"Gawat! Aku gak bisa diam aja. Tapi aku harus gimana?" Rinda menggigit bibirnya yang tipis sambil menatap ke mobil merah di sampingnya yang berisi dua insan. Laki-laki dan perempuan yang keduanya duduk berdampingan. Sesekali laki-laki yang sedang memegang stir itu melirik wanita di sampingnya sambil meneguk ludahnya sendiri. Matanya membulat, saat melihat akhir dari rencana jahat laki-laki itu adalah ... Pembunuhan. Deg! Ya! Pembunuhan! Laki-laki itu sudah merencanakan segalanya dengan begitu matang, laki-laki itu juga sudah merencanakan agar ulahnya tidak sampai kepada polisi maka ia harus menghabisi wanita di sampingnya. Mulut Rinda kini menganga, keringat sebesar biji jagung menetes dari dahinya. Gadis yang sedari tadi terus mengulas senyum itu dalam sekejap langsung berubah ekspr

