Satu Tubuh Dengan Dua Jiwa

2318 Words
BAB II : Mimpi dan nyata Aku menatap dia dari jauh. Tak salah lagi. Itu dia! Pasti dia! Yg selalu mengusik mimpi malamku. Tapi kenapa dia disini? Ku kira dia hanya tokoh hayalan. ------- Mata nya menatap langit yang teduh. Sang surya kian merendah, menuju cakrawala kembali ke singgasana nya. Menciptakan awan senja dengan semburat jingga. Benar- benar indah ciptaan Tuhan. Angin semilir menerpa lembut ke wajah ayunya. Alena menarik nafas dalam-dalam. Menikmati oksigen yang masuk ke paru-parunya. Ia menyeruput sedikit cappucino hangatnya, sebelum sedetik kemudian melihat sosok yang familiar di bawah sana. Tertegun sesaat, lalu berdiri dan berjalan perlahan menuju pagar pembatas balkon kamarnya dengan mata yang terpaku disana. Jantung nya semakin berdebar tatkala wajah yang familiar itu semakin jelas. "I... i.. itu.. itu dia? Apa ini mimpi lagi?" Alena menepuk pelan pipinya. "I'm not dream" Gumamnya pelan. "Tapi kenapa dia disana? Jangan-jangan Dia emang tinggal disitu?". Alena masih menatap sosok laki-laki itu. Ia masih tak percaya sosok yang sering ditemuinya lewat mimpi, kini terpampang nyata di depan matanya. Lelaki itu sedang duduk dan memainkan gitar di halaman rumah tepat diseberang rumahnya. Alena mundur perlahan sambil menutup mulutnya yang masih melongo. Buru-buru masuk ke kamar dan terduduk di atas kasurnya. "Siapa dia?.. Ada apa ini? Gua kira dia cuma fantasi dalam hayalan doang dan gak sengaja terus-terusan dateng dalam mimpi" Alena menggerutu "tiga tahun gue terus mimpiin dia da.. daannn sekarang dia tinggal di depan rumah? Kita tetanggan??" Dia menggelengkan kepalanya dan mendengus tak percaya. Kemudian memijit pelan pelipisnya seakan ini semua tak terfikir kan olehnya secara nalar. Alena menoleh ke arah balkon. Ada rasa ingin berjalan lagi kesana, memastikan bahwa lelaki itu betul-betul dia. Tetapi kakinya seolah mematung, berat. "Non Alena... " Suara itu memanggil dari luar kamar sambil mengetuk pintu, membuat nya terperanjat kaget. Mempercepat nafasnya yang mulai tak beraturan. "Nonaa... Nona Alena..." Suara itu terus memanggilnya, sebab ia tak kunjung menyahut. "Iyaaa.." Sahut Alena pada akhirnya. Berjalan gontai ke arah pintu. "Di suruh turun, Non. Mama non ngajak sholat berjamaah" Lanjut Erika, -asisten pribadi Meilinda- saat Alena membuka pintu kamarnya. "Iya, suruh tunggu bentar gue mau prepare dlu" Balas Alena. "Baik, Non. Saya permisi" Wanita sebaya dengan nya itu tersenyum tipis dan berbalik pergi. Alena kembali ke kamar dan segera bersiap-siap. Setelah sholat berjamaah, keluarga itu berkumpul di meja makan untuk makan bersama. "Gimana di sekolah baru? Lancar?" Tanya Meilinda kepada kedua putrinya di sela makan mereka. "Not bad. Karna ada Amel yang nemenin aku tur di sekolah tadi" Alena menyuap nasi ke mulutnya setelah menjawab pertanyaan itu. "Good dong kalo gitu. Dari pada kamu bolak-balik Denpasar-Jakarta setahun sekali yakan, sekarang bisa ketemu tiap hari" Balas Meilinda senang. "Yaa tetep aja, aku harus beradaptasi lagi disini" Sungut Alena, menyindir kondisinya yang sering berpindah-pindah sekolah. "Gak lama itu dek, paling tiga bulan kamu udah bisa berbaur. Ya nggak, kak... Kakak gimana sekolahnya?" Meilinda ganti bertanya ke anak sulungnya yang dari tadi hanya fokus dengan makanan di depannya. "Baik kok mah. Cuma, aku harap ini sekolah yang terakhir sih mah. Lia udah kelas XII, bentar lagi UN. Untung ini masih awal tahun, setidaknya Lia bisa ngejar materi biar nggak ketinggalan " Jelas Liyara, dengan nada pelan, agar tidak menyinggung sang mama. Walapun jarak usia kakak beradik itu tidak telampau jauh, namun sifat dan sikap mereka bagaikan kutub utara dan selatan. Liyara Mahesa, si sulung yang introvert dan pendiam. Keseharian nya lebih suka ia habiskan di rumah dan menyendiri. Suaranya pelan dan lemah lembut. Sulit ditebak apa dia suka atau tidak suka. Sangat baik ke semua orang, hingga terkadang tanpa sadar sering di manfaatkan. Dia tak kalah cerdas dan cantik dengan adiknya, namun karna sikap introvert nya membuat beberapa orang menganggap nya aneh. Alena adalah alasan satu-satu nya dia aman di sekolah. Siapapun yang berani menyakiti wanita berkaca mata itu, akan mendapat hadiah bogem mentah dari adiknya yang hobi bergulat tersebut. Sedangkan Alena, si bungsu yang keras kepala hampir tidak memiliki rasa takut dengan apapun. Satu-satunya ketakutan yang dia miliki, -selain Tuhan- adalah kehilangan. Baginya, lebih baik tidak memiliki nya sama sekali daripada akhirnya ia harus kehilangan nya. Melinda menatap anak sulungnya, tersenyum dan mengelus lembut kepala putrinya itu "iya sayang. Do'ain perusahaan mama berjalan lancar, biar mama nggak perlu turun langsung ke perusahaan cabang. Jadi kita bisa tetap menetap disini" "Amiiinnn... " _________ "Maahh, liat helm Nana nggak? Kemaren pas motor nya dateng, perasaan Nana nggak di kasi helm nya sekalian" Teriak Alena dari anak tangga. "Mama nggak tau sayang, mending sarapan dulu sini" Jawab Meilinda menyiapkan makanan dengan dibantu beberapa asisten rumah tangganya. "Ini Non helm nya, kemarenn...." Erika menyodorkan helm fullface ke Alena. Belum selesai menjelaskan, Alena langsung memotongnya dan mengambil helm itu dari tangan Erika. "Thank's Erika, tapi lo ngga perlu jelasin gue lagi buru-buru" Lalu berjalan ke arah Melinda yang bersiap untuk makan "Mom, Nana berangkat dulu ya" "Kamu mau langsung naik motor? Nggak di anter pak Dirman aja dulu? Motor nya kan belum di cek aman buat jalan apa enggak. Hampir seminggu itu dikapal loh" Tanya ibu dua orang anak itu yang merasa cemas dengan putrinya itu. "Semalem kan udah sempet di pake jalan mamah, udah aku cek juga di bengkel, ngga kenapa-kenapa kok. Cuma minta di panasin aja mesinnya karna lama mati" Jelas Alena berusaha menenangkan ibu kandung nya itu untuk tidak mencemaskan nya. "Yaudah kalo gitu, tapi hati-hati ya" Jawab Melinda pada akhirnya, walaupun masih ada keresahan pada hatinya. "Iya mamaa, cium dulu" Alena berlalu pergi setelah mencium pipi dan punggung tangan mamanya. "Eeeee nggak sarapan dulu??" Teriak Melinda, baru sadar kalau anaknya itu belum makan apa-apa. "Enggak ma, Nana udah kesiangan ini" Sahut Alena sebelum menghilang di balik pintu. "Kesiangan? Kamu bukannya satu sekolah juga sama adek, kak? Nanti kesiangan juga loh" Tanya wanita tengah baya itu kepada anak sulungnya yang sedang makan dengan santai di sampingnya. "Kesiangan apanya? Orang baru jam 6:00, mau bantu satpam buka pager kali tu anak" Sahut Liyara seraya menunjukan jam ditangan kirinya. "Lah, kok kesiangan katanya. Mau kemana dulu anak itu" Dahi ibu muda itu megernyit heran. "Toko kaset dulu mungkin" "Heehh, memanglah tu anak. Ngga habis-habis sama kasetnya itu. Sampe numpuk di koper gede itu mama liat" "Biar ajalah mah, namanya hobi. ***** Alena melajukan motor nya dengan kecapatan sedang. Sambil bersenandung kecil mengiringi ban motor yang berputar. Ia berhenti di salah satu toko yang berjejer di salah satu pusat perbelanjaan. Matanya meneliti tempat yang dulu sering di kunjungi nya. Ia merasa tempat ini sudah banyak berubah dari terakhir kali kesini. Alena beranjak turun dari motor dan bergegas masuk. Sekilas ia melihat ke arah penjual, lalu berjalan ke deretan kaset yang berjajar di dekat kasir. Alena melirik sesaat ke arah lelaki yang tampak tak lebih tua dari nya itu. Ia menerka, bahwa lelaki itu anak dari si pemilik toko. Amel pernah bercerita, pak Jenggot -sebutan akrab yang biasa mereka panggil untuk pemilik toko- sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu. Terbesit rasa sedih dihati nya. Banyak wejangan-wejangan yang sering di berikan pak Jenggot dahulu padanya. Lelaki tua itu banyak merubah pola pikir Alena tentang bagaimana menghadapi kerasnya hidup. Alena mengehembuskan nafas berat. Ia terngiang salah satu kalimat pak Jenggot yang sangat mengena di hatinya. "Berpedoman lah dengan rasa ikhlas. Ketika rasa ikhlas tertanam di hati mu, maka di situ lah ridho Allah menyertai mu. Ikhlas lah dengan setiap takdir yang sudah ditetapkan, dan Allah pasti akan memberikan takdir yang baik untuk orang baik. Jika orang itu tidak baik, maka Allah akan menunjukkan dia ke jalan yang baik agar takdirnya menjadi lebih baik". Alena tersenyum. Ia yakin orang tua beruban yang sudah dianggap seperti ayah nya itu, pasti sudah tentram di sisi-Nya. Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya yang taat. "Putar lagu ini dong mas" Alena memberi satu keping kaset kepada penjual untuk memutarkan nya. Penjual itu menerima kaset yang di berikan Alena, dan memutarnya. Mengalun denting piano, für elise karya Beethoven. Lagu klasik asal Jerman itu sekan menyihir Alena dengan melodinya. Ia menikmatinya seraya berjalan ke arah rak yang lebih besar. Memilih lebih banyak kaset dari rak-rak itu untuk di belinya. Karena terlalu semangat, ketika ia berbalik terlalu kencang tiba-tiba "brukk" "Aww, aduh sorry-sorry mas saya nggak sengaja" Alena segera berjongkok memungut kepingan-kepingan kaset yang jatuh dari genggaman seseorang yang tidak sengaja di tabrak nya. Sosok itu hanya diam dan ikut memunguti kaset lainnya yang ikut jatuh dari dalam rak. "Ini mas kasetnya, saya..... " Alena menganga, tak sanggup melanjutkan kalimat nya ketika melihat orang yang berdiri di hadapannya. Waktu seakan berhenti didalam bayangan Alena. Hingga kaset yang tadi di pungutnya, kembali jatuh berserakan dan menyadarkannya. Masih dengan tubuh kaku dan mata melotot tak percaya, ia mundur pelan-pelan dan segera berbalik ke arah kasir. "Mmm.. ma.... mas.. Tadi saya nggak sengaja jatuhin kaset. I.... Ini saya ganti" Ujar Alena tergagap dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratus ribuan. Kasir yang melihat gelagat Alena hanya diam kebingungan. "Eh tungguu.. " Suara maskulin itu berusaha mengejar dan menghentikannya. Alena yang panik langsung keluar dan berusaha cepat pergi dengan motornya. Melihat Alena yang kian menjauh, ia berhenti mengejar. Mengalihkan pandangannya ke arah gelang berwarna emas di tangannya. "Alena Freya Mahesa" Gumamnya membaca tulisan yang turikir di sisi bagian dalam gelang itu. ***** "Morning bestie" Amel menyeringai ke arah Alena yang bejalan ke arahnya. Ia masih belum menyadari wajah Alena yang tegang dan pucat pasi, sengaja berdiri di dekat gerbang sekolah menunggu bestie nya itu untuk pergi ke kelas bersama. Tak sesuai ekspetasi nya, Alena hanya mengabaikan dan terus jalan melewatinya. Ia langsung mengubah mimiknya dan berbalik mengejar Alena. "Nana! Naa.... " Amel berusaha meraih tangan Alena dan membuat nya berhenti. "Iiihhh lo tu kenapa sih! Hampir sejam gue nungguin elu, berdiri panas-panas. Malah gue nya di cuekin" "Iya sorry" Jawab Alena acuh tak acuh. Ia masih belum bisa mengendalikan perasaannya saat ini. Amel yang mulai menyadari ada yang tidak beres, mengernyitkan dahi nya bingung. "Lu kenapa? Sakit?" Ia menempel kan punggung tangannya ke kening Alena. "Engga, gue baik-baik aja. Dahlah gue mau ke kelas" Sahut Alena malas, ia berusaha menghindari tatapan khawatir temannya. "Eeh bentar dulu" Amel menghalangi jalan Alena. "Baik-baik aja apanya! Muka lo pucet gitu, ayo gue anterin ke UKS" "Gue beneran nggak pa-pa Mel" Tolak Alena, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Amel. "Gausa ngeyel bisa nggak sih! Jangan maksain diri! Udah, ayo ikut gua" Amel tak melepaskan genggaman nya dari lengan Alena yang meronta-ronta. "Gue bilang engga, ya engga!! Ngga usah maksa bisa nggak sih!!" Alena menarik kencang tanggan nya, dan tanpa sadar membentak Amel dengan begitu keras. Seketika mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Alena menutup mulutnya, ia sama tertegun nya dengan Amel yang sekarang memandang nya tak percaya. "Eeee.. Ee Mel, gue.. Gue ngga bermaksud...." Amel memandang nya dengan mata berkaca-kaca, menggelengkan kepalanya dan berlari pergi dari hadapan Alena. "Mel...." Alena tak memiliki kekuatan lagi untuk mengejar Amel yang kian menjauh. ****** Revan terus mengamati gelang di tangannya. Kepalanya penuh dengan tanda tanya mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. "Weh bengong bae lu. Kesambet kuntilanak bunting tau rasa lu" Lamunannya dibuyarkan Panji yang datang bersama dua teman lainnya. Revan melirik sekilas ke arah Panji dan buru-buru memasukkan gelang itu ke saku kemejanya. "Mpok... Mi rebus satu ya, pake telor" Farhan meneriakkan pesanannya ke pemilik warung tempat mereka duduk, diikut kedua temannya. "Lu apa cuk? Nggak makan lu?" Farhan menoleh ke arah Revan. "Enggak ah, udh makan gue sebelum kesini" Sahut Revan seraya menghembuskan asap rokok dari mulut nya. "Itu aja mpok, kaga mau dia" Ujar Farhan pada penjual yang masih menunggu pesanan mereka. "Menurut kalian muka gue aneh gak sih?" Revan melayangkan pertanyaan yang dari tadi mengusik pikirannya. Ketiga temannya yang mendengar pertanyaan itu langsung memandang nya kebingungan. "Iya aneh cuk, mata lu ada tiga hahahah" Kelakar Panji membuat kedua temannya tertawa. "Anjir dajjal dong hahahah" Imbuh Beni menanggapi candaan itu. "Kalo dajjal satu b**o" Sahut Panji lagi. "Gue serius anjing" Lelaki berkulit kuning langsat itu bersungut sebal mendengar tawa teman-temannya. "Lagian pertanyaan lo ada-ada aja" Tawa mereka mulai mereda saat melihat muka serius Revan. "Tau tuh, muka lu kenapa emang? Abis oprasi plastik lu ya?" Beni balik bertanya. "Tadi pagi gue ke toko kaset kan ya, gue ketemu cewek. Cantik. Tapi dia malah ketakutan ngeliat gue" Jelas Revan. "Toko kaset yang di jalan Mataram itu?" Imbuh Farhan yang pernah diajak Revan ketempat itu. "Iya, terus dia jatuhin ini" Ia keluarkan gelang dari kantongnya "pas mau gue balikin, dia malah lari ketakutan kek di kejar setan" "Coba liat" Farhan mengambil gelang dari tangan Revan. Beni dan Panji mendekati nya, ikut meneliti gelang itu. "Dia anak sekolah kita juga. Gue liat badge nya SMA 57" Tambahnya lagi. "Alena Freya Mahesa" Lirih Farhan dan merasa asing dengan nama itu. "Gue ngga pernah denger nama ini di sekolah kita" "Bedge nya warna apa?" Tanya Panji. -Warna bedge merupakan identitas yang membedakan tingkatan kelas. "Ijo tua. Anak XI Ips dugaan gue. Tapi ngga tau ips berapa" Jawab Revan. "Jangan-jangan cewek yang berantem sama Amel tadi cuk" Beni mengingatkan Farhan dengan wanita berambut panjang yang sempat mereka lihat sedang berdebat dengan wanita yang di taksirnya. "Berantem sama Amel?" Revan mengerutkan kening nya, heran. "Mereka sekelas kayaknya. Keliatan akrab soalnya. Gue rasa sih dia anak baru. Feeling gue cewek itu yang lo cari" Jelas Farhan seraya menyerahkan gelang itu. "Sekelas sama lo juga dong Van. Masa lu nggak tau?" Tanya Panji bersiap memakan mi kuahnya. "Dia kan libur seminggu begok.. Tanding futsal ke Jogja, gimana mau tau? Dodol bet ni anak" Beni mewakili Revan menjawab pertanyaan Panji. "Dia kan udah balik dari kemaren, mana gue tau kalo hari kaga masuk" Panji tak mau kalah. "Kalo die masuk pasti ketemu kita lah, dongok! Badan bae lu gedein" Beni meninju lengan Panji yang sedikit berisi. "Mending lu tanyain langsung aja ke Amel. Kali temenan mereka" Ujar Farhan memberi saran. Revan hanya diam terus menatap gelang itu dengan kening berkerut. Sebetulnya dia tidak terlalu tertarik dengan wanita itu. Hanya saja, reaksi ketakutan yang tak beralasan itu membuat nya mati penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD