Bab 4. What's Wrong, Chelsa?

1839 Words
Mira meletakkan sendok di atas nampan dan mengatur agar letaknya benar-benar sejajar dengan garpu. Itu adalah sendok terakhir dan ia mulai menghitung dengan cermat. Mira sibuk membandingkan catatan dengan benda yang berjajar rapi di dalam lemari persediaan, sama sekali tidak menyadari seseorang tengah memandanginya dari belakang. “Mira,” tegur Chelsa pelan. Ia menyerahkan selembar kertas berisi catatan persediaan kebutuhan dapur yang sudah selesai diperiksa. “Aku baru memeriksa lemari satu dan dua. Oya, ada yang memperhatikanmu sejak tadi.” Kening Mira berkerut. Ia menengok ke kanan dan kiri. “Siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini sejak tadi. Jangan menakuti aku, Chel.” “Aku serius. Memang ada yang memperhatikanmu. Kamu saja yang terlalu asyik menghitung. Kasihan dia, pasti kakinya pegal berdiri terus di sana,” Chelsa menunjuk ke arah konter pengecekan menu. “Tapi, dia pergi beberapa menit yang lalu. Wajahnya kelihatan sedih.” Mira menghampiri Chelsa dan memukul tangannya pelan. “Aduh, Chel. Kamu kenapa, sih, membuatku merinding saja.” “Lho?” Chelsa tertawa kecil. “Kamu tidak sadar kalau sejak tadi Pak Jasid berdiri di situ sambil menatapmu?” “A-apa? Pak Jasid?” “Iya. Yang aku maksud memperhatikanmu sejak tadi itu, Pak Jasid. Kamu memikirkan apa? Hantu?” Mira mengelus dada sambil menghembuskan nafas lega. “Aku kira kamu sedang membicarakan sesuatu yang mengerikan. Kalau Pak Jasid,” Mira menggantung kalimatnya dan tersenyum simpul. “Tidak apa-apa.” “Selidiki dulu, siapa tahu dia sudah punya anak istri,” ujar Chelsa pelan. “Aku masih lajang, kok. Tidak ada istri apalagi anak.” Mira dan Chelsa menoleh bersamaan dan melihat Axello berjalan menghampiri dengan tangan terbenam di dalam saku jaket. Mira menjulingkan mata melihatnya. Ia mencolek lengan Chelsa dan menunjuk Axello dengan dagunya. “Kalian mau berkencan?” tanya Mira dengan alis terangkat. “Sejak kapan kalian mulai pacaran? Kok, kamu tidak pernah cerita padaku, Chel?” “Astaga, Mira, jangan suka bicara sembarangan,” desis Chelsa kesal. “Axel hanya akan mengantarku ke kantor polisi untuk melengkapi laporan kejadian malam Sabtu yang lalu.” “Ah,” Mira mengangguk-angguk. Ia menoleh ke arah Axello dan berkata penuh tekanan. “Axel, pastikan bajingan mesum itu menerima hukuman setimpal atas perbuatannya.” Axello mengacungkan ibu jari dan memberi isyarat kepada Chelsa. Mira mengambil lembaran kertas di tangan Chelsa. “Pergilah, biar aku yang menyelesaikan. Sampai bertemu di rumah nanti malam.” “Aku akan pulang secepatnya. Cucianku banyak sekali.” “Chelsa, jangan menyia-nyiakan kesempatan,” Mira mendorong Chelsa lembut. “Tidak semua wanita bisa memiliki kesempatan sebaikmu, bisa berduaan dengan laki-laki sekelas Axello Byan. Ayo cepat, jangan biarkan dia menunggu.” Chelsa keluar dari dapur dan melihat Axello sedang berbicara dengan Jasid di depan ruang manajemen. Axello melambaikan tangan kepada Chelsa. Tiba-tiba saja lutut Chelsa terasa lemas. %%%%% Axello melihat-lihat daftar menu dan berdecak. Ia menatap Chelsa yang duduk di seberangnya. Gadis itu sedang memandang keluar melalui jendela kaca, dengan sorot mata seperti melamun. Axello mengetuk meja dan membuat Chelsa menoleh, tersadar dari lamunannya. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” “Tidak ada apa-apa,” jawab Chelsa jengah. Ia melihat buku menu di tangan Axello. “Sudah selesai memilih?” “Aku menyesal membawamu ke sini,” Axello memajukan tubuh dan berbisik. “Aku tidak menemukan menu yang menarik di sini. Apa kita perlu pindah kafe?” Chelsa tertawa dan mengambil buku menu. Ia membaca cepat dan menunjuk sebuah tulisan. “Aku mau ini.” Axello membaca tulisan yang ditunjuk Chelsa dan menggaruk kepalanya. Ia mengambil buku menu dan membawanya ke konter pemesanan. Chelsa memperhatikan dia berbicara serius dengan gadis yang menerima pesanan di balik konter. Bahunya lebar sekali. Dan terlihat hangat. Chelsa mencubit pahanya sendiri, saat menyadari isi pikirannya baru saja. “Mengapa wajahmu bersemu merah? Kamu sedang memikirkan sesuatu yang erotis?” tegur Axello ketika kembali ke meja. Ia membawa sebuah piring dengan beberapa buah makaron berwarna-warni di atasnya. “Kau memang terbiasa mengatakan isi kepalamu tanpa sensor, ya?” sindir Chelsa kesal. Ia merasa seperti seorang penjahat yang ketahuan sedang mengincar korbannya. “Entahlah,” Axello mengangkat bahu. “Mungkin karena aku tidak suka basa-basi. Kamu sendiri, apa selalu membangun benteng setebal ini kepada orang yang telah menolongmu?” Chelsa tidak menjawab. Ia melempar pandangan keluar jendela, berusaha menata isi kepalanya. Pertanyaan Axello di luar dugaannya. Benarkah Axello merasa seperti apa yang tadi diungkapkan? Orang seperti dia—seperti yang tadi dikatakannya sendiri—tidak akan menyembunyikan perasaan dan bertanya hanya untuk membangun suasana atau mencari bahan pembicaraan. “Chelsa, apa kamu merasa tidak nyaman bersamaku? Atau ini memang pembawaanmu?” tanya Axello hati-hati. Chelsa menatap Axello sejenak dan menunduk cepat. Mata Axello yang pekat membuatnya gugup. “A-aku hanya merasa tidak enak hati.” “Tidak enak hati?” alis Axello terangkat. “Karena kamu telah merepotkan aku—menolongmu dari orang mesum itu dan harus mengantarmu bolak-balik ke kantor polisi?” “Huft. Kamu benar-benar harus sejelas itu membeberkan semuanya, kan?” Axello tertawa terbahak-bahak melihat wajah Chelsa yang cemberut. Ia baru saja menyadari, warna merah jambu yang meronai wajah Chelsa, ternyata bisa terlihat sangat cantik saat berpadu dengan kulit langsat sehalus pualam itu. Mata berwarna karamel itu juga lebih mempesona ketika melebar. Ekspresi Chelsa saat ini sangat menggoda. Ia teringat beberapa hari yang lalu. Axello melihat Chelsa berlari dan masuk ke dalam kamar mandi—malam ketika ia akan menemui pimpinan Cloud Nine, setelah dua tahun meninggalkanmya. Firasatnya mengatakan, gadis berseragam pramusaji itu sedang sakit dan ia memutuskan untuk menunggu di depan kamar mandi. Sekedar berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada gadis di dalam kamar mandi itu. Suara keran air di balik pintu kamar mandi tidak dapat menutup suara muntah dan tangis. Axello berdiri dengan serba salah, berpikir bolak-balik apakah ia perlu masuk dan menolong gadis di dalam atau pura-pura tidak mendengar dan meneruskan langkah ke kantor managemen. Gadis itu mendadak keluar sebelum Axello memutuskan apa yang akan dilakukan. Wajahnya pucat pasi dan penuh airmata. Mata mereka bertemu di satu titik dan Axello terpesona. Gadis itu mempunyai mata yang sangat indah. Dua jam kemudian—ketika berjalan keluar dari kantormanagemen—ia mendengar seorang laki-laki berjas hitam dan dasi kupu-kupu mengomel dan menyebut-nyebut pramusaji yang tidak bertanggungjawab. “Mengapa kamu menangis?” “Eh, apa?” “Waktu itu, kenapa kamu menangis dan muntah di kamar mandi? Aku selalu ingin menanyakan hal itu kepadamu.” Wajah Chelsa merah padam. Entah apa yang terjadi padanya—bertemu seorang laki-laki seperti Axello, selalu dalam keadaan memalukan. Malam ketika ia dilecehkan oleh laki-laki mesum yang sekarang mendekam di penjara, Axello sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya ketika menuntun Chelsa ke mobil—setelah polisi datang menjemput laki-laki pelaku pelecehan terhadapnya. Axello mengusap-usap rambut Chelsa dengan tangan kirinya yang bebas, menunggu sampai dia menuntaskan tangisnya. Chelsa shock—menyadari bahaya yang baru saja dilewatinya, setelah ia duduk di dalam mobil. Menyesap aroma kopi yang lembut dan sejuknya suhu ac, membuat airmata Chelsa tidak bisa berhenti mengalir. Axello mengantarnya pulang dan melepaskan Chelsa ke tangan Mira sambil membisikkan dengan cepat, apa yang baru saja terjadi dan apa yang harus dilakukan Mira untuk membuat Chelsa tenang. Dua hari kemudian Axello menjemput Chelsa untuk memenuhi panggilan dari kepolisian. Dia sama sekali tidak mengatakan apa pun, hanya sesekali menceritakan lelucon untuk mengendurkan ketegangan yang dirasakan Chelsa. Lagi-lagi, usapan tangan Axello pada rambut Chelsa dan acungan jempolnya setelah Chelsa menyelesaikan laporan, membuat jantung Chelsa berdetak lebih cepat. Seumur hidup, belum pernah Chelsa merasakan hal seperti itu. Ia merasa asing, tidak mengenali perasaannya sendiri. “Tidak apa apa-apa, hanya sesuatu yang membuatku sangat terganggu saat itu,” jawab Chelsa lirih. “Aku tidak tahu kamu ada di sana waktu itu.” “Chelsa,” Axello mengulurkan tangan dan menangkup tangan Chelsa di atas meja. “Apa kau sakit?” “A-aku ti-tidak apa-apa,” Chelsa menarik tangannya cepat. Di bawah meja, tangannya saling mengait erat, panas dan lembab. “Aku hanya terkejut waktu itu. ya, hanya terkejut.” Axello melihat titik-titik keringat bermunculan di dahi Chelsa, mengembun di sekitar rambut-rambut halusnya. Wajah Chelsa jelas menyiratkan gelisah dan perasaan tidak nyaman. Ia memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Axello beranjak ke konter pemesanan dan menunggu pesanan kopinya. Ia memperhatikan Chelsa, kembali melempar pandangan keluar jendela. Di bawah meja, kakinya bergerak-gerak. Ada sesuatu yang salah pada diri Chelsa. Axello memperhatikan gadis itu sejak kejadian di kamar mandi wanita. Keberadaannya di Cloud Nine sama sekali tidak cocok, begitulah yang Axello rasakan. Sangat jelas terlihat, dari pembawaan dirinya yang kaku dan tegang, Chelsa sama sekali tidak menyukai tempatnya bekerja. Axello hanya pernah melihatnya tersenyum pada Mira dan Anggi. Sesekali. Hanya bibirnya. Matanya tidak. Malam itu—ketika dia disergap laki-laki mesum yang sudah mengganggunya sejak di kelab—Axello baru selesai memberikan pengarahan kepada anggota band. Ia sedang mengatur kursi di bagian penumpang mobilnya, ketika mendengar seseorang tertawa terkekeh-kekeh dan berjalan cepat melintas di belakangnya, ke arah jalan kecil di sisi kiri gedung Cloud Nine. Ia mendengar keributan ketika sedang memainkan sebuah lagu permintaan salah satu pelanggan. Sambil memetik gitar, ia melihat Chelsa berdiri gemetar sambil mengepalkan tangan di belakang Jasid. Beberapa menit sebelum lagu yang dibawakannya selesai, Axello melihat petugas keamanan menggiring seorang laki-laki setengah baya yang terus mengucapkan sumpah serapah, keluar lewat pintu samping. “Anggi, mana Chelsa? Dia belum pulang?” tanya Axello ketika melihat Anggi dan seorang laki-laki bergandengan keluar dari dalam kelab. Ekor matanya mengawasi jalan kecil tempat orang yang melintas di belakangnya tadi menghilang. “Lho? Kamu tidak melihatnya?” tanya Anggi heran. “Dia barusan keluar. Aku menawarkan mengantarnya pulang, tapi dia menolak. Katanya, jalan menuju tempat kosnya ditutup portal karena ada jalan yang sedang diperbaiki. Aku harus memutar kalau mengantarnya. Dia tidak mau merepotkan.” “Chelsa itu memang agak aneh, ya,” sela Robi—pacar Anggi. “Aku agak bingung harus bersikap bagaimana terhadapnya. Dia sangat kaku.” Anggi memukul lengan Robi pelan, sambil melirik Axello. “Dia lewat mana?” tanya Axello tidak menghiraukan pembicaraan pasangan di depannya. “Aku sama sekali tidak melihatnya lewat, padahal sejak tadi aku di sini membereskan mobil.” Anggi melihat ke kanan dan ke kiri, matanya mencari-cari. “Aku kurang tahu. Chelsa hanya mengatakan ada jalan memotong dekat dari sini yang biasa dia lewati. Jalan itu tembus langsung ke arah komplek tempat kosnya.” Tanpa berpikir panjang, Axello langsung melesat berlari ke jalan yang sejak tadi diperhatikannya. Orang yang melintas di belakangnya tadi jelas sedang mabuk berat. Caranya tertawa dan bau alkohol yang ditinggalkannya di belakang Axello sangat mengganggu. Ia yakin, orang itu adalah laki-laki yang diusir keluar dari kelab sebelumnya. Dia pasti sengaja menunggu dan berniat membuntuti Chelsa. “Axel, a-aku harus pulang,” tegur Chelsa gugup. Ia berdiri di sebelah Axello dan menunjuk cangkir kertas di tangannya. “Kopinya kubawa pulang saja.” Axello tersadar dari lamunan dan menyodorkan gelas kopi pesanan Chelsa. “Aku akan mengantarmu pulang.” “Jangan! Aku sudah memesan taksi online. Te-terima kasih untuk hari ini.” Axello menghela nafas, melepaskan perasaan campur aduk di dalam hati. bingung, kesal dan serba salah. Ada apa dengan gadis itu? %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD