*** "Pak Naka enggak bisa menipu aku. Aku yakin yang telepon dia adalah Medina, dan aku juga yakin kalau sampai detik ini Pak Naka pasti masih berkomunikasi sama istriku. Ck, aku bakalan cari tahu lagi di mana Medina sekarang." Berjalan sambil merutuk, itulah yang Fajar lakukan setelah beberapa waktu lalu dirinya kalah debat dari sang atasan. Melihat Bayanaka dihubungi sebuah kontak dengan nama Medina, Fajar yakin yang menelepon atasannya itu adalah sang istri. Mendesak Bayanaka untuk jujur tentang Medina, Fajar justru diminta pergi—bahkan mendapat ancaman pemecatan, sehingga pada akhirnya dia kembali mengalah. "Habis kasih laporan keuangan, mukanya kusut gitu. Kenapa?" tanya Danny—salah satu teman Fajar, yang bekerja di divisi keuangan. "Pak Naka," ucap Fajar—masih dengan raut waja

