Beribu syukur tetap tak mampu menggambarkan betapa bahagianya pasangan yang saat ini sudah duduk di jok belakang mobil. Walaupun sudah sah, keduanya tetap terlihat canggung dan kaku. Bahkan Farel sebagai seorang suami dan juga laki-laki, tak tahu harus berbuat apa dalam keadaan yang begitu hening saat ini. Mulutnya seolah terkunci rapat, hingga semua kalimat yang ia susun di kepalanya, tak ada yang mampu terucap. Entah karena jalanannya yang begitu mulus atau keadaan mereka yang begitu canggung luar biasa sehingga Farel bahkan bisa mendengar detik jam yang terus berputar di pergelangan tangannya. Ini bukanlah keadaan yang Farel harapkan, tapi Farel juga tak tahu harus berbuat apa dan membuka topik pembicaraan seperti apa pada Fania. Farel sesekali melirik ke kiri. Ke arah istrinya yang s

