Ambar menatap laki-laki muda yang duduk dengan kepala menunduk di hadapannya. Ada rasa iba di hati Ambar, melihat bagaimana cinta membuat orang setampan Axello berubah menjadi demikian kusut hanya dalam dua bulan. Cekungan gelap di bawah mata, bayangan titik-titik hitam di bawah hidung dan dagu, juga tulang pipi yang semakin tajam—Ambar yakin kalau Axello sudah lama tidak mengecap kenikmatan tidur. Ambar teringat suara laki-laki di dalam rekaman yang diperdengarkan Chelsa kepadanya—suara Gandi, ayah Axello. Ia bergidik mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Gandi, mengenai kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Ambar membuka pintu belakang seperti biasa, untuk membersihkan halaman dan memberi makan ayam-ayam peliharaan anak-anak. Hujan cukup besar dan lama sore sampai tadi malam, pas

