**
Sampai di meja kerjanya, Tiya segera menyiapkan semua dokumen yang akan ia bawa untuk mendampingi Pak Alex meeting penting dengan client di sebuah hotel bintang lima. Karakter bossnya yang perfeksionis membuat Tiya harus berkali-kali memeriksa pekerjaannya.
"Apa kau mau aku meluruskan rambutmu, Tiya? Kau salah menulis laporan!" Itu kalimat pamungkas saat Pak Alex tidak puas dengan hasil kerja anak buahnya.
"Jika kau berani meluruskan rambutku maka aku akan meratakan perutmu!" gerutu Tiya dengan suara yang super pelan dan mulut komat-kamit. Perut Pak Alex yang condong ke depan layaknya ibu hamil tujuh bulan seringkali membuat Tiya menjadi gemas. Ingin rasanya ia meninju bongkahan penuh lemak itu dengan kepalan tangannya.
"Apa yang kau bilang, Tiy?" tanya Pak Alex sembari memilin ujung kumisnya yang tebal.
"Tidak ada, Pak," jawab Tiya kemudian tersenyum dan segera pergi sebelum lelaki itu semakin naik darah.
Dan karena mengingat hal itu, Tiya terpekur menatap laptop dan juga dokumen yang akan ia bawa untuk pertemuan penting pagi ini, memastikan jika tidak ada kesalahan ataupun berkas yang tertinggal dan membuatnya terkena masalah.
Tiya menengok sebentar ke dalam ruangan bosnya. Lelaki setengah baya itu tengah sibuk bertukar suara dengan seseorang melalui panggilan telepon.
"Aman ... aku masih punya waktu untuk mempersiapkan semuanya," gumam Tiya kemudian kembali ke meja kerjanya.
"Tiya, apa kau tahu hari ini Pak Surya mengundurkan diri dari perusahaan kita?" tanya Joana rekan kerja Tiya. Wanita itu berbicara dengan suara pelan karena ini sudah masuk jam kerja.
"Mana aku tahu? Aku bukan ibunya!" jawab Tiya dengan tetap berfokus pada pekerjaannya.
"Tuk ... " Joana memukul pelan kening Tiya dengan pulpen yang dibawanya.
"Ya ampun! Kau ini suka kebiasaan ya, rasain ini .... " Tiya gantian mencubit lengan Joana dengan cukup kencang, bahkan lebih kencang dari hantaman ujung pulpen milik rekannya tersebut.
"Aow .... Tiykus ... Gila ...." teriak Joana disusul dengan berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya.
"Hmmmpgh!" Tiya membungkam mulut Joana agar berhenti berteriak.
"Diam! Apa kau mau si gendut yang di dalam sangkar itu memergokki kita bergosip saat jam kerja? Aku tidak peduli dengan Pak Surya kesayangamu itu! Pergilah! Kau bisa membuatku kena masalah!" sungut Tiya. Wanita itu melepas bungkaman tangannya dari mulut Joanna lalu mendorong pelan tubuh wanita itu agar menyingkir darinya.
"Iya, iya aku pergi! Dasar Tiykus!" ledek Joanna sembari menjulurkan lidahnya.
"Tiya!" Suara lantang dan ngebass milik Pak Alex terdengar menerobos gendang telinga Tiya yang masih normal.
"Siap, Pak!" sahut Tiya sambil memasang sikap siaga.
Untung saja Si Joanna sudah pergi. Pikir Tiya lega.
"Pak Erlando memundur waktu meetingnya," kata Pak Alex.
"Siap, Pak," sahut Tiya bersemangat.
Syukurlah aku masih memiliki waktu lebih lama untuk mengoreksi pekerjaanku. Bersyukur dalam hati.
"Tapi ... " What? Ada tapinya? Perasaan Tiya mulai tidak enak hati.
"Beliau meminta tempat meetingnya diganti. Dia tidak suka hotel yang kau pilihkan."
"Ti ... tidak suka? Tapi kenapa, Pak? Bukannya itu hotel termahal di kota ini?" tanya Tiya dengan nada memrotes.
"Mana aku tahu, Tiy? Aku sekedar mengiyakan apa yang assisten Pak Erlando katakan tanpa banyak bertanya. Beliau itu investor besar untuk perusahaan kita ini, jadi turuti saja apa katanya!" jawab Pak Alex dengan nada melengking.
"Ah iya, Paham, paham. Lalu mau dipindahkan kemana, Pak? Dan biaya untuk booking tempat yang sebelumnya juga sudah ditransfer. Ya Tuhan, uang segitu jika digunakan untuk membayar kos saya, saya bisa ongkang-ongkang kaki selama tiga bulan, Pak. Sayang sekali," papar Tiya panjang lebar dan merembet kemana-mana. Ketahuan sekali jika dia sangat membutuhkan uang dan harus menghemat banyak uang untuk hidupnya.
"Ambil saja lagi uang yang sudah ditransfer kalau kau mau!" ucap Pak Alex dengan mudahnya.
"Memang bisa, Pak?" tanya Tiya. Jiwa lugunya mulai bergejolak.
"Bisa! Selama kau mau rambutmu aku luruskan!" jawab Pak Alex galak sambil membelalakkan bola matanya.
Tiya memegang ujung rambutnya yang berbentuk spiral. "Selalu rambutku yang dijadikan sasaran."
"Jam sepuluh kita berangkat untuk meeting," ucap Pak Alex.
Tiya melihat jam yang melingkar di tangannya. "Ya Tuhan, ini sudah jam delapan lebih seperempat, Pak. Bagaimana cara saya mencari tempat dalam waktu sesingkat ini?" tanya Tiya. Eh, Tidak! itu sebenarnya bukan pertanyaan tapi aksi protes yang berkauflase menjadi sebuah pertanyaan.
"Itu urusan kau, Tiya! Itu pekerjaan kau! Setelah ini aku akan mengirimkan nomor assisten Pak Erland. Kalian berkoordinasi saja sendiri," jawab Pak ALex singkat kemudian masuk ke dalam ruangannya kembali.
Tidak lama, ponsel Tiya berbunyi. Sebuah pesan berisi kontak telepon seorang lelaki bernama Yoga, assisten Pak Erlando masuk ke dalam aplikasi w******p nya.
"Biar aku telepon saja," kata Tiya mengambil jalan pintas.
"Selamat pagi, benar dengan Pak Yoga saya bicara?" sapa dan tanya sekretaris cantik itu dengan sopan.
"Selamat pagi. Iya, Saya Yoga. Dengan siapa saya bicara?" jawab dan tanya balik Pak Yoga dengan sopan.
"Saya Tiya Areyla, Pak. Saya sekretaris pribadi Pak Alex Jayadripaja dari PT. The Best Company. Bisakah saya meminta waktu bapak sebentar?"
"Oh, Iya. Bagaimana, Nona?"
"Pagi ini dijadwalkan bahwa Pak Alex akan bertemu dengan Pak Erlando Rajeshwari di hotel Blue Moon, tapi menurut info yang saya dapat jika Pak Erlando tidak berkenan dengan tempat tersebut dan meminta untuk berganti ke tempat yang lain. Oleh karena itu, saya ingin tahu tempat yang bagaimana yang cocok dan sesuai keinginan Pak Erlando? Mohon maaf, Pak. Waktunya sangat singkat, saya takut jika pilihan saya tidak cocok dengan selera Pak Erlando," papar Tiya dengan gamblang mengutarakan maksud dan tujuannya menelepon.
"Iya, ini saya salah. Saya terlupa dan baru memberitahu Pak Erland pagi ini tentang tempat yang akan kita gunakan untuk meeting. Dan ternyata beliau memiliki kisah yang menyedihkan di tempat itu, Nona. Jadi beliau meminta untuk tempatnya diganti dan memundurkan waktu pertemuannya."
Kisah menyedihkan? Huft ... Aku tidak peduli kisah menyedihkan apa yang menimpa bosmu, Pak. Tapi yang pasti, Bos anda memberi pekerjaan tambahan untuk saya. Membuat pusing saja. Gerutu Tiya sambil memutar bola matanya.
"Lalu tempat apa yang tidak menyimpan kenangan buruk untuk Pak Erlando, Pak? Karena waktunya tinggal satu setengah jam lagi jadi saya tidak mau membuang waktu dengan menduga-duga." Iya, mengingat waktu yang singkat, Tiya memutuskan untuk langsung membicarakan sesuai point utama yang menjadi pokok permasalahan.
"Saya pun kurang paham, Nona. Saya assisten baru beliau, saya belum bisa mengenal Pak Erlando dengan baik."
"Ough ... jadi begitu. Hm, bisakah saya bicara langsung dengan bos anda? Itu pun jika beliau berkenan dan sedang tidak sibuk."
"Tunggu sebentar! Biar saya tanya dulu, Nona," kata Yoga.
Lelaki itu berjalan masuk ke dalam ruangan Bossnya. Seperti yang selalu ia lihat semenjak bekerja di sini, bossnya itu nampak sedang asyik melamun sambil menatap sebuah foto yang tersimpan rapi di dalam sebuah bingkai kecil yang tergeletak di atas meja kerjanya.