Bab 1. Prolog

768 Words
Kita mau ke mana, Pa?” Arga Jayadi menoleh ke kursi belakang. Kedua putrinya duduk dengan manis di kursi penumpang, terikat pada sabuk pengaman masing-masing. Mereka mengenakan pakaian bepergian terbaik dan tampak cantik dengan rambut tertata rapi dan wajah berseri-seri. “Pokoknya, hari ini kita akan pergi ke suatu tempat yang sudah lama ingin kita kunjungi,” sahut Ella Jayadi—istri Arga. Ia menyentuh lengan suaminya sambil mengedipkan mata. “Papa sengaja mengambil cuti untuk membawa kita bermain hari ini.” Arga tersenyum lebar. Ia memegang kemudi setir dengan tangan kanan dan mengulurkan tangan kiri untuk menggenggam tangan Ella. Ia mendengar si bungsu yang baru berusia enam tahun berdendang pelan, menyanyikan nina bobo untuk boneka beruang kesayangan yang selalu dibawanya ke mana-mana. “Asyik,” sorak si sulung. “Kita sudah lama tidak jalan-jalan. Aku ingin membeli pita rambut yang cantik-cantik, ya, Ma? Boleh, Pa?” “Tentu, Sayang. Pokoknya hari ini kalian boleh membeli apa saja yang kalian sukai dan makan apa saja yang kalian inginkan. Mama juga boleh belanja sepuasnya,” sahut Arga riang. “Wah, Papa banyak uang, ya?” celoteh si bungsu sambil bertepuk tangan. “Aku mau beli es krim, coklat, permen, sosis, hmm, apalagi ya?” “Makanan sebanyak itu akan membuatmu menjadi bengkak seperti bonek beruangmu,” ujar si sulung. “Kau tidak akan terlihat cantik lagi.” Arga dan Ella berpandangan, kemudian tertawa bersama. Ella mengulurkan tangan ke belakang dan mengelus kepala putrinya penuh sayang. “Papa baru mendapat kenaikan jabatan dan gaji di kantor, Sayang. Kita akan merayakannya di taman bermain hari ini. Kalian senang?” “Aduh, Mama, kok malah dibocorkan kejutannya,” Arga menjentik hidung Ella pelan. “Katanya rahasia.” “Mama lupa, Pa. Tidak sabar melihat anak-anak bermain, soalnya,” Ella menutup mulut dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf, ya.” “Tidak apa-apa, Sayang. Aku becanda, kok. Pokoknya, hari ini kita akan bersenang-senang sepuasnya. Setuju semua?” “Setujuu ...,” suara riuh mengisi mobil mobil sedan hitam itu. Arga tidak melepaskan genggamannya pada Ella. Bibirnya tersenyum lebar, selagi mendengarkan kedua putrinya berdendang bersama di kursi penumpang, menyanyikan lagu anak-anak tentang tamasya. Tidak mudah untuk Arga mendapatkan waktu luang seperti sekarang. Tuntutan pekerjaan membuat ia seringkali harus mengecewakan anak dan istrinya. Kali ini, Arga benar-benar ingin membuat keluarganya bersenang-senang. Kedua Putri kecilnya adalah anak-anak yang manis dan penurut. Mereka tdak pernah menuntu apapun darinya dan Ella—istrinya, adalah seorang pendamping yang baik, yang selalu siap mendengarkan keluh kesah dan mengusir penat tubuhnya dengan pijatan lembut atau sekedar menghidangkan teh hangat dengan senyum manis. Arga bersyukur memiliki mereka. “Pa, hati-hati. Mobil di belakang itu kenapa, ya?” ujar Ella beberapa saat kemudian. Ia menoleh ke belakang dengan kening berkerut. “Coba biarkan dia jalan duluan saja, Pa. Cara mengemudinya sembrono dan membuatku khawatir. Papa berhenti saja dulu ke pinggir dan biarkan mobil itu melewati kita dulu.” “Aku juga berpikir seperti itu sejak tadi,” gumam Arga. “Aku hanya tidak ingin kau dan anak-anak khawatir.” Arga memperlambat laju mobil, menuruti perkataan Ella. Sudah sejak tikungan kedua, sebuah mobil jeep berada di belakang mobil mereka dan sesekali seperti mau menyusul. Mobil itu berjalan zig-zag dan tampak membahayakan. Benturan keras membuat mobil sedan yang mereka naiki tersentak keras. Semua berteriak terkejut dan si bungsu mulai menangis. Ella mengulurkan tangan untuk menenangkan putrinya, tetapi benturan lain membuatnya tersungkur menabrak kursi Arga. Arga kehilangan kendali kemudi. Ia berusaha menepi, tetapi mobil jeep itu tepat di belakangnya dan mendorong mobilnya dengan kecepatan tinggi. Arga menginjak gas untuk melepaskan mobilnya dari dorongan mobil jeep di belakang. Ella memegangi pinggiran kusi sambil berkomat-kamit mengucap doa. Kedua putrinya di bangku penumpang menangis ketakutan. Arga mempercepat laju mobil ketika sesaat terlepas dari mobil jeep di belakang. Namun, sebuah benturan sangat keras membuat mobil sedan itu meluncur tidak terkendali. Mobil sedan itu menabrak tebing batu di sisi kanan jalan dengan suara keras dan terpental. Untuk beberapa menit mobil sedan itu berguling-guling, kemudian diam dalam posisi terbalik, tepat di bibir jurang. Pecahan kaca bercampur tumpahan bensin dan ceceran darah mengotori aspal. Mobil jeep melambat selagi mobil sedan di depannya terguling. Di balik kemudi, seorang laki-laki menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pusing. Matanya melebar ketika melihat adegan di depannya. Ia menepikan mobil beberapa meter di depan mobil sedan yang terguling itu dan keluar dari balik kemudi dengan terhuyung-huyung. Sebuah lengan kecil terjulur keluar dari jendela bagian penumpang, menggapai-gapai udara. Laki-laki itu menelan ludah dan bergumam tidak jelas. “Tolong ...,” rintih sebuah suara kecil dari dalam mobil. “Tolong ... “ Laki-laki itu terduduk lemas di atas trotoar. Tatapannya kosong. %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD