"APAAAAA?" Suara Satria meninggi. Matanya membulat kaget mendengar adiknya berbicara seperti itu.
"Kamu ngomong apa Rinda?" tanya Satria sekali lagi, seakan-akan apa yang ia dengar barusan adalah karena ia salah dengar.
"Aku cuma nanya, di mana kakak nemu wanita macam kayak dia?" Rinda menatap Melinda dari atas sampai ke bawah, sedang yang ditatap terdengar napasnya memburu menahan emosi.
'Kurang ajar! Bocah kurang ajar! Dia bilang nemu di mana? Dikira gue sampah? Pengen gue tonjok aja mulutnya yang gak sopan itu!'
'Nahkan!' Rinda membatin. Mendengar segala u*****n wanita tersebut di dalam hatinya. Benar-benar wanita di hadapannya ini bukan wanita baik-baik.
"Kenapa kamu ngomongnya begitu, Dek? Bersikap sopanlah sama yang lebih tua. Rinda-nya kakak enggak kaya gini." Satria melembutkan suara, mencoba bersikap sabar.
"Aku sopan sama semua orang, kecuali sama orang-orang yang berniat pi-cik." Rinda menekan kata 'picik' sambil matanya mengarah ke Melinda saat mengucapkan kata tersebut.
"Siapa yang picik?"
"Ini wanita yang kakak bawa!" Bahkan seakan tak sudi Rinda mengucap nama gadis yang dibawa kakaknya.
"Ngomong apa kamu, Dek? Melinda ini orang baik. Kamu baru pertama kali ketemu sama dia kenapa bisa ngomong dia picik? Ayo minta maaf!" titah Satria. Rinda bergeming, ia membuang muka dengan tangan dilipat di d**a.
Lalu tiba-tiba saja terdengar suara isakan. Matanya melihat ke arah Melinda yang kini sedang terisak-isak sambil menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.
"Hu hu ... kenapa adik kamu bilang aku picik, Sayang? Aku ada salah apa sama dia, jujur aku sakit banget diginiin. Hu hu hu ...." ucapnya sambil menangis tersedu-sedu. Sedang Satria terlihat tidak enak dengan ekspresi wajah penuh rasa bersalah.
"Cih!" Rinda mendecih sinis. Ternyata selain picik dia juga jago akting, pikirnya. Tapi, kenapa kakaknya membawa wanita asing sebagai kekasihnya? Bukankah kekasih Satria adalah Laudya? Seorang wanita yang ramah dan selalu tersenyum, yang terpenting Rinda sudah sangat menyukainya, karena mereka pun sudah sangat dekat layaknya adik dan kakak kandung.
"Maaf, Mel. Adikku baru kecelakaan, belum sepenuhnya pulih kesehatannya. Mungkin dia ingin perhatian lebih dariku, jadi imbasnya emosi saat melihatku malah membawa kamu ke sini." ujar Satria mencoba memberi pengertian. Untuk saat ini itulah yang ia sangka mengenai perubahan sikap adiknya. Ia menenangkan Melinda agar tidak salah paham juga.
"Maafin kakak Dek, kalau kamu keberatan. Kakak cuma mau ngenalin pacar kakak ke kamu. Lagi pula Melinda ingin ketemu dan ngejenguk kamu, Dek. Dia punya niat yang baik. Dia juga sedih ngedenger adik kakak ini baru pulang dari rumah sakit karena kecelakaan."
Rinda terdiam tak menyahut. Apapun yang kakaknya katakan Rinda tidak percaya. Sebab di depan matanya sendiri, ia melihat segala kelicikan wanita tersebut.
"Kamu jangan begitu, ya? Sayangi dan hormati Kak Melinda sama seperti kamu menyayangi kakak. Minta maaf, ya?"
Kali ini Rinda tertunduk. Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas jangankan mau memanggil wanita itu 'kakak', memanggil namanya saja Rinda tak mau.
"Kak ...."
"Ya?"
"Kemana Kak Laudya? Kenapa kakak bukan ajak Kak Laudya, malah wanita lain ke sini?"
Deg!
Mendengar Rinda menyebut nama ituz gejolak emosi kembali menguasai hati Melinda, tangannya mengepal dengan tatapan benci ke arah gadis 20 tahun tersebut. Kesal sekali rasanya, saat mendengar nama wanita yang dibencinya itu disebut. Secara terang-terangan pula, Rinda memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap dirinya, dan malah menanyakan orang lain tepat di hadapannya
saat ini. Apa yang dilakukan Rinda benar-benar membuat emosinya naik.
Satria menghela napas, campur aduk rasanya. Kaget dengan sikap Rinda yang bisa dibilang kurang ajar pada orang yang lebih tua, mau memarahi tapi tak kuasa karena adiknya baru saja sembuh. Rasa tak enak hati dan merasa bersalah pun memenuhi hatinya pada Melinda. Sekarang adiknya malah menanyakan pula seseorang yang sudah ia benci dan mencoba mati-matian ia lupakan. Ya, Laudya. Seorang wanita yang pernah mengisi hatinya begitu lama dan begitu dalam. Kenapa harus disebut? Tapi ia juga tidak bisa menyalahi Rinda, karena memang adiknya itu belum tahu apapun.
"Kamu gak usah bahas wanita itu lagi, Rinda. Kakak sudah putus sama dia. Sekarang yang ada di masa depan kakak ini cuma Melinda. Dan kamu harus mengerti itu. Kakak harap kamu bisa bersikap baik dengan calon kakak iparmu ini. Karena dia akan jadi keluarga kita nanti."
Rinda tertegun, calon ipar? Matanya membulat dengan kening mengkerut.
"Ca-calon ipar?" gumamnya begitu syok. Tak sudi! Rinda sungguh tak sudi!
Dilihatnya wanita yang memakai dress selutut di hadapannya itu, ia tengah menyunggingkan senyum licik penuh kemenangan. Sayang, hanya Rinda yang melihat itu karena Satria tengah menatapnya lekat-lekat.
'Bagus! Rasain kamu bocah! Kalau sudah jadi nyonya di rumah ini, akan kubuat kamu menyesal karena sudah bersikap kurang ajar hari ini! Tinggal selangkah lagi, aku bisa porotin kekayaannya Satria. Yang terpenting ambil hatinya, dapati kepercayaannya. Kalau sudah dapat kepercayaan Satria, aku mau ngomong apapun pasti dia bakal percaya sama aku. Abis itu tinggal aku fitnah adiknya aja yang enggak-enggak, biar tahu rasa! Hihi, mampus kau bocah kurang ajar!'
Rinda memejamkan mata, mendengar kalimat yang begitu kasar dan niat yang begitu jahat yang Melinda ucapkan di hatinya. Tangannya mengepal karena emosi.
Sedangkan Melinda dengan santainya ia malah melihat sekitaran rumah dengan pandangan takjub. Merasa tak sabar untuk menjadi nyonya rumah di sana dan menyetir keuangan Satria.
"Biasa aja ngeliatin rumah ini, baru ya masuk ke rumah mewah?" Rinda berceletuk, begitu menusuk. Melinda membulatkan matanya, harga dirinya terasa diinjak-injak oleh gadis yang lebih muda tujuh tahun darinya.
"Rinda!" Satria berteriak marah, wajahnya memerah merasa benar-benar tak habis fikir, Rinda yang dulu selalu sopan, ramah, ceria kenapa sekarang menjadi lancang dan kurang ajar seperti ini?
Sedangkan Rinda nampak berdiri kokoh. Meski sedih dibentak kakaknya sendiri, tapi toh Satria tidak tahu apa-apa. Andaikan Satria tahu hal yang sebenarnya, pasti dia juga tak akan sudi memiliki pacar matrealistis seperti Melinda, yang hanya mengincar hartanya saja.
"Kakak gak tahu apa-apa. Tapi aku tahu wanita ini gak tulus mencintai kakak." sentaknya juga tak mau kalah.
"Stop Rinda, stop!"
"Kakak boleh gak percaya sama aku, tapi suatu saat kakak pasti tau kebenarannya."
"Hiks ... Rinda, aku gak ngerti kenapa sepertinya kamu benci banget sama aku? Aku cinta banget sama kakakmu, Rinda. Tulus. Kalau kamu benci sama aku, boleh. Tapi tolong jangan katakan aku hanya mengincar harta Satria. Itu semua fitnah terkejam yang pernah ada seumur hidupku." Isak Melinda di sela-sela pembicaraannya.
Rinda terdiam mengamati warna yang berada di sekitar Melinda, gelap. Warnanya kehitaman. Rinda tahu, apa yang diucapkan Melinda barusan adalah suatu kebohongan. Memang tidak salah lagi, Melinda orang jahat. Satria yang mendengar kesedihan Melinda segera mengusap bahunya pelan,
"Maaf, Mel. Maaf. Kita pulang dulu sekarang ya. Adikku butuh beradaptasi dengan orang baru. Aku antar, ayo ...." Tanpa menoleh lagi pada Rinda, Satria langsung mengajak Melinda pulang, yang langsung dituruti oleh wanita yang memakai dress selutut itu.
"Iya, aku mau pulang aja. Aku gak kuat lama-lama di sini. Huhu ...." isaknya kembali.
"Aku gak mau kak, punya kakak ipar seperti dia!" Sebelum menghilang di balik pintu, Rinda berujar kencang.
Satria menghentikan langkahnya, menatap adik satu-satunya itu dengan pandangan tidak mengerti.
'Lancang, tidak sopan, keras kepala!' makinya spontan dalam hati. Lalu ia kembali meneruskan langkahnya dengan emosi yang menguasai d**a.
Rinda tersentak ke belakang, saat kalimat tersebut terdengar di telinganya. Ada bagian di hatinya yang tersayat saat keluarga yang amat disayanginya itu mengumpat tentang dirinya. Tanpa terasa air matanya menetes. Ia menangis, luruh juga pertahanannya.
"Huhu ... aku gak seperti itu, Kak. Andai kakak tahu, aku hanya ingin menyelamatkan kakak." isaknya tertahan.
"Aku lihat semuanya." Tiba-tiba saja Susi yang duduk di atas lemari berujar. Buru-buru Rinda menghapus air mata.
"Kamu benar, Rinda. Wanita itu bukan orang baik-baik. Dia hanya mengincar harta kakakmu saja. Kamu harus melindungi kakakmu dari dia. Jangan sampai rencananya untuk menguasai harta Kak Satria itu bisa tercapai."
"Aku juga tidak akan membiarkan itu, Susi." ujar Rinda sambil mengepalkan tangan.
***
"Kakak gak suka sikap kamu tadi, Rinda. Kemana sikap kamu yang sopan dan ramah itu? Kenapa kamu jadi kurang ajar begitu?" Satria menginterogasi saat ia sudah kembali lagi ke rumah. Bahkan ketika masuk rumah bukan salam yang diucapkannya, tapi malah kalimat interogasi itu yang langsung ia ungkapkan.
"Maaf, Kak. Aku cuma mau lindungi kakak." sahut Rinda lemah.
"Lindungi apa? Memangnya Melinda kenapa?"
"Dia gak tulus sayang sama kakak, dia cuma mau mengincar harta kakak. Apa lagi saat dia bilang tulus mencintai kakak, warna di sekitarnya langsung hitam. Artinya ucapan dia itu bohong, dia bohong! Demi Tuhan dia bohong!"
"Bohong?"
"Ya."
"Kenapa kamu bisa bilang bohong?"
"Warna suaranya hitam gelap. Artinya dia berbohong."
Satria tersenyum kecut merasa tak habis fikir. Apa lagi ini? Warna kebohongan? Apa maksudnya?
"Warna, warna, warna. Kamu selalu bicara warna. Warna hitam apa yang kamu maksud? Oh, mungkin yang kamu lihat hitam itu tas Melinda yang dia pakai tadi!" Satria menyerocos, Rinda menggeleng keras-keras.
"Percayalah, Kak. Dia orang picik."
"Kakak kecewa banget sama kamu, Rinda."
"Kakak harus percaya sama aku. Dia orang jahat!"
"Atas dasar apa kakak harus percaya sama ucapan kamu yang ... ngelantur?"
Rinda membulatkan mata, sedih sekali saat semua ucapannya dibilang ngelantur.
"Aku gak ngelantur, Kak." Lirih sekali Rinda berucap, kepalanya tertunduk. Air matanya kembali menetes.
"Semenjak bangun dari koma, kamu selalu bicara aneh Rinda. Bahkan kamu sering nuduh orang-orang berbicara kasar, padahal dia gak terdengar ngomong apapun. Kakak masih ingat keanehan kamu pertama kali di depan suster dan dokter waktu itu. Dari hari ke hari, ucapan kamu juga sering aneh dan gak masuk akal." Satria berujar.
"Mulai besok, Rinda ayo kita datang ke psikolog."
Rinda mengangkat wajah, menatap kakak satu-satunya itu dengan pandangan terluka. Matanya mulai berembun,
"Apa kakak pikir, aku ... gila?" tanyanya terdengar menyedihkan.
Satria diam saja. Memijat pelipisnya seakan-akan ia tengah dilanda kepusingan yang besar. Melihat kakaknya yang hanya diam saja, air mata Rinda kembali menetes.
"Aku gak gila, Kak. Aku gak gilaaa!!!" Setengah teriak ia berucap, lalu bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar.
***