Satria sujud syukur, diciuminya seorang gadis yang terbaring lemah di ranjang pesakitan itu. Berulang kali bibirnya mengucapkan kalimat syukur ke Tuhannya. Berbagai alat dan kabel menempel di tubuh seorang gadis dengan mata yang masih terpejam, beberapa monitor dengan layar kaca juga ada di sana. Ia tidak tau pasti apa namanya, yang jelas ia bersyukur adiknya masih dalam keadaan hidup. Kata dokter, kondisinya sudah lumayan membaik. Adalah suatu mukjizat saat seseorang masih hidup setelah mengalami dua kecelakaan sekaligus. Terlebih, saat dokter bilang Rinda mengalami penyembuhan dan pemulihan yang sangat cepat. Padahal kondisinya banyak kehilangan darah kala itu, tapi anehnya kondisi tubuhnya tidak membutuhkan transfusi darah. Luka terseret aspal yang kala itu terlihat di sana-sini, anehnya sekarang sudah tidak ada. Sudah lima hari lima malam gadis itu tidak sadarkan diri. Dan selama itu pula Satria setia menunggui. Nathan ikut menemani, tapi tidak lama memilih pulang lagi.
Pagi ini, jemari gadis itu bergerak-gerak. Satria yang berada di sisinya, harap-harap cemas saat melihatnya. Lalu kelopak matanya terbuka perlahan. Sungguh, suatu nikmat yang sangat besar baginya, saat menyaksikan adiknya sadar dari komanya, selamat di antara hidup dan matinya. Mengingat, bagaimana dulu ia dihubungi oleh seseorang yang tidak dikenal. Katanya gadis kecilnya mengalami kecelakaan parah, bahkan kemungkinan hidupnya kecil. Lalu mengalami kecelakaan tragis lagi. Sungguh keadaan saat itu rasanya Satria seperti sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bisa melihat Rinda membuka mata.
Matanya berembun kala gadis itu meliriknya lewat ekor matanya lalu mengucapkan kata 'kakak' seraya tersenyum dengan terpaksa. Lalu menetes juga air mata yang mati-matian ia tahan.
"Kamu bangun, Dek? Kakak senang banget. Terima kasih Ya Tuhan." Rasa haru memenuhi rongga dadanya, rasanya ia ingin menangis dengan terisak saking bahagianya.
Kini adiknya sudah sadar penuh, matanya terpaku pada keluarga satu-satunya itu.
"Apanya yang sakit? Kasih tau kakak, bagian tubuh mana yang sakit, kakak panggilkan dokter, ya?" ucapnya sambil bergegas keluar.
"Cantik." Ucap Rinda dengan suara serak yang membuat Satria menghentikan langkahnya seketika. Kata pertama yang keluar dari mulut gadis itu pasca sadar dari komanya adalah cantik.
"Dek, apanya yang sakit?" Satria mengulangi pertanyaannya.
"Cantik." Demikian hanya itu yang keluar dari mulut adiknya. Bibirnya tersenyum seraya menatap sekitar, lalu menatap Satria dengan seksama.
"Tadi ada banyak warna kelabu di ruangan ini, lalu kenapa tiba-tiba jadi warna biru, cantik banget Kak." pelan sekali Rinda bersuara, mungkin masih lemas kondisinya. Tapi Satria bisa mendengar dengan jelas. Kedua alisnya mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan yang dimaksud Rinda.
"Kamu ngomong apa, Dek?" tanya Satria penasaran.
"Ahhh aku baru tau, ternyata warna birunya dari wajah kakak." Gadis itu tersenyum menatap Satria dengan polos. Matanya berbinar melihat ke sekeliling.
Kini Satria semakin dibuat tidak mengerti. Rasa takut menghampirinya, takut Rinda mengalami kerusakan sel saraf atau sel otak yang membuatnya tidak bisa menjadi Rinda yang dulu. Akhirnya, laki-laki dengan badan tegap itu memilih memanggil dokter.
Dokter perempuan dengan jas putih masuk, di lehernya menggantung alat deteksi, stetoskop. Satu orang perawat membuntuti dengan membawa berkas, rekam jejak kondisi Rinda dari hari ke hari.
Sang dokter menempelkan stetoskopnya ke d**a gadis itu, lalu turun ke perut. Satria menceritakan keadaan Rinda saat pertama kali tersadar dari komanya sampai dengan ucapannya yang aneh, mendengar hal itu Rinda mencebik.
"Rinda baik-baik aja kok, Kak. Rinda gak aneh." protesnya.
"Baik, kondisi jantung sama parunya bagus. Organ lainnya bagus tidak ada masalah. Suster, coba cek suhu tubuhnya dan tekanan darahnya, ya." titah sang dokter yang langsung dijalankan oleh perawat.
Perempuan dengan topi perawat di kepalanya itu menempelkan termometer di ketiak Rinda, lalu membalut tensimeter di lengan kanannya. Sementara sang dokter mengeluarkan penlight dari kantong jasnya, memeriksa mata Rinda dengan senter.
"Suhu tubuhnya 36,4. Tensi darahnya 120/80, Dok." tutur perawat saat alat-alat yang dipasangnya selesai bekerja, lalu menulisnya di berkas yang ia bawa.
"Ya, bagus normal. Kondisinya langsung membaik. Saya tidak mengerti, tapi ini adalah mukjizat dari Tuhan. Kalian harus bersyukur terutama Rinda yang masih diberikan keselamatan dan kehidupan oleh Tuhan.” Ucap dokter perempuan tersebut menatap Rinda dan Satria bergantian.
“Iya, Dok. Saya sangat bersyukur adik saya selamat.”
“Rinda ada yang dikeluhkan tidak?" tanya dokter.
"Engga ada. Tapi saya seperti melihat ada banyak warna di ruangan ini." Jawab Rinda seraya menatap orang-orang di sekelilingnya dengan seksama. Sang dokter hanya tertawa.
"Mungkin karena baru sadar, jadi matanya masih berkunang-kunang. Kemarin 'kan sudah di rontgen semua organ dalam Rinda, sejauh ini tidak ada yang bermasalah. Secara keseluruhan kamu sudah sangat baik kondisinya. Mungkin tidak akan lama di rumah sakit." ucap sang dokter begitu positif membuat Rinda dan Satria menyunggingkan senyum lega.
Sementara sang perawat yang mengikuti dokter cantik tersebut nampak menggelengkan kepala dan memandang Rinda dengan tatapan aneh.
'Gak masuk akal. Mengalami dua kecelakaan parah sekaligus, seharusnya udah mati kalo dia manusia normal. Bukankah dia kehilangan banyak darah, bahkan pembuluh darahnya sampai pecah? Di saat kondisi sopir sama tim medisnya mati mengenaskan, kenapa gadis ini masih hidup sendiri dan sekarang bisa sembuh dengan secepat ini? Kematian sopir sama tim medis itu seperti menebus kehidupannya dia. Seperti tumbal, gadis ini membawa petaka.'
Menatap nanar sang perawat, wajah Rinda merah padam karena emosi.
"Jangan sembarangan ya, Suster. Punya mulut tuh dijaga." ucap Rinda tiba-tiba sambil menunjuk-nunjuk wajah sang perawat, membuat seisi ruangan terheran-heran.
"Kamu ngomong apa, Dek?"
"A-apa maksudnya?" Tanya perawat dengan terbata.
Tiba-tiba Rinda menangis, hatinya sakit saat orang memandangnya sebagai pembawa petaka dan menumbalkan orang lain untuk kehidupannya yang kedua. Memangnya, semua yang terjadi padanya kala itu adalah kehendaknya? Rinda bukan Tuhan yang bisa berkehendak seperti itu.
"Dek, kamu kenapa?"
"Rinda bukan orang pembawa sial, Kak." Menangis Rinda dengan sesunggukan. Entah kenapa ia mendengar kalimat jahat perawat tersebut.
"Memangnya siapa yang bilang kaya gitu, Dek? Engga ada."
"Perawatnya bilang gitu, Rinda dengar tadi." jawabnya makin terisak, membuat orang-orang yang berada di ruangan tersebut saling berpandangan, tidak mengerti.
"Ya ampun, Dek. Kamu kenapa? Dari tadi kita semua gak ada yang ngomong begitu. Dari tadi perawatnya diam aja, lho. Kakak gak dengar ada yang bilang kamu pembawa sial." ucap Satria yang langsung diangguki oleh perawat sampai berkali-kali.
"Demi Tuhan Rinda dengar, dia bilang harusnya Rinda udah mati, Kak."
"Rinda kamu jangan ngomong begitu, gak sopan. Jangan aneh-aneh. Ayo minta maaf sama perawatnya." Satria begitu heran, tapi Rinda masih terisak dengan tangisnya.
Satria semakin tidak mengerti, kebahagiaannya yang luar biasa dengan kesadaran Rinda, kini seperti runtuh karena sikap Rinda yang aneh. Dia terlihat seperti orang gila, hanya saja nyambung diajak berbicara. Sang dokter hanya terdiam mengamati dengan alis bertaut dan dahi berkerut. Di sisi lain sang perawat hanya bisa menatap nanar, mukanya pucat pasi. Keringat membanjiri. Antara rasa takut, aneh dan tidak habis fikir bercampur aduk jadi satu. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, sang perawat segera undur diri dan meninggalkan ruangan itu.
Aneh, gadis yang sangat aneh. Kenapa gadis itu bisa mendengar apa yang ia ucapkan dalam hatinya? Pikirnya sambil berjalan cepat menelusuri lorong rumah sakit. Sungguh, lain kali dia tidak mau datang ke ruangan itu lagi. Lain hari, dia tidak mau bertemu dengan pasien yang bernama Rinda Ashika lagi. Gadis itu ... begitu mengerikan!!!
***