia udah berani bawa nginep cowok gatal itu ke rumah pas Papa nggak ada."
Meski Artar dan Sila sama-sama selingkuh, Sonya lebih memilih papanya daripada mama. Artar memang resek dan tidak mau mengalah, tetapi Artar bisa mengambil sikap yang layak sebagai orang tua. Artar tidak pernah membawa selingkuhannya ke rumah. Artar lebih suka pergi berkeliaran dari rumah dan mencicipi perempuan-perempuan di luaran sana. Secara lebih jelas, Sonya lebih senang menyebut papanya gatal ketimbang berselingkuh. Soalnya, Artar tidak pernah menjalin hubungan khusus dengan perempuan, dia hanya suka berpetualang dan jajan di luar.
Sonya terkadang jijik dengan Sila. Mamanya itu berpendidikan, tetapi mengapa melakukan hal bodoh begini? Dan yang menyakitkan, mama dan papanya bersikap seolah hubungan mereka wajar dan dapat diterima.
Sonya akhirnya memutuskan untuk membuka ponselnya dan menghubungi Amam.
"Assalamualaikum." Sonya berkata lebih lembut pagi ini meskipun di telinga Amam tetap terdengar nyolot.
"Waalaikumussalam," sahut Amam
"Jadi nggak, Bang?" Tanpa tedeng aling-aling Sonya langsung menembak pertanyaan.
Amam diam sejenak, membuat Sonya mengerutkan alis.
"Bang?"
"Sonya, kayaknya gue sendiri aja deh yang ke rumah Seira."
Kening Sonya berkerut semakin dalam. "Lah, kenapa? Lo nggak percaya sama gue?"
Amam menggeleng meski hal itu tidak bisa dilihat oleh Sonya. "Bukan itu. Gue ngerasa lebih nyaman aja kalau datang tanpa lo. Ini masalah gue, Sonya. Gue mau nunjukin ke orang tuanya Seira kalau gue sungguh-sungguh."
Sonya sebenarnya ingin sekali menemani Amam. Dia takut abangnya diserang lagi. Tetapi dia tahu kapasitasnya dan dia tidak bisa terus mencampuri urusan Amam.
"Tapi lo janji semuanya akan baik-baik aja, kan?"
Meski saat ini mereka tidak bertatap muka langsung, tetapi Sonya tahu saat ini Amam sedang kebingungan.
***
Seira mengunci diri di kamarnya. Dia merasa keberadaannya sekarang hanya membuat keruh suasana. Papanya sedang ada masalah kantor, juga bermasalah dengan kabar kehamilan dirinya.
Andaikan dia bisa lebih cerdas dalam menjalin hubungan dengan Amam mungkin tidak akan terjadi hal-hal semacam ini.
Di sisi lain Acel berusaha terlihat tenang meski pikirannya kalut. Dia adalah laki-laki, dia adalah pilot di keluarga ini. Jika ia panik dan hilang kendali keluarga mereka bisa berada dalam bahaya. Namun, Acel juga manusia. Saat ini ia merasa pesawatnya sudah rusak dan ia kesulitan untuk memegang kendali. Setelah Anto pergi, Acel hanya terdiam di ruang tamu, mengurut cuping hidungnya, dan mencerna semua kemungkinan. Usahanya terancam gulung tikar dan dia akan kehilangan semuanya.
Hal yang paling membuat Acel pusing adalah nasib Seira. Dengan masalah yang ia hadapi saat ini, bagaimana mereka bisa pindah dan menutupi kehamilan Seira? Belum lagi jika ia harus menutupi kerugian lalu kehabisan uang, semua rencana harus dibatalkan. Lalu nasib Seira bagaimana? Seorang gadis 16 tahun hamil tanpa suami. Apa yang akan dipikirkan orang-orang?
Septi datang membawakan teh buat Acel. Dia sudah mendengar kabar itu. "Minum dulu, Pa. Semuanya akan baik-baik aja."
Acel tidak mendengarkan betul apa yang Septi katakan, ia sedang tidak fokus.
"Papa bisa jadi sutradara lagi, kan, kayak dulu. Jangan kayak dulu."
"Ma, ini bukan cuma perkara jadi sutradara atau nggak jadi sutradara. Ini masalah kredibilitas. Kalau kebakaran ini adalah bentuk sabotase, nama Papa akan ikut buruk, Ma. Belum lagi kehamilan Seira kebongkar, abis kita, Ma."
Tak berselang lama, Amam dengan motor bebeknya datang dan memarkirkan kendaraan itu di halaman rumah Seira. Dia menelan ludahnya berkali-kali. Kaki dan tangannya dingin seolah ingin diinterogasi padahal dia sendiri yang memutuskan ini. Bayangkan saja, dia harus menemui orang tua dari perempuan yang ia hamili. Mana perempuan itu adalah Seira, seorang anak dari keluarga baik-baik, tidak kekurangan harta dan kasih sayang, pintar, dan religius.
Saat melangkahkan kaki Amam sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu Acel membacok lehernya. Dia ikhlas menerima konsekuensi tersulit.
"Assalamualaikum." Dengan jaket kulit cokelat yang menutupi kemeja putih, celana jins hitam, dan sepatu putih, Amam berdiri di depan rumah. Dulu saat situasi masih baik-baik saja, Acel dan Septi akan menerima kedatangannya dengan hangat. Mereka tak segan memuji Amam. Namun, sekarang sudah berubah. Dia membuat dua orang baik itu kecewa.
Dari suaranya saja Acel sudah tahu siapa yang mengucapkan salam. Begitu ia menoleh ke arah pintu, ia melihat Amam yang datang. Darah Acel langsung naik ke ubun-ubun. Dia tidak pernah bisa menerima perbuatan Amam.
Septi yang kaget melihat kehadiran Amam, tampak gentar ketika Acel berdiri dan berjalan mendekati Amam. Septi mengikuti Acel di belakang.
"Ngapain kamu ke sini?!" Acel melotot sambil mengepalkan jarinya. "JAWAB!"
"O-om, s-saya ingin menyampaikan sesuatu." Keringat Amam mengalir besar-besar.
"Menyampaikan kalau kamu sudah merusak masa depan anak saya?! Merusak kepribadian anak saya?! Memperalat anak perempuan yang sudah saya jaga sejak kecil? Itu yang mau kamu sampaikan."
"Pa, sabar." Septi menggenggam tangan Acel yang mengepal. "Amam, apa kepentingan kamu datang ke sini? Belum cukup merusak keluarga kami, Amam?" Meskipun emosi, Septi jauh terlihat lebih tenang ketimbang Acel.
"S-saya berniat menikahi Seira." Akhirnya kalimat itu lolos dari mulutnya. Kontan membuat Acel dan Septi kaget.
"Menikahi anak saya?!" Acel melepas tangannya yang digenggam oleh Septi lalu ia gunakan untuk mencengkeram kerah baju Amam. "Anak 16 tahun bicara soal menikah?!"
"Pa, jangan gitu sama anak orang," ujar Septi refleks melihat Acel tampak sangat geram dengan Amam.
"Siapa yang peduli dia anak siapa? Dia juga nggak peduli saat tidurin Seira, dia nggak peduli nasib orang tuanya, dia nggak peduli nasib kita juga di rumah. Saat kita mendoakan kebahagiaan buat anak kita, saat kita mendoakan anak kita menjadi anak yang solehah, mereka justru main di ranjang tanpa ingat kita." Acel berkaca-kaca, suaranya bergetar.
"Lima tahun saya dan Septi menunggu dikaruniakan seorang anak. Saat Seira lahir, kami jaga dia, kami penuhi kebutuhannya. Saya yang nggak ada bakat jadi sutradara belajar jadi sutradara. Saya kerjakan apa pun mulai dari tukang bersih-bersih di lokasi syuting sampai dikenal seperti sekarang. Kamu nggak tahu itu kan, Amam?"
Amam tidak tahu hal itu. Ia tidak pernah memikirkan orang tua Seira sejauh ini. "Tapi saat dia sudah tumbuh besar, kamu bawa dia dalam dunia kamu. Kamu buat dia terperdaya, kamu manfaatkan dia buat menuhin nafsu kamu saat dia hamil. Kenapa harus anak saya Amam? Kenapa harus anak sebaik Seira yang kamu hamilin?!"
"Pa, maafin, Amam."
"JANGAN PANGGIL SAYA PAPA LAGI! SAYA KECEWA SAMA KAMU!"
Bahkan rasanya pukulan Acel kemarin lebih baik daripada kata-kata yang Acel katakan barusan.
Kekecewaan Acel berada pada satu titik hingga ia mempertanyakan mengapa anak semuda mereka dengan mudah hamil dan menghamili. Dia dan Septi dulu mati-matian untuk dapat anak mengapa Seira dan Amam semudah ini.
Seira yang mendengar keributan turun dari kamarnya. Dia menyaksikan apa yang terjadi di teras depan.
Acel menarik kerah Amam hingga lelaki itu kesusahan bernapas lalu dengan sekali hentak dia mendorong Amam dengan kuat ke depan. Tepat saat itu, Seira berlari menghampiri Amam, membantu Amam untuk duduk. "Pa, ini bukan salah Amam aja. Ini juga salah Seira. Kenapa Papa nggak marahin Seira? Kenapa Papa nggak nampar Seira? Dari kemarin Seira bilang kalau Papa mau marah dan menghukum Seira, lakukan itu ke Seira!"
Acel terdiam, ekspresinya dingin. "Kamu tahu, Seira, itu karena Papa udah sangat KE-CE-WA sama diri Papa sendiri. Sampai-sampai Papa ngerasa buruk untuk jadi papa kamu apalagi kalau sampai harus menghukum kamu. Saat kamu mau bunuh diri, kamu tahu dunia Papa udah berhenti berputar? Dan kamu masih nanya kenapa Papa melakukan itu?"
"Papa sayang sama kamu, Seira. Meskipun rasa sayang kamu ke lelaki baji*ngan ini jauh lebih besar daripada rasa sayang kamu ke Papa. Sampai kamu berani melakukan hal seperti ini."
Sepersekian detik, air mata Seira menetes. Kalimat barusan membuat perempuan itu tertohok begitu keras.
"Sekarang terserah kamu. Kamu mau nikah sama dia? Silakan! Jalani hidup kamu sendiri. Saat ini kalian ngerasa udah cukup dewasa, tapi saat kalian tahu dunia nyata sebenarnya, kalian akan sadar bahwa 16 tahun itu masih terlalu hijau untuk menjalankan kehidupan yang berat ini."
Acel memutuskan untuk balik badan dan meninggalkan mereka.
Septi, Seira, dan Amam seperti membeku di tempat. Ini adalah kalimat terpanjang yang Acel ucapkan. Dan, semuanya memedihkan.