Chelsa menyiram semak mawar terakhir. Ia merapikan selang, sekop, dan plastik-plastik bekas menaruh bibit bunga yang sudah selesai ditanam semua. Seseorang menarik-narik ujung roknya. Chelsa menoleh dan mendapati seraut wajah mungil berbentuk hati tersenyum kepadanya, memperlihatkan gusi tanpa gigi. Chelsa berjongkok di depan Wina dan memeluknya. “Wina sudah mandi, ya? Cantik sekali. Wangi strawberry.” “Dah. Wina mau makan. Disuapi Kak Eca.” “Yuk. Kakak bereskan dulu semua alat-alat ini kemudian kita ke dalam. Kakak juga belum makan, kok.” Chelsa menggandeng tangan Wina yang montok. Ia menyimpan semua alat-alat berkebun di dalam gudang kebun kemudian mencuci tangan di keran. Wina ikut-ikutan mengulurkan tangan dan tertawa terpekik-pekik ketika Chelsa mencipratinya dengan air keran. “C

