Putus Asa

1551 Words
Sejak hari itu intensitas pertemuan Amam dengan Nayla menjadi semakin intens. Gadis itu tetap menjaga jarak, tetapi kalau butuh sesuatu pasti Amam lah yang ia mintai tolong. Nayla menganggap Amam sudah seperti kakaknya. Amam juga terus memperbaiki diri, mengaji di mushala, jadi muadzin, bahkan jadi imam. Dia sering bertanya kepada Bang Rahman, ayahnya Rian, dan sekarang nambah satu lagi yaitu Pak Wawan. Semangat belajar Amam sangat tinggi. Suaranya yang bagus terdengar menggetarkan saat ia adzan. Usai salat zuhur, Seira kembali ke kelasnya. Lalu seorang perempuan menegurnya. "Mbak! Ini penitinya jatuh." Suaranya terdengar familier. Seperti suara perempuan yang menanyai keadaannya di toilet kemarin. Saat Seira menoleh, yang dilihatnya ada gadis cantik yang kemarin dibonceng oleh Amam. Nayla menyodorkan peniti kepada Seira. "Ini, Mbak." Tanpa ba-bi-bu, Seira mengambil peniti itu dan berkata, "Terima kasih." Ia lalu buru-buru berlalu sambil menahan perasaannya yang tak enak. Merasa diabaikan, Nayla agak kebingungan. "Kok dingin, sih?" *** Seira menulis sesuatu di bindernya. Aku memang pernah melakukan kesalahan, dan sekarang adalah waktu untuk menerima balasannya. Menjadi wanita itu sulit. Teledor dalam menjaga kehormatan diri, dampaknya sangat besar. Sedangkan lelaki? Dia mungkin saja pergi tanpa jejak dan semua kesalahannya bisa dihapuskan oleh semua orang. Dia bisa menemui perempuan lain, perempuan yang baik, yang ia idamkan. Sedangkan perempuan yang melakukan kesalahan itu? Hidup dalam aib. Bahkan anak yang seharusnya menjadi anugrah, entah mengapa justru seakan menjadi hukuman bagi perempuan tadi. Nak, Mama menulis ini saat dunia Mama sedang tidak baik-baik saja. Mama tidak tahu harus melangkah ke mana, lewat apa, bersama siapa? Rasanya kaki Mama lumpuh dan semesta menjadi gelap, Mama buta. Jika suatu hari nanti dunia ini berbuat jahat padamu, genggam tangan Mama. Biarkan Mama yang hadapi. Semoga Allah mengampuni dosa Mama dengan keteguhan hati ini. Untuk Seira yang suatu hari menjadi ibu, melepas masa remajamu, meninggalkan teman-temanmu, bahkan mungkin masa depanmu. Bertahanlah demi satu manusia di dunia ini. Anakmu yang akan membawamu ke surga. Saat jam pelajaran dimulai dia menutup bindernya tanpa memasukkan kertas ke pagar besi binder tersebut. Seira bertekad untuk mengabaikan nama Amam di dalam daftar karena ia merasa Amam sudah tidak diharapkan lagi. Daripada sakit hati, lebih baik begini. Tetapi realita tidak seindah catatannya. Seira tetap membutuhkan Amam. Bagaimana pun lelaki itu ayah dari anaknya. Seira tidak bisa melalui semuanya sendiri. Dari jauh, Amam memperhatikan Seira. Dia ingin menanyakan sesuatu tetapi ia takut hanya akan membuat masalah. Saat pelajaran selesai, semua siswa bergegas mengangkut tas dan meninggalkan memori pelajaran hari ini. Amam memberanikan diri untuk menghampiri Seira. "Sei." Seira menoleh ke belakang saat Amam menepuk pundaknya. Dia sebenarnya agak kaget tetapi dia bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. "Ada apa, Mam?" "Emmm, anu." Amam menggaruk tengkuknya. "Kamu ... Apa kabar? Jilbabnya bagus." Seira tidak berekspektasi Amam akan menanyakan pertanyaan tidak penting itu. "Alhamdulillah. Udah kan itu aja? Aku duluan ya, Mam. Assalamualaikum." "Wa-waalaikumussalam. E-eh." Namun, Seira sudah memanjangkan langkah kakinya sambil memeluk binder dengan langkah terburu-buru. Dia tidak tahan melihat Amam di dekatnya. *** Amam menciumi seluruh tubuh Seira dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia tampak lihai. Gerakannya lembut dan sentuhannya presisi, tepat pada titik-titik yang membuat Seira harus menahan suaranya. Di kamar kos Amam yang tak begitu luas itu mereka harus terbiasa meredam suara meski kenikmatan yang menjalar sudah memenuhi ruang di kepala. Mereka bisa saja menjerit sekencang-kencangnya jika tidak mempedulikan situasi. Namun, mereka bisa mengendalikan itu. Permainan hangat atau bahkan panas itu usai dalam beberapa belas menit. Seira menutupi tubuhnya dengan selimut dan mengoleskan lehernya dengan foundation. "Amam ih kalau ketahuan sama Papa gimana nih leherku." Seira bercermin, melihat bekas ciuman ganas Amam di lehernya. "Pakai jilbab lah, nggak bakal kelihatan. Ini kamu nyakar aku, nggak ada protes tuh." Amam membuang asap rokok dari mulutnya sambil duduk di ujung kamar. Dia hanya mengenakan celana dalam. "Is Amam. Jilbab tu buat aurat ya bukan buat nutup cupang." "Ya sekalian sih, Sei. Nggak usah ribet dah. Sama-sama enak juga. Lebay." Dalam hati Seira sebal dengan sikap Amam yang terkadang suka semena-mena. Tetapi ia berusaha maklum, dia menerima apa pun kekurangan Amam. "Amam sebenarnya anggap Seira apa, sih?" Naluri wanita emang selalu ingin dimanja dan diperlakukan manis, begitu juga Seira. Mendengar pertanyaan itu Amam sadar bahwa ada yang tidak beres. "Seira kenapa tanya gitu? Seira segala-galanya buat Amam. Kamu tahu sendiri." "Tapi kadang Amam kalau habis itu nggak ngasih perhatian ke aku. Aku bukan alat lho, Mam, yang bisa dipakai doang. Aku punya perasaan." Meski Seira tampak cuek tetapi Amam tahu Seira tersinggung. Amam lalu meletakkan puntung rokok ke asbak dan berjalan merangkak menuju Seira. Ia menggosok-gosokkan rambutnya ke paha Seira seperti anak kecil. "Maafin Amam." Ia lalu berbaring di paha Seira dan menatap perempuan itu dari bawah. "Jangan tanya arti Seira di hidup Amam. Kamu bukan alat, kamu adalah Seira yang selalu bikin Amam senang." Tangan Seira tertuntun untuk menyentuh rambut Amam. "Gombal." "Ih enggak ya. Aku Amam jujur." "Awas aja kalau kamu ninggalin aku." "Nggak bakal, Sei. Apa pun akan aku lakukan buat Seira. Kamu kan calon ibu dari anakku nanti." Seira lalu terbangun di tengah malam. Kenangan itu mengusik otaknya, saat ia dan Amam masih bersama. Seira menekuk lututnya dan menenggelamkan kepala di sana. Rasanya kehangatan itu masih bisa ia rasakan sekarang. Dulu mereka sedekat nadi hingga akhirnya harus sejauh matahari dan bumi. Mungkin hangatnya tetap sampai, tetapi sudah berbeda. Seira sudah memblokir nomor ponsel Amam karena ia sudah terlanjur kecewa. Lagipula sebentar lagi, mau tidak mau, Seira akan keluar dari sekolah. Pelan-pelan dia akan kehilangan semuanya. Seperti remaja pada umumnya, saat terbangun tengah malam Seira juga refleks meraih ponsel di dekat bantalnya. Ia lalu melihat ada notifikasi yang cukup banyak di grup kelasnya. 'Aku memang pernah melakukan kesalahan, dan sekarang adalah waktu untuk menerima balasannya. Menjadi wanita itu sulit. Teledor dalam menjaga kehormatan diri, dampaknya sangat besar. Sedangkan lelaki? Dia mungkin saja pergi tanpa jejak dan semua kesalahannya bisa dihapuskan oleh semua orang. Dia bisa menemui perempuan lain, perempuan yang baik, yang ia idamkan. Sedangkan perempuan yang melakukan kesalahan itu? Hidup dalam aib. Bahkan anak yang seharusnya menjadi anugrah, entah mengapa justru seakan menjadi hukuman bagi perempuan tadi. Nak, Mama menulis ini saat dunia Mama sedang tidak baik-baik saja. Mama tidak tahu harus melangkah ke mana, lewat apa, bersama siapa? Rasanya kaki Mama lumpuh dan semesta menjadi gelap, Mama buta. Jika suatu hari nanti dunia ini berbuat jahat padamu, genggam tangan Mama. Biarkan Mama yang hadapi. Semoga Allah mengampuni dosa Mama dengan keteguhan hati ini. Untuk Seira yang suatu hari menjadi ibu, melepas masa remajamu, meninggalkan teman-temanmu, bahkan mungkin masa depanmu. Bertahanlah demi satu manusia di dunia ini. Anakmu yang akan membawamu ke surga.' Woi siapa nih yang nulis gini? Lu bunting apa gimana? Lah anjir punya siapa? Bocil anjir nulis begituan. Gue nemu di koridor. Kayaknya beneran ada kasus hamidun deh di sekolah kita. Inilah pentingnya memakai k****m, Ngab. Kalau hamil nggak gitu juga kali nulisnya. Lebay amat. Disimpen dalam hati kan bisa. Bocil zaman sekarang ga ngotak emang, nafsunya gede-gede tapi otaknya enggak. Seira menelan liurnya. Ia lalu melempar hp ke sembarang arah. Rasanya sangat memalukan hingga Seira ingin menghilang dari dunia ini. Mengapa ia bisa seteledor itu? *** Besok paginya di sekolah, berita tentang surat itu masih menjadi berita yang panas. Bahkan guru-guru ikut mengambil suara. Di sepanjang koridor teman-temannya membahas hal itu, membuat Seira khawatir dan malu. "Cewek mah yang mahal harga dirinya, kalau harga diri udah nggak ada, ya murahan berarti." "Bukan murahan, tapi gratisan." Perkataan cowok-cowok di koridor itu seolah menjadikan topik tentang perempuan sebagai lelucon. "Tapi lo suka kan sama cewek begituan, Yok?" "Ya suka. Suka makenya doang. Kalau buat jadi pasangan hidup, sorry deh, nggak selera." "a***y!" Lalu cowok-cowok itu tertawa yang sialnya suara tawa itu tetap terdengar di anak tangga. "Kalau lo jadi bapak anak haram itu lo mau nggak?" "Dih, dikiranya gue percaya kalau gue doang yang nyelupin? Kagak lah. Perempuan begitu mana cukup sama satu cowok." Pembahasan itu tetap mengalir hingga Seira berada di lantai atas, seolah mereka sudah merencanakannya. Tiba-tiba Seira merasa sangat ingin menangis. Ternyata dia tidak bisa sekuat yang ia rencanakan. Ia rapuh. Perasaannya semakin hancur saat melihat Amam dan Nayla mengobrol dengan cukup seru di koridor meski tidak saling tatap-tatapan. Sebelum Amam melihat Seira datang, gadis itu berbalik badan dan berlari menuju toilet. Dia ingin menumpang menangis. Seira memeperkan punggungnya ke dinding, menatap dinding di seberangnya. "Kenapa hanya perempuan yang dirugikan atas kasus perzinahan?" Seira bermonolog pada dirinya sendiri sambil mengusap-usap perutnya, dan menggigit bibir bawahnya. "Mengapa rasanya kesalahanku nggak terampuni?" *** Jack dan gengnya mulai bergerak pelan-pelan menghancurkan Seira. Dia membuat cuitan di Twitter. Lagi hamil malah diputusin, sekarang cowoknya udah ada cewek baru. Cuitan itu langsung naik menjadi bahasan baru di sekolah. Satu per satu orang men-dm Jack untuk konfirmasi. Jack memang haus atensi. Ini menjadi kabar yang menarik. Masalah semakin besar saat satu per satu orang mulai menebak dan mencatut nama Seira sebagai tersangka utama yang tentu saja berdampak secara psikologis kepada Seira. Nomor-nomor asing masuk ke ponselnya dengan pertanyaan melecehkan bahkan ada yang mengirim foto kemaluan mereka sendiri. Orang-orang bodoh itu menganggap Seira murahan. Apa yang akan terjadi pada mama dan papa jika berita ini terus menyebar? Bagaimana pun Seira akan jujur tetapi bukan sekarang. Dia butuh banyak persiapan. Yang membuat Seira sangat kecewa adalah di mana Amam saat ia sangat membutuhkan figur yang bisa mendukungnya? Lelaki itu justru sibuk sendiri dengan urusannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD