Happy reading.
Typo koreksi.
____
“AARRGGHH.”
“b******k. SIALAN LEPASIN TANGAN GUE.”
Jeritan dengan suara keras membahana itu terdengar membuat orang-orang yang berada di dance floor menoleh dengan raut terkejut, di tengah-tengah mereka ada seorang pemuda dengan jaket kulit tengah merintih kesakitan ketika lengannya di pelintir ke belakang cukup kuat sampai badan pemuda itu condong kedepan.
“ANJI*G LEPAS.” berontaknya lagi.
“Minta maaf.” suara tegas terkesan dingin itu bisa di dengar disana karena musik tiba-tiba ikut berhenti.
“Ngapain gue minta maaf sialan. AAARRRGGGHHH ANJI*G SAKIT.” teriak pemuda itu lagi kembali mengumpat.
Orang-orang memilih menjauh ketika melihat siapa yang ada di depan mereka semua. Sorot dingin yang membuat siapa saja takut.
“Saya kasih kamu satu kesempatan. Minta maaf atau tangan kamu benar-benar patah detik ini juga.” desis menggeram tertahan sosok itu di tengah remangnya lampu club.
“Aarrgghh iya iya gue minta maaf. Lepasin dulu, sakit njir.” rintihnya manggut-manggut cepat.
Sosok itu segera melepas lengan pemuda di depannya kasar, tatapan dinginnya tidak lepas dari wajah yang tampak masih kesakitan tersebut.
"Gue minta maaf." ucapnya pelan memandang perempuan di samping sosok itu.
"Ulang."
"SAYA MINTA MAAF." tekannya segera berlalu tanpa menunggu respons dari perempuan yang tadi di godanya.
"Anggun kamu tidak apa-apa?"
"ANGGUN." Panggilan itu membuat sosok tegap dan tinggi yang tengah menahan tubuh Anggun pun menoleh, raut terkejut terlihat jelas di wajah dua gadis di depannya. Mereka beralih menatap sahabatnya yang tampak kacau karena baru pertama kali minum alkohol.
"Hik wangi hehe. Wanginya mirip om Axel hik." gumam Anggun melantur membuat sosok kekar diantara para gadis itu mendengus geli dalam hati.
"Om Axel. Om beneran Om Axel kan?" tanya Joana yang baru sadar kalau sosok di depan mereka adalah laki-laki yang sama saat beberapa hari lalu membantu mereka.
Ya. Dia adalah Axell Wiradhana sosok yang baru saja menolong Anggun. Sosok yang sedang di jodohkan dengan gadis itu.
"Sebaiknya kalian pulang." ucap Axel menoleh pada dua sahabat Anggun datar.
"Xel ada apa?" Suara lain masuk mengintrupsi mereka, sosok Bara mendekat dan berhenti tepat di samping Axel. Lelaki itu melihat kearah Anggun yang berada dipelukan lengan sahabatnya dengan kening mengkerut dalam.
"Xel dia--" tunjuk Bara menggantung diudara.
"Bar, tolong anterin mereka pulang." Bara menoleh baru sadar ada dua gadis muda lain di sampingnya.
"Eh! Kok gue. Tapi kan kita baru da--"
"Lain kali. Gue harus balik sekarang."
"Xel. Yang benar aja dong. Kita bahkan belum minum loh." protes Bara dibalas delikan tajam Axel.
"Terserah. Gue balik." balas Axel membawa Anggun keluar dari lantai dansa dengan memapahnya.
"Aish, nyebelin banget." gerutu Bara sebal. Lelaki itu pun berbalik mengajak Joana dan Sella pulang bersamanya yang masih mengundang tanda tanya besar pada dua gadia tersebut.
Sedangkan di mobil Axel menggeram melihat wajah merah padam gadis yang baru kemarin di jodohkan dengannya. Pikiran Axel jadi kusut, bagaimana caranya membawa Anggun pulang ke rumah gadis itu tanpa ketahuan Albert. Axel yakin sahabat ayahnya itu akan marah melihat kondisi Anggun saat ini. Axel tidak habis pikir bagaimana bisa Anggun minum disana dan tidak tahu kalau dia nyaris di grepe-grepe pemuda sialan tadi. Jika saja Axel tidak menerima ajakan Bara setelah konsultasi dengan dokter Selly, mungkin. Ya, mungkin saja Anggun tidak bisa ia selamatkan dari tangan-tangan jahil di tempat laknat tadi.
"Hik Om Axel jahat." Kepala Axel menoleh cepat mendengar gerutuan nada sebal calon istrinya.
"Ya. Saya memang jahat." Dengan otak setengah sadar Anggun memiringkan kepalanya merasa melihat om Axelnya sekarang, membuat bibir gadis itu menekuk kebawah seperti ingin menangis.
"Jahat. Om Axel jahat hik. Ingkar janji. Om tega bohongin aku hik." cerocosnya dengan nada tidak jelas.
Axel menatap wajah di depannya lamat, tidak ada ekspresi apapun di wajah tampannya.
Sadar, ucapan Anggun benar. Dia sudah membatalkan janjinya.
Apa gadis itu mabuk karena dirinya. Pikir Axel di tengah keterbingungannya.
Sekarang. Axel harus memikirkan cara membawa Anggun pergi dari sini atau dirinya bisa hanya diam saja duduk di dalam mobil sambil menunggu hangover gadis disampingnya mereda. Karena jika membawa Anggun pulang ke rumah tentu saja akan menimbulkan keributan antara dirinya dan Albert ayah gadis itu.
"Kemana saya harus bawa kamu pulang Anggun?" tanya lebih tepat pada dirinya sendiri.
Axel menyandarkan kepala pada jok mobil, membiarkan mobil mereka tetap disana tanpa beranjak sedikitpun. Deru napas beraturan tampak Axel dengar dari sosok cantik itu.
"Kamu selalu menyusahkan saya Anggun." desahnya seraya memejamkan mata dan terlelap bersama calon istrinya di dalam mobil.
Lima belas menit kemudian, mata yang tadinya tertutup rapat akhirnya terbuka secara perlahan. Mengerjap dengan mata mengerenyit dalam akibat pusing yang tiba-tiba menghantam. Manik indah itu terbelalak lebar di detik berikutnya. Anggun duduk tegap, melihat sosok yang membuatnya kesal berada di sampingnya tertidur lelap.
"Om Axel." bisik pelan nyaris tidak terdengar.
Anggun mengucek matanya, takut penglihatannya salah. Terlebih sosok itu bukankah kemarin bilang sedang berada di luar kota. Dengan denyutan di kepala yang semakin menyerang Anggun menatap Axel tanpa kedip. Wajah tampan, rahang tegas, rambut yang tampak berantakan dan wangi parfum menenangkan milik Axel membuat gadis itu sadar. Jika, sosok di dekatnya benar-benar Axell Wiradhana. Om Axelnya, calon suaminya.
Sudut bibir Anggun terangkat, menikmati memandang Axel yang belum juga terbangun. Lalu matanya menelisik dimana mereka sekarang, jok mobil berwarna pink pastel dan interior yang di kenalnya. Anggun yakin mereka sedang berada di dalam mobilnya.
Kenapa gue bisa ada disini sama Om Axel. Batinnya bertanya-tanya.
Anggun mengerang ketika mencoba mengingat kejadian sebelum berada disini membuat Axel terusik dan mata tajam itu terbuka. Anggun mematung kaku ketika melihat muka bantal Axel yang sama gantengnya.
"Pa--pagi Om." sapanya terbata.
"...."
Tidak ada jawaban dari sosok di sampingnya membuat Anggun susah menelan saliva saking gugupnya.
"Om. Maaf." cicitnya takut-takut.
"Kamu baik-baik saja?"
"Hah."
"Kamu baik-baik saja. Mabuk kamu sudah hilang?" tanyanya bertanya tanpa nada.
"Ah! I--iya Om. Sudah. Maaf."
Axel terlihat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 01.00 itu artinya mereka sudah berada di dalam mobil selama satu jam lebih. Lelaki itu mendesah berat.
"Sebaiknya kamu tidur di hotel malam ini."
"Hotel!" pekik Anggun melotot lebar.
"Kenapa?"
"Mak--maksud Om, kita berdua tidur di hotel. Om mau ngapain?" Kening Axel mengkerut sebelum menggeleng tangannya menyentil dahi Anggun cepat.
Tukk.
"Awww ... sakit Om!"
"Singkirkan pikiran kotor kamu Anggun. Saya hanya akan mengantar kamu kesana dan pergi."
"Om mau ninggalin aku sendirian."
Axel mendesah mencondongkan tubuhnya membuat gadis itu buru-buru menjauhkan kepalanya kebelakang ia takut Axel bisa mendengar detak jantungnya saat ini.
"Kamu bau alkohol."
"Tapi aku cuma minum sedi--"
"Bagaimana kamu bisa mabuk dan nggak sadar ada pemuda yang berniat buruk sama kamu di dalam tempat sialan itu beberapa saat lalu. Apa kamu bodoh? Kamu ingin mengumpan diri kamu ke mereka?" Potong sarkas Axel mendengus.
"Tapi aku beneran cuma minum sedi-- tunggu Om tadi bilang apa? Aku di apain disana, Om jawab!" jeritnya dengan memandang Axel horor.
Axel mengangkat tangannya nyaris menyentuh pipi Anggun sebelum gadis itu mengelak dengan mata yang nyaris keluar dari rongganya serta tubuh gemetar. Sudut bibir Axel tertarik tipis, tangannya mengusap rambut Anggun lembut.
"Tidak terjadi apa-apa. Hanya nyaris." ucapnya membuat Anggun mendongak dan menatap Axel dengan mata berkaca-kaca.
Takut. Jelas perasaan itu Anggun rasakan sekarang. Karena kebodohannya, ia nyaris saja membahayakan dirinya sendiri.
"Om--"
"Semua baik-baik saja Anggun. Tidak terjadi apapun disana." ujarnya mencoba tidak membuat Anggun ketakutan karena ucapannya tadi.
"Bisakah kamu berjanji sama saya. Jangan pernah menginjakkan kaki ke tempat itu lagi. Disana terlalu berbahaya." ucap Axel dengan nada sedikit berbeda.
Grep.
Anggun memeluk Axel dengan cepat. Kepalanya ia tenggelamkan di d**a bidang Axel membiarkan tangan lelaki itu menggantung di udara karena terkejut.
"Aku janji Om. Aku janji nggak akan kesana lagi." bisiknya bergetar.
Bayangan itu mulai terlihat jelas dalam pikiran Anggun gadis itu semakin ketakutan dan tetap rasa bersyukur pun ada karena Axel menolongnya.
"Terima kasih Om." lirihnya mengeratkan pelukan mereka.
Tubuh Axel menegang, tidak berkutik saat tubuh di depannya semakin merapatkan dirinya. Axel bisa merasakan sesuatu yang menyentuh kemejanya. Lelaki itu memejamkan matanya kuat-kuat, menahan u*****n dan gerakan tangannya untuk mendorong Anggun detik ini juga.
Sial. Umpatnya menahan geram.
___
Tbc>>