Melinda melepas sepatu heelsnya yang mulai terasa sesak di kaki. Kepalanya celingukan, masih berharap ada taksi yang lewat. Tapi jalanan ini sangat sepi, jangankan taksi motor saja hanya ada beberapa yang lewat.
"Ahh sial banget. Ini lagi rumahnya Resa kenapa harus jauh dan ngelewatin tempat sepi begini."
Malam ini Melinda memang berniat ke rumah teman dekatnya yang bernama Resa. Resa adalah orang yang sedikit banyak selalu memberi masukan dalam setiap rencana Melinda. Wanita itu juga punya pengalaman yang sangat baik dalam mengincar harta para lelaki, sehingga mereka sangat klop dan cocok sekali berkawan. Malam ini ia ingin bercerita banyak sambil meminta pendapat pada Resa untuk mencari cara menjebak Satria dengan sukses tanpa kendala seperti tadi. Sebab Resa selain licik juga sangat cerdik dalam mengatur siasat. Melinda merasa harus banyak belajar darinya. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, entah setan apa yang merasuki dirinya. Sehingga yang selalu dikejar oleh Melinda hanyalah nilai-nilai keburukan.
Langkahnya berhenti untuk mengambil handphone. Ia lupa tidak mengabari Resa mengenai kedatangannya, wanita itu bermaksud selain mengabari dia pun meminta untuk dijemput. Sebab sudah tidak mungkin ada taksi yang lewat di jalan sesepi ini. Dia tidak sudi naik ojek, duduk di belakang seorang pengemudi yang sudah ia vonis mereka pasti bau dan menjijikkan.
Namun sialnya kini bertambah, ternyata handphonenya mati karena kehabisan baterai. Wanita itu berdecak, merasa apa yang dialaminya malam ini benar-benar sial yang bertubi-tubi.
"Aaarrrrgggggghhhhhh," teriaknya merasa frustasi.
"Sial, sial, sial!!!" Makinya entah pada siapa.
Ia melanjutkan kembali perjalanan sampai kemudian tidak jauh dari tempatnya ada sebuah saung yang sepertinya tak terpakai, di dalamnya ada beberapa orang laki-laki yang entah sedang apa tidak terlihat jelas di matanya. Melinda cuek saja berjalan dengan wajah tertekuk kesal. Sampai kemudian,
"Wah ada cewek cantik lewat!"
"Mana, mana?"
"Kebetulan sendirian."
"Ahh sikat aja, rejeki nomplok ini namanya. Jangan ditolak, hahahaha ...."
Mata Melinda membulat mendengar obrolan empat orang yang berada di sana, keempatnya kini tengah menatapnya menyeringai. Jantungnya mendadak berdebar kencang, rasa takut yang selama ini tak pernah hadir dalam hidupnya kini begitu cepat menjalar memenuhi hatinya.
"Aku harus cepat." gumamnya lalu melangkahkan kaki lebih cepat, setengah berlari.
"Hey cantik, mau kemana? Sendirian aja, kita temenin ya?" goda salah satunya sambil tertawa-tawa.
"Ehh dia jalan cepet tuh, kejar cepetan."
Kini Melinda berlari, ia takut, sungguh takut. Mengapa rasa takut itu baru datang sekarang? Di saat dirinya sedang dikejar oleh empat orang laki-laki yang berjalan sempoyongan?
Larinya semakin cepat saat laki-laki di belakangnya ikut berlari, sampai kemudian salah satu dari mereka berhasil meraih tangannya dan membuatnya tertangkap.
"Lepas, lepas!" Teriak Melinda meronta-ronta. Mereka tertawa-tawa, bau alkohol menusuk indra penciuman.
"Emmm mangsa kita malam ini, siapa yang mau duluan?"
"Lepasin, dasar b******n! Tolongg .... toloongggg!!!" Tubuh wanita itu bergetar ketakutan, ia berharap ada bantuan yang datang. Walau hanya motor sekali pun, ia berjanji akan tidak bersikap sombong seperti tadi. Mengabaikan bahkan sampai bersikap kurang ajar pada pria tua yang mau menolongnya.
"Huhuhuhu tolooonnngggg!!!" Melinda meraung-raung, tubuhnya digiring dua orang menuju semak-semak. Dua orang lain mengikuti. Sekuat apapun wanita itu berontak, tapi tak ada secuil pun ia dapat menggoyahkan pria yang menangkapnya yang tengah dikuasai setan.
"Tolooonnnggggg!!!" Suaranya terdengar nyaring memecah keheningan malam, tapi langsung hilang terbawa angin. Di tengah kegelapan yang sepi hanya terdengar suara jangkrik bersahutan. Tubuhnya di dorong dan tersungkur di ilalang.
"Tolong lepasin saya. Kalau kalian mau lepasin saya, saya janji akan kasih uang yang banyak ke kalian." tawar Melinda yang kini sudah terisak-isak. Bukannya tertarik, empat orang di hadapan mereka malah tertawa terbahak-bahak.
"Loe tertarik?" tanya salah satu dari mereka kepada rekannya.
"Gue lebih tertarik sama tubuhnya. Buahahahaha ...."
"Hahahah, dia pikir bisa nyogok kita dengan uangnya? Asal loe tau aja, kita emang lagi butuh cewe. Hahahaha ...."
Mereka tertawa-tawa, menikmati pemandangan di depan mata dimana seorang gadis terduduk ketakutan dengan air mata berlinangan.
"Iya sayang nanti kita lepasin, tapi sekarang kita senang-senang dulu, ya? Abis itu kita janji kamu kita lepasin. Hahahaha ...."
"Dasar laki-laki setan semuanya, b******k! Kalian jelek semuanya, bau, dekil. Pergi dari hadapanku, kalian menjijikkaaannnnn!!!" Melinda berteriak penuh emosi, membuat empat orang pria yang tengah tertawa-tawa itu langsung terdiam dengan wajah sangar.
"Wah sombong banget nih cewek, pengen gue gampar mulutnya tapi nanti takut gak enak diciumnya."
"Cewek sombong begini emang bagusnya dikasih pelajaran!"
"Yaudah kita mulai aja pesta kita. Gue duluan deh. Kalian tunggu, gih." Satu orang pria menatapnya menyeringai sambil membuka resleting celana jeansnya.
"Biasaan nih bos, kita mah dapat belakangan terus. Hahahaha ...."
"Yaudah ngalah ajalah, daripada besok gak bisa minum lagi. Kan dia yang ngebayarin terus."
"Bener juga. Hahahaha ...."
Melinda mundur saat satu orang pria dengan kemeja kotak-kotak mendekatinya perlahan. Saat semakin mendekat Melinda mencoba berusaha menendang selangkangannya, tapi apes tendangannya tak mengenai sasaran. Pria di hadapannya bisa menghindar.
"Wahh mau mencoba melawan, ya?" ejek pria tersebut terlihat mulai emosi. Melinda ketakutan tapi begitu ingin melawan, melihat wajah pria di hadapannya rasa jijiknya datang kembali lalu ia meludahkan pria tersebut tepat di mukanya, hingga pria tersebut membulatkan mata kaget dan menatap Melinda nyalang.
"Huhuhu, laki-laki iblis!" teriaknya putus asa yang langsung di hadiahi sebuah tamparan keras hingga Melinda terkapar di rerumputan dengan sudut bibir mengeluarkan darah. Kepalanya pusing, hingga lambat laun kesadarannya menghilang.
***
Esoknya,
Seorang gadis ditemukan dalam keadaan tanpa busana di rerumputan tak jauh dari saung kopi yang sudah lama dikosongkan oleh pemiliknya. Saat ini kondisinya masih belum sadar, ada banyak memar di seluruh badannya. Tubuh bugilnya ditutupi koran, sementara orang-orang mengelilinginya dengan pandangan iba. Orang-orang yang lewat banyak yang berhenti karena penasaran dengan kondisi gadis tersebut.
Dia masih hidup, tapi dalam keadaan tak sadar. Sementara orang-orang tak ada satu pun yang berani mendekati atau bahkan menolongnya karena sudah diwanti-wanti oleh polisi untuk tidak menyentuh atau melakukan apa pun sebelum para polisi tiba.
Jam menunjukkan pukul enam pagi, wajah pucat dengan sudut bibir membiru dan mata yang terpejam rapat itu kini mulai mengerjap pelan. Matanya terbuka perlahan, lalu melihat ke sekeliling dengan raut ketakutan. Saat menyadari tubuhnya ditutupi koran dirinya langsung menangis sejadi-jadinya. Orang-orang yang melihatnya tak bisa banyak berbuat apa-apa, gadis yang menjadi korban p*******n itu tak dikenali oleh siapapun. Tidak ada tanda pengenal maupun handphone untuk menghubungi keluarganya, saat ditemukan hanya ada baju yang tergeletak di sampingnya, tidak ada satu pun barang bawaan di dekatnya.
"Sabar ya, Mbak. Sedikit lagi polisi datang." ujar salah seorang di sana untuk menenangkan gadis itu yang semakin menangis histeris.
Lalu satu orang memvideokan Melinda yang sedang menangis dengan kondisi badan yang ditutupi koran, hingga setelah mendapat durasi beberapa menit ia mengunggahnya di sebuah aplikasi media sosial terpopuler dengan caption yang seakan menyiratkan duka. Tak ada yang tahu maksud tujuannya, jauh di lubuk hatinya ia melakukan itu semua semata-mata hanya agar mendapat banyak sorotan dan unggahannya di bagikan banyak pihak. Ada yang memanfaatkan situasi di balik penderitaan seseorang.
Sampai polisi kemudian datang dan mengecek TKP, Melinda tak bisa memberi keterangan karena kondisinya yang trauma. Wanita itu hanya menangis dan menangis.
Akhirnya wanita yang semalam sempat berteriak saya mau diperkosa, pagi harinya ditemukan dalam keadaan mengenaskan setelah benar-benar diperkosa dan digilir oleh empat orang secara bergantian.
***
Pagi ini di ruang makan Rinda dan Satria sedang menikmati sarapan bersama. Wajah Satria terlihat cerah dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Senang banget kak, ada apa?" tanya Rinda yang sangat menyadari perubahan ekspresi Satria yang belakangan ini jarang ia lihat.
Satria masih mengunyah makanannya, ia ingin bercerita mengenai hubungannya dengan Laudya yang kembali seperti dulu, tapi urung diucapkan. Mungkin suatu saat nanti Rinda akan tahu sendiri, pikirnya.
Sedangkan Rinda sendiri ada hal yang sangat ingin ia sampaikan. Sekarang dia sudah tahu bahwa kakaknya sudah melepaskan Melinda, tapi kebenaran mengenai Laudya sepertinya kakaknya masih belum tahu itu.
"Kak, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan."
"Apa, Dek?"
"Waktu itu aku sempat bertemu sama Kak Laudya, dia cerita banyak mengenai hubungan kalian. Termasuk ... alasan putus kakak sama dia."
Satria terdiam mendengarkan ucapan adiknya, belum mengerti apa yang hendak diucapkan Rinda.
"Kak, kakak sekarang percaya sama kemampuan aku, kan?" tanya Rinda.
Satria mengangguk,
"Percaya, Dek."
"Kalau begitu kakak harus percaya, bahwa anggapan kakak ke Kak Laudya bahwa Kak Lau selingkuh itu hanya salah paham semata. Aku udah melihat semua itu dari dalam diri nya, dan dia gak berbohong." Rinda berujar berharap Satria mau mengerti. Sedangkan Satria sendiri hanya tersenyum menanggapi kejujuran adiknya.
"Jadi kamu melihat itu, Dek? Bahwa dia gak bersalah seperti yang kakak tuduhkan?
Rinda mengangguk.
"Aku melihat warna suaranya yang alami, gak ada kebohongan sama sekali."
"Kakak percaya itu, Dek. Hubungan kami sudah membaik, bahkan ... lebih dari itu."
"Maksudnya?"
"Kakak udah balikan lagi sama Laudya, Dek."
"Wah serius, Kak?"
"Iya ... baru semalam."
Wajah Rinda berbinar senang, akhirnya apa yang diinginkannya tercapai sudah.
"Hmmmm pantesan, dari tadi kakak senyam senyum aja gak jelas. Gak taunya abis balikan sama mantan. Cieee ...."
Satria tertawa lalu mengacak rambut adiknya hingga Rinda kesal.
"Ish, kakak. Orang mau berangkat kuliah malah ngacak-ngacaak rambut orang."
"Cantiknya gak berkurang, kok." Satria tertawa lebar.
"Semalam sebenarnya ada kejadian yang hampir aja buat kakak masuk penjara, Dek."
"Hah? Ada apa, kak?"
"Pas kakak mau pulang abis meeting sama teman, kakak dijegal Melinda. Dia ngajak balikan kakak. Udah gak ada tempat untuk Melinda, Dek. Kakak tolak halus. Gak disangka wanita itu malah teriak minta tolong, dia teriak kalau kakak ini mau perkosa dia. Puncaknya, dia malah ngendaliin tangan kakak lalu merobek baju yang dia kenakan sendiri. Dengan bukti itu dia bilang, bahwa kakak mau melecehkan dia. Sedikit lagi kakak mau dibawa ke kantor polisi sampai akhirnya Laudya datang. Dia menyelamatkan kakak, dan menjadi saksi bahwa dia melihat Melinda sendiri yang merobek bajunya. Semua ini karena Laudya, Dek. Andaikan dia nggak ada, entah gimana nasib kakak di kantor polisi."
Rinda nampak tercengang tidak menyangka dengan ulah Melinda.
"Kakak sangat bersyukur bisa lepas dari wanita licik seperti dia. Dan itu semua berkat kamu, Dek. Andaikan kamu gak membongkar wajah asli Melinda yang sebenarnya, sampai saat ini pun pasti kakak masih terjerat oleh wanita ular itu."
"Semua ini udah kewajiban aku, Kak. Kakak jangan merasa berhutang budi gitu. Karena kakak adalah keluarga aku satu-satunya, wajib bagi aku untuk melindungi kakak dengan caraku."
Satria tersenyum.
"Kamu udah dewasa ya, sekarang."
Rinda terkekeh. Mereka melewati pagi itu dengan sarapan bersama dan saling bercerita banyak hal. Setelah sarapan selesai Rinda membuka handphonenya sebelum berangkat ke kampus, perempuan itu memilih untuk membuka media sosialnya yang berwarna biru. Baru membuka handphone, Rinda langsung dibuat terkejut setelahnya. Di sana, nampak teman-temannya banyak membagikan sebuah postingan yang didalamnya berisi sebuah video seorang wanita yang sedang histeris di tengah rerumputan dalam keadaan tubuh yang telanjang dan ditutupi koran.
Deg!
Wanita ini kan ...,
"Melinda?" pekiknya tak percaya.
***