Kisah Faruq

228 Words
“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” imbuh Faruq. “Kamu tidak pantas menikah dengan perempuan itu. Sukma Wati. Dia bukan siapa-siapa. Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada seorang wanita pun juga yang bisa bersanding denganmu.” “Kamu gila. Aku tidak mencintaimu.” Faruq sudah mengepalkan kedua tangannya. Rasanya seperti bara api menumpuk di kepalanya mendengar pengakuan Cecil barusan. Belitan cinta segitiga antara Faruq, Sukma dan Cecil menyisakan penderitaan yang pelik dan terlihat tanpa ujung. Mampukah Faruq membuktikan kalau ia bukan pria yang b******k? “Tinggalkan Sukma sendiri, Bunda. Tolong padamkan lampu.” Tanpa menanti tanggapan dari Lidia, ia katupkan matanya dan menoleh ke samping. Lidia tertegun. Rasanya begitu sakit melihat penderitaan putrinya. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. “Bunda tinggalkan teh panasnya. Jangan lupa diminum. Buburnya sudah Bunda bawa.” Kalimat terakhir yang wanita itu ucapkan sebelum meninggalkan kamar putrinya. Gelap meliputi seiring pintu yang tertutup. Isakan lembut lambat laun terdengar. Tidak nyaring tapi siapa pun yang sempat mendengarnya pasti tahu kalau si empunya tangis sedang bersedih. Mungkin juga berduka. Harapannya hilang lenyap. Hati siapa yang tidak terluka jika dicampakkan begitu saja di saat janji suci perkawinan akan diikrarkan. Jika ada pertengkaran sebelumnya mungkin, Sukma akan lebih lega. Tetapi, tidak ada masalah serius di antara dirinya dan Faruq sama sekali. Apa yang terjadi membuktikan pada Sukma bahwa semua laki-laki memang tidak bisa dipercaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD