Lampu-lampu disko yang menyorot bergantian menimbulkan kilatan cahaya aneh pada wajah-wajah orang di sekeliling Eveline. Musik EDM menghentak keras, membuat lantai bergetar. Di antara kerumunan manusia yang menari, Eveline merasa seperti orang asing di dunia yang asing. Napasnya terasa berat, bukan hanya karena asap rokok yang menebal di udara, tetapi juga karena ketegangan yang mencekik dadanya.
Ia menatap sekali lagi ke arah dua pria berjas hitam itu. Tubuh mereka besar, sorot mata tajam, dan ekspresi wajah keras seolah mengatakan: jangan macam-macam. Di jari kelingking kanan masing-masing, cincin perak dengan ukiran singa tampak berkilat ketika terkena pantulan cahaya lampu. Itu bukan sekadar cincin, melainkan tanda kebanggaan dan loyalitas—simbol kalau mereka benar-benar bagian dari clan Andrew.
Eveline mengalihkan tatapannya sejenak, takut terlihat terlalu mencurigakan. Ia menyesap minumannya perlahan—segelas cocktail yang ia pesan hanya untuk menyamarkan keberadaannya. Cairan dingin itu mengalir di tenggorokan, tapi tidak sedikit pun mampu meredakan panasnya darah yang bergolak di dalam dirinya.
Bagaimana caranya? pikir Eveline. Aku tidak bisa langsung mendatangi mereka. Itu bunuh diri. Aku butuh alasan. Aku butuh pintu masuk.
Ketika ia sedang berpikir, seorang pria mabuk mendekatinya. Tubuhnya bau alkohol, rambutnya acak-acakan, dan gerakannya sempoyongan. “Hei cantik… sendirian, ya?” Lelaki itu menyeringai, tangannya hendak meraih bahu Eveline.
Refleks Eveline menepis kasar, matanya berkilat tajam. “Pergi.”
Namun pria itu tertawa, tidak peduli. “Jangan jutek gitu dong… aku cuma mau temenin—”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, salah satu pria bercincin singa di sudut ruangan menoleh. Dengan satu isyarat, pria itu melangkah ke arah Eveline. Tubuhnya besar, otot-otot menonjol di balik jas hitam yang rapi. Ia menepuk bahu si pemabuk dengan kasar.
“Pergi sebelum aku patahkan tanganmu,” katanya dingin.
Wajah si pemabuk pucat seketika. Tanpa protes, ia langsung kabur ke arah kerumunan, meninggalkan Eveline yang masih terdiam.
Pria berjas hitam itu menoleh pada Eveline. Tatapannya dingin, penuh curiga, tapi juga tajam seakan bisa menembus topeng siapa pun. “Kau baik-baik saja?” suaranya berat dan dalam.
Eveline mengangguk cepat. “Ya… terima kasih.”
Untuk sesaat, pria itu hanya menatapnya, seolah menilai sesuatu. Lalu ia kembali ke meja bersama rekannya. Namun Eveline tahu, ini adalah celah kecil.
Itu dia… ini kesempatan pertamaku.
Ia menunggu beberapa menit, membiarkan suasana kembali tenang. Setelah menghabiskan sisa minumannya, Eveline memberanikan diri melangkah mendekat. Jantungnya berdebar begitu keras hingga hampir menyesakkan d**a. Setiap langkah terasa seperti menapaki jurang maut.
“Permisi,” ucapnya dengan suara yang dibuat senetral mungkin ketika sampai di depan meja mereka.
Dua pasang mata tajam menoleh bersamaan. Lelaki berambut pirang yang duduk bersama mereka juga menatap Eveline dengan kening berkerut.
“Apa yang kau mau?” suara pria bercincin singa yang tadi menolongnya terdengar keras, penuh kewaspadaan.
Eveline berusaha tersenyum tipis. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Barusan kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah kerepotan menghadapi pemabuk itu.”
Salah satu dari mereka mendengus sinis. “Kau pikir ucapan terima kasih cukup alasan untuk datang mengganggu meja kami?”
Situasi menegang. Eveline menunduk sedikit, mencoba menahan diri agar tidak terlihat menantang. Ia harus pintar memilih kata.
“Aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya pelan. “Aku hanya ingin… kalau kalian butuh sesuatu, aku bisa membantu. Anggap saja sebagai balas budi.”
Ketiganya terdiam sejenak, menatap Eveline dengan sorot mata penuh selidik. Lalu lelaki pirang yang sepertinya bos kecil itu tertawa pendek. “Kau ini siapa, hah? Seorang gadis manis tiba-tiba datang menawarkan bantuan pada kami? Kau pikir ini semacam permainan?”
Eveline menatapnya, kali ini sedikit lebih berani. “Aku mungkin bukan siapa-siapa. Tapi aku bisa berguna. Kau tahu, kadang-kadang orang luar bisa lebih cepat bergerak daripada orang dalam.”
Lelaki pirang itu menyipitkan mata, seolah mencoba membaca niat tersembunyi Eveline. “Menarik…” katanya akhirnya. Ia melirik pada dua pria berjas hitam. “Bawa dia besok malam. Kita lihat apakah ucapan gadis ini sekadar bualan atau benar-benar punya nyali.”
Eveline menunduk sopan, meski di dalam dirinya kegelisahan meledak-ledak. Besok malam… apa yang akan mereka lakukan padaku?
Malam itu Eveline pulang dengan pikiran penuh. Hujan kembali turun saat ia berjalan melewati trotoar yang sepi. Lampu jalan memantulkan cahaya temaram pada genangan air, dan setiap langkahnya terasa berat.
Ia tahu, dirinya baru saja melangkah lebih dekat ke jurang. Pertemuan dengan anak buah Andrew bukan sekadar percakapan biasa—itu pintu masuk, tapi juga bisa jadi pintu kematian.
Setiba di apartemennya, Eveline menyalakan lampu kecil di meja kerja. Ia menatap papan gabus besar yang penuh dengan potongan koran, foto-foto, dan catatan kecil tentang Andrew dan jaringan mafianya. Setiap garis benang merah yang ia tarik menghubungkan satu nama dengan nama lain, satu tempat dengan tempat lain.
Nama Andrew ada di tengah, besar dan tegas. Di sekelilingnya, foto klub malam, gudang tua, hingga wajah-wajah yang ia curigai sebagai orang kepercayaan. Eveline menambahkan catatan baru malam ini: Bos kecil klub malam, kemungkinan bawahan Andrew. Kontak pertama berhasil.
Ia meremas pensil di tangannya. “Ayah… aku semakin dekat. Aku janji, aku tidak akan berhenti sebelum semua ini selesai.”
Namun, di balik tekad itu, Eveline tidak bisa menutupi rasa takutnya. Tangan yang memegang pensil sedikit bergetar. Ia tahu betul, sekali masuk ke dalam dunia mereka, tidak ada jalan kembali.
Keesokan malamnya, Eveline kembali ke klub itu. Kali ini, ia mengenakan gaun hitam sederhana yang menempel pas di tubuhnya, membuatnya terlihat lebih percaya diri meski dalam hati masih ada keraguan. Rambutnya terurai, matanya dihiasi eyeliner tipis yang memberi kesan tajam. Ia tahu, jika ingin diterima, ia harus menunjukkan bahwa ia bukan sekadar gadis biasa.
Di pintu masuk, dua pria berjas hitam yang kemarin ditemuinya sudah menunggu. Mereka tidak banyak bicara, hanya memberi isyarat agar Eveline mengikutinya.
Mereka membawanya melewati keramaian klub, menuruni tangga ke sebuah ruangan bawah tanah. Begitu pintu besi berat terbuka, Eveline mendapati sebuah ruangan remang dengan meja bundar besar, asap rokok tebal, dan beberapa pria bersenjata yang berdiri di sudut.
Lelaki pirang itu duduk di kursi utama, menatap Eveline dengan senyum tipis. “Kau datang. Bagus. Aku suka orang yang menepati janji.”
Eveline menahan napas, berdiri tegak meski lututnya terasa lemas. “Aku tidak suka bicara kosong.”
Pria itu tertawa pelan. “Baiklah. Kau ingin membuktikan dirimu? Malam ini kau akan mendapat kesempatan. Kami punya sedikit… pekerjaan. Anggap saja tes awal.”
Eveline menelan ludah. “Pekerjaan apa?”
Pria itu mencondongkan tubuh, suaranya rendah namun menusuk. “Ada seseorang yang berutang pada kami. Seorang pengusaha kecil yang mencoba bermain curang. Kau akan ikut kami menemuinya. Tugasmu sederhana, hanya buat dia bicara. Kalau kau bisa melakukannya, mungkin aku akan percaya kau berguna. Kalau tidak… yah, mungkin malam ini adalah malam terakhirmu.”
Eveline merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan lagi permainan. Ia benar-benar akan masuk ke dalam dunia kejam mafia.
Namun di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang berdenyut kuat dalam dirinya: dendam. Dan dendam itulah yang membuatnya berkata tegas, “Baik. Aku siap.”
Malam itu, untuk pertama kalinya Eveline resmi melangkah ke jalan berbahaya—jalan yang bisa menuntunnya pada Andrew.
Di dalam hatinya, ia berbisik lirih.
“Andrew… aku semakin dekat. Bersiaplah. Aku akan menghancurkanmu, sama seperti kau menghancurkan hidupku.”