Beberapa hari kemudian...
Malam di kota Argen selalu berbau besi dan hujan.
Di tengah hiruk pikuk distrik bawah, sebuah mobil hitam berhenti di depan bar tua yang nyaris tak terlihat dari jalan utama. Lampu merah di atap gedung seberang berkedip pelan, menyorot logo burung mekanik yang separuh rusak. Di balik pintu logam bar itu, dunia lain menunggu — dunia yang tak tercatat di peta resmi kota.
Andrew turun dari mobil. Keadaannya bahkan sudah pulih total. Ia berdiri di samping mobil.
Jas hitamnya masih basah oleh gerimis, rambutnya acak, dan ada bekas luka tipis di sisi wajahnya — bukan luka lama, tapi juga bukan baru. Matanya… bukan sekadar abu-abu seperti dulu. Di bawah cahaya redup, ada pantulan lembayung samar di sana, seperti sisa kilau dari sesuatu yang pernah terlalu dekat dengan Tuhan.
Begitu ia melangkah masuk, seluruh bar diam sesaat.
Bukan karena orang-orang mengenalnya — tapi karena mereka tahu siapa yang baru saja datang.
Andrew.
Pemimpin organisasi bawah tanah “Seraph Syndicate”. Lelaki yang, menurut rumor, pernah membakar satu distrik hanya karena seseorang mencoba mengkhianatinya.
Musik jazz tua kembali mengalun. Asap rokok menari di udara. Andrew berjalan ke meja di sudut, di mana seorang wanita sudah menunggunya — Eveline, dengan gaun merah darah dan mata tajam seperti kaca pecah.
“Lama sekali,” katanya, tanpa senyum.
Andrew duduk tanpa menjawab. Ia meletakkan sarung tangan kulit di meja, memesan whiskey tanpa menatap pelayan. “Kau tahu, aku tak suka menunggu, Eveline.”
“Dan aku tak suka dipanggil di tengah malam hanya untuk urusan kotor,” balasnya cepat. “Kau janji akan berhenti. Tapi lihat dirimu sekarang — masih saja jadi raja di kota neraka ini.”
Andrew menatap gelasnya. Uap alkohol naik pelan ke wajahnya. “Berhenti bukan berarti mati. Aku hanya… memilih perang yang berbeda.”
“Perang?” Eveline tertawa kecil, tapi getir. “Kau sebut perdagangan senjata dan data gelap sebagai perang?”
“Segalanya perang, Eveline. Hanya senjatanya yang berbeda.”
Suasana hening beberapa detik. Hanya suara tetesan hujan di luar, memukul jendela yang retak.
Andrew menatap sekeliling bar — para penjaga bersenjata tersembunyi di sudut-sudut gelap, beberapa pelanggan memantau lewat pantulan kaca. Ia tahu, malam ini tak akan sekadar pertemuan biasa.
Lalu Eveline membuka tas kecilnya, mengeluarkan sesuatu — chip data berukuran kecil, seukuran kuku.
Ia mendorongnya ke arah Andrew. “Kau tahu apa ini?”
Andrew mengamati chip itu tanpa menyentuhnya. Logo di permukaannya — sayap burung dengan lingkaran di tengah — membuat matanya menyipit.
“…Seraph Project,” gumamnya pelan.
Eveline menatapnya tajam. “Kau tahu tentang itu, bukan?”
Andrew tak menjawab. Tapi wajahnya berubah. Sekilas, bayangan sesuatu melintas di matanya — laboratorium putih, suara mesin, teriakan, cahaya lembayung yang meledak di udara.
Ia meneguk whiskey-nya habis. “Proyek itu seharusnya sudah mati sepuluh tahun lalu.”
“Seharusnya,” jawab Eveline. “Tapi seseorang membangunkannya lagi. Dan mereka menggunakan nama Syndicate-mu untuk menutup jejak.”
Andrew mendongak, pelan tapi tajam. “Siapa yang berani menggunakan nama ‘Seraph’ tanpa izin dariku?”
Eveline bersandar, menatapnya lurus. “Itu yang harus kau cari tahu. Tapi… hati-hati, Drew. Ini bukan cuma tentang dunia bawah tanah. Mereka bukan manusia biasa. Dan kalau kau menggali terlalu dalam, kau mungkin menemukan bagian dari dirimu yang kau kira sudah mati.”
Andrew tertawa tipis. “Kau bicara seolah tahu segalanya.”
“Aku tahu cukup banyak,” katanya pelan. “Termasuk bagaimana kau bisa selamat dari kehancuran Seraph dulu.”
Kata-kata itu membuat udara di antara mereka menegang.
Andrew menatapnya tajam — dingin, seperti pisau yang siap menebas. “Kau main di wilayah berbahaya, Eveline.”
“Selalu,” jawabnya. “Tapi aku masih di sini, bukan?”
Hening panjang.
Lalu Andrew berdiri. Ia mengambil chip itu, menatapnya sebentar sebelum menyelipkannya ke dalam saku jas. “Aku akan cari siapa dalangnya. Dan kalau mereka benar-benar mencoba menghidupkan Seraph lagi…”
Ia menatap keluar jendela. Cahaya petir menyorot wajahnya yang penuh bayangan.
“…aku akan pastikan mereka menyesal karena menyentuhnya.”
Beberapa jam kemudian, Andrew berdiri di atap gedung tua yang menghadap distrik bawah. Angin malam membawa aroma listrik dan debu. Di kejauhan, lampu biru patroli kota melintas, memantul di dinding kaca pencakar langit.
Ia menyalakan rokok. Asapnya membentuk garis lembayung samar, seolah langit sendiri mengenal namanya.
Suara langkah di belakang membuatnya berbalik cepat — pistol sudah di tangannya bahkan sebelum ia berpikir.
“Tenang, bos,” kata lelaki bertubuh besar yang muncul dari bayangan. Marcus. Tangan kanannya masih diperban. “Kabar dari pelabuhan. Kapal ‘Erebus’ berangkat besok malam. Mereka bawa muatan besar — dan pakai tanda sayap Seraph di lambungnya.”
Andrew mematikan rokok di dinding. “Siapa pemiliknya?”
“Tak tercatat. Tapi rumor bilang, dikendalikan oleh seseorang bernama Director. Tidak ada catatan wajah, tidak ada sidik jari. Cuma pesan: ‘Untuk mereka yang masih percaya pada kebangkitan Seraph.’”
Andrew diam lama. Angin meniup jasnya, memperlihatkan senjata tersembunyi di pinggangnya.
Marcus menatapnya ragu. “Kau yakin mau turun tangan sendiri? Dunia bawah berubah, Drew. Banyak yang ingin kau mati.”
Andrew tersenyum samar. “Mereka sudah menginginkannya sejak aku lahir.”
Ia menatap langit — hujan mulai turun lagi, menetes di wajahnya. “Tapi aku masih di sini.”
“Dan Seraph?” tanya Marcus.
Andrew memejamkan mata sebentar. Dalam gelap pandangannya, muncul bayangan cahaya lembayung — denyut halus yang seperti pernah ia rasakan di bawah kulitnya sendiri.
“Seraph tidak pernah mati,” katanya pelan. “Ia hanya menunggu seseorang cukup gila untuk membangunkannya.”
Marcus mengangguk perlahan, lalu melangkah pergi.
Andrew menatap ke bawah, ke kota yang bersinar seperti sirkuit raksasa — darah, kabel, dan dosa bercampur jadi satu.
Di saku jasnya, chip data itu berdenyut sekali — lembayung, halus, hidup.
Dan untuk sesaat, Andrew merasa sesuatu bergerak di dalam dirinya. Bukan sekadar jantung, bukan sekadar memori… tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
Sebuah bisikan.
Sebuah panggilan.
Sebuah janji dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur bersama abu dunia lama.
Andrew menatap langit, dan dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik,
“Kalau Seraph bangkit lagi… maka dunia ini akan belajar arti kata ‘takdir’.”
Hujan semakin deras.
Neon-neon kota memantul di genangan air, membentuk warna lembayung yang menari di permukaan logam.
Dan di bawahnya, bayangan Andrew berjalan perlahan — bayangan dari seorang lelaki yang bukan lagi manusia sepenuhnya, tapi juga belum menjadi mesin sepenuhnya.
Hanya sesuatu di antaranya.
Sesuatu yang lahir dari api, dosa, dan cinta yang tak pernah padam.
Seseorang yang kini disebut semua orang di kota itu dengan satu nama yang menakutkan —
“Seraph King.”