6-Perhatian Fauzan

1424 Words
Suasana siang ini begitu berkabut. Langit berubah hitam. Para warga berbondong-bondong untuk menyiramkan air ke rumah berdinding anyaman bambu itu. Mustahil barang-barang bisa diselamatkan. Walau memanggil pemadam kebaran pun tetap tak bisa diselamatkan. "Tolong selamatkan rumah saya, Pak!" "Maaf, Bu. Sangat tidak mungkin untuk menyelamatkan rumah Ibu. Kayu membuat api cepat menyebar, Bu." Wanita paruh baya itu menangis sesenggukan. Dia hanya wanita miskin yang hidupnya pas-pasan. Untuk sekadar makan pun terkadang sehari satu kali. Paling banyak sehari dua kali. Menghidup dua anak dengan suaminya yang telah lama meninggal tentu tak mudah. Tak memiliki sanak saudara. Adapun di luar kota dan jarang bertemu. Entah bagaimana nasibnya kini. Syakilla yang hendak pergi mengajar pun menghentikan langkahnya karena ramainya orang yang sedang berusaha memadamkan api. Hingga suara wanita paruh baya itu membuatnya tertegun. Dia lupa berkaca selama ini. Kehidupan wanita paruh baya itu membuat hatinya tersentil. "Innalillahi wa innailaihi roji'un," ucapnya dengan nada pelan. Dia ingin menghampiri, tetapi anak-anak pasti sudah menunggunya. Dia menghela nafas lelah lalu melanjutkan langkahnya. Berdo'a semoga keajaiban melingkupi hidup wanita paruh baya itu. Sesampainya di tempat yang sempit tetapi ramai itu membuatnya tersenyum senang. Kali ini ada dua anak yang tidak masuk. Mereka masih asyik bermain tanpa mempedulikan kedatangannya. "Assalamu'alaikum anak-anak," sapanya dengan senyuman manis. "Hari ini kita kembali belajar! Anak-anak dimohon duduk dengan baik dan yang ramai terus tidak akan pulang!" Dia hanya bergurau tetapi anak-anak itu langsung diam. Kedua sudut bibirnya semakin melebar. "Bu, rumah Alfin kebakaran!" Syakilla terdiam mendengarnya. Dia memang tak tahu di mana letak rumah Alfin. Akan tetapi mendengar perkataan salah satu anak didiknya membuatnya yakin bahwa rumah yang tadi dia lewati adalah rumah Alfin. "Kasihan Bu, Alfin. Dia tidak sekolah. Hanya mengikuti les ini. Ayahnya sudah meninggal. Adiknya masih kecil." Anak lain menyahut, "Iya, Bu. Alfin tak jarang bekerja. Kadang ambil barang bekas di rumahnya Pak Somad. Kadang juga membantu ibuku menanam ketela di kebunku." Syakilla merasa sedih mendengarnya. Setahunya Alfin adalah anak yang masih berumur 11 tahun. Dia anak lelaki yang pendiam dan jarang tersenyum. Tak tampak juga di raut wajahnya kesedihan. Hanya saja dia kerap melihat raut wajahnya yang tampak kelelahan itu. "Itu salah Alfin sendiri yang mau hidup susah," celetuk anak lainnya dengan tingkah sombongnya. Syakilla terkejut mendengar penuturan anak kecil itu. Siapa yang telah mengajarinya seperti itu hingga membuatnya jadi sosok yang seperti itu di usianya yang masih kecil. "Alfin pun tak mau begitu kali. Kau ini masih kecil sombong saja. Makan saja masih minta orang tua sombongnya minta ampun kau! Alfin dia sudah biasa hidup mandiri, cari uang sendiri, tak seperti kau, payah," bela anak bernama Geri teman Alfin. Dio, anak kecil itu merengut kesal. Menatap Geri lalu menatap Syakilla meminta perhatian supaya dibela. Dia sungguh merasa dipermalukan dihadapan teman-temannya yang lain. Syakilla pun segera angkat bicara untuk menengahi masalah ini. Sepertinya pembelajaran harus diundur untuk membahasa masalah ini. Tak apa, solidaritas juga harus ditegakkan. Belajar boleh kapanpun tetapi jangan sampai melupakan teman yang sedang kesulitan dan ketika mengetahuinya justru diam saja. "Sudah, jangan berdebat! Anak-anak diam, ya! Ibu tidak akan berbicara tentang siapa, tetapi tentang suatu kehidupan. Tak ada yang meminta hidupnya susah, orang-orang akan meminta hidup yang bahagia dan menyenangkan. Anak-anak juga ingin hidup yang selalu bahagia bukan?" tanya Syakilla. Dia akan mengajarkan pelan-pelan kepada mereka supaya tidak menghakimi hidup Alfin. Kasihan anak sekecil itu harus mengalami kerasnya kehidupan. "Iya Bu." Mereka berteriak dengan serentak mengatakan menginginkan kehidupan yang bahagia. "Semua orang pasti menginginkan hidup yang bahagia, tetapi tidak selamanya kita hidup dengan kebahagiaan. Jika bahagia selalu ada pasti tak akan ada pertengkaran, kesedihan. Dibalik kebahagiaan ada jalan yang panjang yang harus dilewati yang dinamakan rintangan. Kalian pasti pernah merasakan sedih bukan? Misalnya nih, si A mengambil permen si B dengan cara merebutnya. Pasti si B menangis." Mereka tampak terdiam mendengarkan perkataannya. Syakilla tersenyum lebar. Dia berharap anak-anak itu dapat memahami perkataannya. "Jangan menyalahkan seseorang atas apa yang terjadi di dalam hidupnya ketika dia tidak berbuat salah. Terkait musibah yang dialami oleh Alfin, sebagai sesama manusia juga sebagai teman sudah seharusnya kita saling tolong-menolong. Rangkul Alfin, perlakukan dia dengan baik," jelas Syakilla masih dengan senyuman manisnya. Mungkin hidupnya penuh dengan kemewahan selama ini. Memiliki teman yang setia hanya saja masalahnya pada keluarganya. Dia juga masih bisa bersekolah dan hidup dengan layak. Kehidupan Alfin yang begitu berat membuatnya tersentil. Selama ini dia berpikir ingin mengakhiri hidup karena tak kuat menahan sakit saat melihat hancurnya keluarganya. Akan tetapi, melihat kehidupan Alfin membuatnya yakin untuk tetap melanjutkan hidup dan berhenti menyalahkan takdir maupun mengeluh. Dia harus pandai-pandai bersyukur atas apa yang dimilikinya saat ini. "Tuh dengerin Dio, jangan sombong kau!" Geri berkata dengan nada sinis membuat Dio menangis kencang. Syakilla meminta Geri meminta maaf kepada Dio dan meminta Dio untuk memaafkan Geri. Walau awalnya Geri tak mau. Namun, pada akhirnya Geri mau meminta maaf kepada Dio. Syakilla juga mengusulkan untuk membuka sumbangan terkhusus untuk Alfin supaya dapat membantu meringankan bebannya. Anak-anak mendukung dan tak segan membantunya. Walau uang yang diberikan oleh anak-anak hanya bisa dibelikan roti tawar saja baginya tak apa yang penting keikhlasan hatinya. Pada akhirnya dia meminta bantuan orang-orang sekitar sini untuk seikhlasnya membantu keluarga Alfin. Baik dalam bentuk pakaian, makanan maupun uang. Rumah Alfin benar-benar sudah roboh. Tak ada barang yang tersisa hanya arang yang ada. Alfin dan keluarganya tak memiliki tempat tinggal. Akan tetapi, ada beberapa warga yang mengajak Alfin dan keluarganya menginap walau beberapa hari saja. Dia bersyukur kepedulian masih ada di dalam hati masyarakat sini. ****** Matahari sudah berada di atas kepala, Kalila memilih menikmati jus jeruk yang menyegarkan tenggorokan. Menghalau rasa haus yang selalu muncul hingga membuatnya bolak-balik ke kamar mandi. Didepannya, Tiara asyik bermain game di ponsel sambil sesekali menikmati es teh. "Kalah lagi," kesal Tiara lalu menyimpan ponselnya di tas. "Oh ya, lo tadi pagi berangkat bareng Fauzan?" tanya Tiara dengan keras karena suasana kantin yang ramai. Kalila menganggukkan kepala. "Mana tuh anak, tumben belum nongol. Biasanya sering nempelin lo kayak uler. Emang bucin banget tuh sama lo." Perkataan Tiara membuatnya tercengang. Dia sudah biasa dengan pernyataan Tiara mengenai Fauzan yang bucin dengan Syakilla. Namun, tetap saja masih membuatnya terkejut dan tak biasa karena memang dia bukan Syakilla. "Mungkin lagi sibuk," jawabnya dengan santai setelah menormalkan raut wajahnya. Untung saja Tiara berkata tanpa menatapnya. "Iya sih, maklum orang kaya selalu sibuk. Gue jadi inget sama perkataan lo beberapa bulan yang lalu. Dimana katanta lo Fauzan ingin menyewa bodyguard untuk mengawasi lo kemana-mana. Dengan alasan karena laki lo itu sibuk dengan bisnisnya jadi tak bisa sering menjumpai lo. Tetapi, lo malah menolaknya." Perkataan Tiara lagi-lagi mampu membuat Kalila tersedak. Dia khawatir jika diam-diam Fauzan mengawasinya tanpa memberi tahu. Bisa gawat jika sampai ini terjadi. Nyawanya tak akan bisa diselamatkan! Dia juga masih ingin menikmati perannya menjadi Syakilla. "Makanya kalau minum tuh hati-hati. Gak bakal gue rebut kok Syakilla," ujar Tiara sambil tertawa pelan. Dia tampak senang melihat Kalila menderita karena tersedak. "Jahat banget, tersedak bisa buat orang meninggal lho." Kalila berkata dengan nada pelan. Kedua mata Tiara melotot. "Oh, ya? Untung lo gak papa 'kan?" Kalila menggelengkan kepala pelan. Tiara melanjutkan tawanya mengingat ekspresi Kalila tadi. Dia mengedarkan pandangan hingga menemukan Fauzan yang melangkahkan kaki ke arah meja sini. "Eh, tuh tunangan lo." Kalila menoleh ke belakang. Benar saja Fauzan menatapnya dengan senyuman. Wajahnya bersinar karena tetesan air. Tampaknya lelaki itu habis melaksanakan sholat dhuhur. "Sudah makan?" tanya Fauzan saat sampai di depan Kalila dan Tiara. Dia memilih duduk di samping Kalila namun ada ada jarak. "Belum tuh, Syakilla cuman minum doang," seru Tiara membuat Kalila mendelik kesal. Yang ditanya siapa yang menjawab siapa. "Kenapa tidak makan?" tanya Fauzan dengan nada lembut. "Tidak lapar," jawab Kalila tanpa menatap Fauzan. "Makan! Biar aku pesenin makanan. Kamu mau apa?" Kalila menggelengkan kepala pelan. Dia tak memiliki mood untuk makan. "Harus makan, jangan dibiasain telat makan terus sakit deh." "Sesekali saja," jawab Kalila. "Udah sering lho kamu begini. Ya sudah aku samain saja, ya." Tanpa menunggu jawaban Kalila, Fauzan sudah berjalan menuju antrian di salah satu kantin yang menyediakan bakso. "Perhatiannya, makin cinta deh kamu Syakilla." Tiara memandang takjub pasangan dihadapannya itu. Benar-benar romantis menurutnya. Syakilla yang pemalu dengan Fauzan yang penuh perhatian. "Apa sih." Kalila menundukkan kepala malu. Dia merasa deg-degan. Dengan segera dia nengenyahkan hatinya supaya menghilangkan perasaan ini. Jangan sampai ada benih cinta nantinya. "Gue suka gaya lo yang malu-malu gitu," goda Tiara. Kalila tak habis pikir dengan Syakilla yang berteman dengan Tiara. Sifat keduanya sangat berbeda. Tiara begitu ceriwis dan cerewet beda dengan Syakilla. Tetapi, nyatanya pertemanan mereka bisa selama ini. Dia salud juga ... iri. Karena Syakilla memiliki segalanya sedangkan dia tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD