Satu tahun kemudian. Chelsa berdiri di depan rumah berwarna putih itu sambil memegangi tali tas erat-erat. Ia ingin kembali ke hotel, membereskan pakaian dan pulang ke panti. Namun, Mira pasti akan sangat kecewa. Ambar menyentuh lengan Chelsa. “Ayo kita masuk. Mira pasti sudah menunggu kedatangan kita. Tidak baik membuat orang menunggu.” “Aku .... takut, Bu,” desah Chelsa. Ia mengambil tangan Ambar dan menggenggamnya erat-erta. Tangannya sendiri terasa lembab. “Tidak ada yang perlu kamu takuti lagi, Nak. Kamu sudah belajar banyak hal selama setahun belakangan ini dan semua itu membuatmu menjadi semakin kuat. Ibu melihat semua proses yang kamu jalani dan Ibu yakin kamu sudah melewati semuanya dengan baik.” Chelsa tersenyum dan mengeratkan pegangannya. “Chelsa!” Sebuah teriakan riang

