Bab 2. Namaku Chelsa

1294 Words
“Ini buat Kakak.” Lengan kecil itu terulur. Ada sebuah boneka kain perca yang lusuh di tangannya. Boneka itu kehilangan sebelah matanya yang terbuat dari kancing berwarna hitam dan ada robekan di sisi kanan kain perca yang menjadi bajunya. Chelsa mengambil boneka itu dan meraih tubuh kecil pemberinya sekalian. Harum minyak kayu putih dan bedak bayi membuat mata Chelsa berkaca-kaca. Ia tidak ingin menangis, tetapi matanya terasa panas. Ia meremas bahu mungil dalam pelukannya dan menyesap banyak-banyak aroma menyenangkan yang mungkin akan lama dari sekarang baru dapat diciumnya lagi. “Kalau Kakak sudah banyak uang, akan Kakak belikan boneka yang bagus untuk Wina, ya,” bisik Chelsa di telinga Wina—anak terkecil di panti asuhan Kasih Mentari, pemilik boneka perca itu. “Chelsa,” sebuah teguran lembut membuat Chelsa buru-buru menghapus air mata. Ia melepaskan pelukannya pada Wina dan berusaha mengurai senyum di wajahnya yang pucat. “Ibu.” “Nak, jangan memikirkan kami di sini, ya,” Ambar mengelus bahu Chelsa. “Kami akan baik-baik saja. Satu hal yang harus kamu ingat, Chelsa. Kapan saja kamu ingin kembali, pintu rumah kita selalu terbuka untukmu. Kamu adalah bagian dari rumah ini, selalu dan selamanya. Kami akan merindukanmu tetapi kau harus yakin bahwa kami di sini akan baik-baik saja dan kau juga harus menjaga dirimu baik-baik di sana.” Chelsa menjatuhkan diri dalam pelukan Ambar. Aroma minyak kayu putih, sabun mandi dan dedaunan hijau menguar dari tubuh wanita setengah baya itu. Chelsa menyesap dalam-dalam, untuk mematri aroma yang diakrabinya sejak silam itu ke dalam ingatan. “Maafkan Chelsa, Bu,” isak Chelsa. Airmata mengalir lagi di pipinya. “Jangan minta maaf, Nak. Justru Ibu bangga padamu, karena berani mengambil keputusan ini. Kamu gadis yang tegar dan kuat.” Ambar menyeka pipi lembab Chelsa dengan ibu jari. Ia memegang dagu Chelsa dan menatap mata berwarna karamel itu dengan penuh kasih sayang. “Ibu tidak akan berhenti mendoakanmu. Kau pasti sukses.” Wina menaiki pangkuan Ambar dan menyelinap di antara dua wanita beda usia di depannya. “Wina mau dipeluk juga. Mau peluk juga.” Chelsa dan Ambar tertawa dan memeluk Wina di antara mereka. %%%%% Kamar itu berukuran 3x4 meter. Cat dindingnya berwarna kuning pucat dan lantainya dilapisi keramik berwarna coklat muda. Chelsa membuka jendela di sisi kanan pintu dan menggulung tirai yang terbuat dari kain tipis ke sisi jendela. Angin sepoi berhembus pelan ke dalam kamar. Ia membiarkan pintu terbuka lebar, untuk melepaskan sumpek dan bau pengap dari dalam kamar. Pandangan Chelsa menyapu seluruh ruangan dan tersenyum puas. Kamar itu sudah dilengkapi dengan sebuah tempat tidur berukuran sedang yang diletakkan merapat ke dinding, lemari pakaian dan meja belajar dengan satu kursi. Kamar mandinya memang dibagi bersama untuk dua kamar, tetapi untuk keadaan itu pun, harga sewa yang harus dibayar Chelsa masih terbilang murah. Tempat kos ini berada di belakang sebuah universitas ternama dan dua buah perkantoran. Kendaraan umum dan fasilitas lain juga mudah dijangkau. “Pokoknya, Neng, di sini yang paling murah,” ujar Pak Imron—pemilik kos Dahayu. “Bapak tinggal di ujung jalan, rumah yang kuning. Kalau ada apa-apa tinggal lapor ke rumah. Peraturannya juga nggak ribet, kok. Jaga kebersihan dan ketentraman bersama, jangan bawa tamu laki-laki ke dalam kamar, dan bayar kos tepat waktu.” “Iya, Pak,” jawab Chelsa seraya menyerahkan lima lembar uang kertas berwarna merah. “Saya bayar per bulan saja dulu, ya, Pak. Bulan depan akan saya perpanjang lagi.” “Boleh, Neng. Tenang saja. Di sini banyak orang merantau dan Bapak sendiri juga pernah merantau, jadi Bapak tahu rasanya. Neng tidak usah khawatir. Soal pembayaran, selama masih di bulan yang sama, Neng bisa bayarkan kalau sudah ada uangnya.” “Terimakasih banyak, Pak.” Pak Imron mengambil dan menghitung uang yang diberikan Chelsa. Ia mengangguk dan mengambil sebuah buku kwitansi dari dalam laci meja di depannya. “Coba Bapak pinjam kartu identitasnya sebentar, Neng.” Chelsa menyodorkan kartu identitasnya. Pak Imron membaca sekilas data diri Chelsa dan mencatatnya dalam sebuah buku. Ia membuatkan kwitansi pembayaran dan memberikannya sekalian kartu identitas Chelsa. “Neng dari Sukabumi? Ke Jakarta mau kerja?” “Iya, Pak. Saya mau mencari kerja, sekalian mencoba mendaftar ke universitas untuk kuliah.” “Semoga lancar semua maksudnya. Nih, kunci kamarnya. Neng Chelsa langsung saja ke sana. Kamarnya nomor empat, di deretan kanan paling ujung, dekat taman. Kalau mau bersih-bersih, di dapur ada alat-alat kebersihan untuk dipakai bersama. Bapak harus kembali ke pasar, jadi tidak bisa mengantar.” “Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih atas bantuannya.” Di sinilah Chelsa sekarang. Jauh dari panti asuhan Kasih Mentari, Ibu Ambar, adik-adik dan teman-temannya. Chelsa sudah merasa rindu hanya dengan mengingat mereka. Padahal baru kemarin ia meninggalkan panti. Chelsa menaruh tas di atas meja belajar di dekat jendela dan menggulung lengan kemeja. Kamar ini bersih dan rapi, tapi tidak ada salahnya membersihkan ulang. Ia mengambil sebuah sapu dan lap di lemari dapur yang dilewatinya tadi. Chelsa membuka lemari dan melihat beberapa buah gantungan baju dan sebuah sapu lidi. Ada dua buah seprai yang tampaknya bersih di sudut lemari. “Halo ...,” seseorang mengetuk pintu. Chelsa menoleh. Ia sedang membersihkan bagian dalam lemari. Seorang gadis berdiri di ambang pintu sambil memainkan ujung-ujung rambutnya yang ikal. Gadis itu memakai setelan piyama pendek dengan motif boneka. “Oh, hai,” sapa Chelsa gugup. Ia tidak terbiasa menerima seseorang secara spontan. Ia bukan jenis orang yang mudah berbaur dan bergaul. “Anak baru?” Gadis itu melenggang santai dan duduk di atas tempat tidur. “Namaku Mira. Kamar nomor dua. Di seberangmu.” Chelsa mengulurkan tangan. “Aku Chelsa.” Mira menyambut tangan Chelsa sambil tersenyum lebar. Ia mengamati Chelsa dengan cermat. “Kamu cantik sekali. Apa ini?” Chelsa melihat apa yang ditunjuk Mira dan tersenyum kaku. Ia menarik tangannya dengan halus dan menurunkan lengan kemeja. “Bekas operasi waktu kecil. Kamu sudah lama tinggal di sini?” “Baru empat bulan. Aku tidak punya teman di sini, tapi kos ini dekat dengan tempat kerjaku dan murah. Kelihatannya kita sebaya. Darimana asalmu? Kamu kuliah atau kerja?” tanya Mira beruntun. Ia menutup mulutnya dengan gaya jenaka, ketika melihat Chelsa tertegun mendengar rentetan pertanyaan yang diajukannya barusan. “Ya ampun, kamu bertanya seperti peluru memberondong musuh,” cetus Chelsa spontan. “Tidak bisakah satu-satu? Aku bingung harus menjawab yang mana lebih dulu.” “Tidak apa-apa. Masih banyak waktu untuk berkenalan. Aku suka karena akhirnya ada yang sebaya denganku di sini. Yang lain sudah lebih tua atau lebih serius. Aku akan membawamu berkeliling nanti. Omong-omong, matamu bagus sekali. Aku suka warna matamu. Apa itu namanya, seperti nama permen. Ah! Karmel. Matamu berwarna karamel. Lucu sekali.” Chelsa menghela napas dan tersenyum lembut. “Aku dari Sukabumi. Sebelumnya kau tinggal di panti asuhan. Kedua orangtua dan seorang adikku meninggal dalam sebuah kecelakaan tabrak lari dan aku berakhir di panti asuhan setelah koma beberapa lama di rumah sakit. Aku datang ke sini karena ingin bekerja dan kalau bisa, kuliah juga. Keadaan keuangan panti agak kurang baik akhir-akhir ini dan aku ingin membantu sedikit-sedikit adik-adikku yang tinggal di sana.” Mira mengangguk-angguk selama Chelas menuturkan kisahnya. Sama sekali tidak ada perubahan dalam raut wajahnya. Ia menepuk bahu Chelsa lembut. “Kau keren. Aku salut padamu. Sementara gadis-gadis lain sibuk mendandani diri dengan aneka warna pada wajahnya dan perhiasan pada tubuhnya untuk bersenang-senang menghabiskan masa muda pada hal-hal tidak berguna, kau sudah berpikir dan melangkah jauh ke depan melebihi usiamu.” Chelsa tertawa mendengar ucapan Mira yang diucapkannya dengan nada serius. “Kau seperti seorang Nenek sedang menasehati cucunya sekarang.” Mira menyeringai. “Tenang. Kita ini Nenek-nenek yang keren.” Chelsa menatap gadis di depannya dengan mata melebar. Mira tersenyum. Entah siapa yang memulai, mereka tertawa bersamaan. Chelsa senang. Kelihatannya ia tidak akan kesepian di tempat baru ini. %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD