Bab 7

1141 Words
Hapoy reading. Typo koreksi. ___ Wanita paruh baya memasuki rumah dengan wajah sumringah, putra sulungnya yang sedang duduk di ruang keluarga mendongak menatap beliau aneh. "Eh, anak Mama sudah di rumah rupanya? Gimana hari ini ketemu klien nya lancar?" ujar beliau bertanya seraya mengambil duduk di samping putranya itu. "Seperti biasa, Ma." jawab Axell Wiradhana tanpa intonasi kepada ibunya. Maya ikut manggut-manggut sambil mengulum senyumnya. Ia menoleh sekilas sebelum beranjak pamit ingin membersihkan diri. "Mama mau mandi dulu. Oh iya, nanti ada yang mau Mama bicarain sama kamu. Jangan kabur, ingat!" Ancam beliau di akhir kalimat keras. Axel menggeleng lalu mengangguk malas. Alis Axel terangkat sekilas lalu menggedikkan bahunya kembali melanjutkan menonton berita. Di dalam kamar Maya menghubungi suaminya lebih dulu. "Papa dimana?" "Aku masih di jalan Ma. Kenapa Mama sudah pulang duluan. Papa bisa jemput Mama tadi. Mama juga kenapa mendadak banget sih bilang mau ke rumah Albert sama Kiana. Papa jadi nggak enak sama mereka." cerca Dika suaminya membuat Maya memutar bola matanya. "Papa!" pekiknya sebal. "Astaga Mama jangan teriak-teriak telinga Papa bisa budeg Ma." keluh beliau di ujung sana. "Habis Papa ngeselin. Diam dulu dong Pa. Mama ada mau cerita ini, jadi begini bla bla bla ...." Maya menceritakan semua yang ia dengar tadi sore dirumah keluarga sahabatnya. "Hah! Mama yang betul?" pekik Dika heboh di ujunv telepon. Mengangguk. "Ish, betul Pa. Anggun anak bungsu mas Albert sama mbak Kiana itu ternyata naksir Axel. Mama sudah minta Anggun jadi mantu kita." "Hahaha ya ampun, dunia sempit banget. Mama sibuk cariin jodoh rupanya, jodohnya justru dari orang yang dekat banget sama kita. Papa senang kalau kita bisa berbesanan dengan keluarga Dimitri." "Ah iya Pa. Benar banget." "Ya sudah Papa sebentar lagi sampai di rumah. Nanti kita bahas hal ini sama Axel. Papa tidak enak kalau kamu yang berbicara sama Albert sama Kiana. Mau bagaimana pun aku tetap kepala keluarga, dan kita juya harus bawa Axel. Jangan bilang sama Axel kalau kita mau ke rumah keluarga Dimitri." "Baik Pa. Ya sudah Papa hati-hati di jalan ya. Mam tunggu." "Oke Ma." Tut. Sambunganpun terputus Maya tersenyum lega, ia berharap kali ini putranya mau mencoba menjalin hubungan dengan wanita. ____ Di rumahnya Anggun menekuk wajahnya saat Kiana berdiri berkacak pinggang menatap dirinya marah. "Kamu tahu apa yang kamu ucapin tadi Anggun. Astaga Nak. Kamu itu belum kenal Nak Axel seperti apa. Kenapa kamu tiba-tiba setuju dan bikin Mommy jantungan Hah!" "Sayang sudah. Apa salahnya, kita kenal dekat dengan keluarga Wiradhana. Mas yakin, Axel bukan orang yang jahat." "Mas!" Kiana memekik melotot horor. "Kamu itu terlalu memanjakan Anggun, jadinya kaya sekarang. Apa-apa selalu bertindak sesuka hati. Anggun Mommy minta kamu pikirin lagi hal yang tante Maya minta sama kamu. Kamu juga harus ingat pendidikan kamu belum selesai, Mommy nggak mau kuliah kamu terbengkalai gara-gara urusan ini." titah Kiana bernada tegas. Anggun mendongak menatap punggung ibunya yang menjauh meninggalkannya bersama Albert ayahnya di ruang tamu. "Daddy." rengek gadis itu dibalas helaan napas ayahnya. "Sudah jangan ambil hati ucapan Mommy kamu. Mommy hanya khawatir dan sayang sama kamu. Daddy nanti bicara sama Mommy pelan-pelan ya." ujar beliau menjeda. "Kamu benar mau menikah dengan Axel. Usia kalian--" "Dad, Anggun mau cari suami yang usianya sudah matang. Daddy kan tahu sendiri, Anggun seperti apa. Anggun mau cari yang kaya Daddy atau kak Fahri. Anggun mau ada yang bisa bimbing Anggun agar lebih dewasa. Dan menurut Anggun tidak masalah mengiyakan permintaan tante Maya. Lagipula, ini baru coba berkenalan kan Dad. Anggun nggak tega lihat tante Maya sampai mikir kalau om Axel itu gay." tutur Anggun memberi penjelasan logis kepada ayahnya. Ucapan Anggun tidak sepenuhnya salah, gadis itu memang ingin mencari suami yang bisa mengayominya. Mungkin plus nya kalau dirinya bisa bersama om Axel, Anggun tidak akan bosan melihat wajah lelaki itu. "Kalau itu jawaban kamu. Daddy bisa apa? Pesan Daddy kalau kalian tidak cocok dan berjodoh, Daddy sendiri yang akan membatalkan perjodohan ini. Daddy nggak mau ada yang menyakiti hati anak Daddy. Kamu mengerti?" Anggun mengangguk antusias. "Mengerti, terima kasih Dad." Albert balas bergumam. Di lain tempat seorang laki-laki berperawakan tinggi, Axel tengah menatap datar kedua orangtuanya. Ayahnya baru pulang sekitar 10 menit yang lalu, dan dirinya sudah di ajak bicara hal yang menurutnya terlalu kuno. Dijodohkan?. What the hell. Hello, dia Axell Wiradhana, di usianya yang akan memasuki kepala empat, laki-laki yang sudah mapam dan matang, memiliki pekerjaan tetap, memiliki kekayaan sendiri atas usahanya membangun bisnis keluarganya itu rupanya masih harus terjebak dalam lingkar perjodohan yang orangtuanya rencanakan. Axel tidak ingat perjodohan ini nomor yang keberapa baginya. Karena setiap orangtuanya ingin memperkenalkannya dengan seorang wanita, lelaki itu akan mengelak dan kabur entah kemana. "Axel menolak." sahutnya setelah sekian lama terdiam masih memproses maksud ayah dan ibunya sekarang. "Untuk kali ini Mama nggak mau kamu kabur apalagi menolaknya Axel." balas Maya bernada kesal menahan geraman. Gemas, karena putranya selalu menolak perjodohan yang ia rencanakan selama ini. "Ma, Axel bisa cari sendiri. Axel masih mampu Ma." "Kapan? Kapan kamu mau cari hah!" sentak beliau. "Sampai tunggu Mama mati gitu." "MAMA." bentak Axel refleks. Lelaki itu mendesah berat. "Nah kamu sendiri nggak mau kan baru dapat istri kalau Mama sudah mati. Makanya untuk kali ini coba temui gadis ini, dia anak baik-baik. Mama yakin gadis ini cocok sama kamu yang flat kaya gini." "Mama." geram Axel tidak percaya mendengar ucapan ibunya. "Kamu itu sudah tidak muda Axel. Mama sama Papa juga sudah semakin hari semakin tua. Kalau nanti tiba-tiba kami pergi siapa yang nemenin kamu. Umur manusia tidak ada yang tahu Nak. Mama terlalu sayang sama kamu, tinggal kamu anak Mama yang belum berkeluarga. Apalagi yang kamu cari? Kamu mau calon istri seperti apa? Yang cantik, seksi, pintar, lemah lembut atau apa? Semua sudah Mama sodorin ke kamu dan reaksi kamu bagaimana, coba jawab?" Beliau menjeda menatap lekat putranya. "Nggak ada kan? Respons kamu atas usaha Mama dan Papa selama ini itu tidak ada Nak. Mama mau Axel seperti Max, coba lihat adik kamu dia sudah punya kehidupannya sendiri, ada istri yang cantik, anak kembar yang lucu-lucu. Apalagi yang kamu tunggu? Tunggu dunia hancur baru kamu mau menikah?" Axel tergelak, ia menatap ibunya dengan tatapan lempeng. Ya. Axel tahu semua usaha ibunya itu demi kebaikannya tapi sayangnya Axel masih belum mau membuka hatinya untuk wanita lain, karena hatinya sekarang sudah mati sejak kepergian seseorang. "Mama mohon coba kenalan dulu dengan gadis ini, kalau kalian nggak mau melanjutkan juga tidak apa-apa. Setidaknya coba dulu. Axel mau kan Nak? Mama mohon?" Tidak ada respons apa-apa dari putranya membuat bahu Maya meluruh lemas, ia mendesah panjang melihat reaksi patung dari putranya. "Axel mau ke kamar dulu. Selamat malam Ma Pa." "Axel! Ya Tuhan, anak itu." Maya memekik keras menatap punggung putranya yang menghilang meninggalakan dirinya dan suaminya berdua dengan tatapan lelah. "Sudahlah Ma. Besok kita coba bicarakan lagi baik-baik. Papa juga akan minta Max untuk coba kasih pengertian ke Axel. Mungkin Max bisa mencerahkan pikiran Axel. Mama tenang dulu ya." Di dalam kamar Axel membanting tubuhnya ke atas tempat tidur ia meraup wajahnya kasar lalu menutupnya dengan lengannya. Sial, kenapa harus di jodohin lagi sih. Umpatnya menggeram menahan marah. ____ Tbc>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD