Candralekha Aku berusaha menghubungi Bayu tapi masih belum bisa nyambung. Padahal ada panggilan tak terjawab di ponselku dua jam lalu, tapi aku nggak dengar. Di chat juga cuma centang satu. Aku melihat jam tangan tanganku. Saat ini menunjukkan pukul 14.15 artinya di Milan pukul 09.15. Mungkin acaranya sudah mulai. Dan Bayu lebih memilih mematikan ponselnya supaya tidak mengganggu jalannya acara. Setidaknya begitu pikiran sederhanaku untuk mencegah pikiran lain berkembang. “Ada kabar dari Bayu, Nak Lekha?” tanya Bu Fatriza ketika aku datang untuk memeriksa suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah dan saturasinya. “Tadi Bayu telepon saya. Cuma saya nggak dengar, Bu. Saya coba telpon balik nggak bisa, mungkin acara di sana sudah mulai,” jawabku, memandang wajah Bu Fatriza yang tampak seti

