Langit malam begitu indah terlihat. Bintang-bintang bertebaran di langit menemani bulan yang sendirian dengan kegelapan malam. Senyuman tipis terpancar di bibir wanita yang sedang duduk bersila sambil menyenderkan punggung badannya di tembok itu.
Hidup terlampau keras baginya. Akan tetapi dia sadar bahwa ada yang lebih terluka dibanding dirinya. Ibarat sebuah kalimat, pandanglah ke bawah jangan pandang ke atas saja. Ya, semua itu benar adanya. Jika hanya terus memandang ke atas lalu tak sadar kaki menginjak batu. Seperti itulah hidup. Pandanglah ke bawah, bahwa ada yang sedang berjuang lebih keras dibanding dirimu. Ada yang menahan tangis dan ada yang selalu menangis setiap hari tanpa ada teman berbagi keluh kesah. Disaat kehidupan memaksaknya untuk dewasa, disaat yang lainnya sibuk merangkai bahagia dengan temannya, sedangkan dirinya harus bekerja demi memenuhi perut yang terus meronta kelaparan.
Dia begitu bersyukur masih memiliki seseorang yang peduli padanya disaat dia harus sendirian di tempat yang asing baginya. Tanpa merubah identitas, hanya menyembunyikan status kebenarannya. Beberapa orang mengira bahwa dirinya bidadari yang turun dari kahyangan, padahal dia hanya ditemukan di dalam kegelapan oleh wanita paruh baya yang memiliki hati yang lembut.
Wanita paruh baya itu bahkan pernah mengatakan padanya. 'Lihatlah di sekelilingmu tanpa harus ikut campur akan kehidupan mereka. Ada yang sedang bekerja pagi siang malam demi keluarga, tak peduli bahwa tubuhnya sudah lelah sekalipun. Ada yang sedang bekerja sambil sekolah karena orang tuanya sudah tiada. Ada yang sedang merawat ibunya karena sakit padahal diusianya teman-temannya sibuk bersenang-senang. Ada yang bingung mencari tempat tinggal. Ada yang ditinggal keluarganya dan hidup sendirian. Apa yang kamu alami mungkin berat, tetapi janganlah berputus asa. Ada yang lebih susah dari apa yang kamu alami. Tetap semangat dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Ujian ini jadikan sebagai jalan menuju kebahagiaan dan kebaikan. Kamu tidak sendiri, ada teman, ibu yang menemani kamu.'
Saat itu dia pernah memutuskan untuk pergi jauh dari keluarganya, tetapi kini yang ada keinginanya dulu benar-benar terkabulkan. Dia benar-benar jauh dari keluarganya dan tidak akan bersama mereka dalam waktu yang lama.
Suara ketukan pintu membuatnya menoleh ke arah pintu yang didorong hingga terbuka menampilkan wanita paruh baya yang tersenyum menatapnya. "Ada apa Syakilla?"
Dia terdiam lalu berdiri mendekati wanita itu. "Tidak ada apa-apa, Bu."
"Kamu tidak mau makan malam. Terus duduk di lantai yang dingin. Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Syakilla terdiam.
"Jika dulu kamu sering seperti ini, maka sekarang berbeda. Kamu sedang dalam masalah dan tidak menceritakan apa-apa kepada Ibu."
Syakilla memeluk wanita paruh baya itu. "Bu, Syakilla tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Kembalilah dengan keluargamu jika kamu merindukan mereka. Kamu masih memiliki keluarga."
"Tidak, Bu. Bukan seperti itu."
"Lalu apa?"
"A—ku hanya bingung, Bu. Aku memiliki tunangan."
"Kenapa baru cerita dengan Ibu? Dia pasti sangat terpukul akan kepergianmu."
Syakilla melepaskan pelukannya. Dia menggelengkan kepala pelan. Lelaki itu pasti merindukannya, bagaimana bucinnya lelaki itu terhadapnya. Pasti lelaki itu juga sudah tahu jika dirinya memiliki saudara kembar. Entah apa yang dikatakan oleh keluarganya kepada keluarga tunangannya itu. Mengingat keberadaan saudara kembarnya dirahasiakan oleh banyak orang. Hanya beberapa orang saja yang mengenalnya.
"Syakilla hanya bingung, Bu."
"Kamu pasti merindukannya, ingin bertemu dengannya. Pulanglah, Nak! Ibu akan mengantarkanmu," ucapnya dengan senyuman tipis.
Syakilla terharu mendengarnya, tetapi dia tak bisa pulang untuk saat ini. Lebih baik dia mencoba menjalani kehidupannya sekarang dengan baik. Mencoba mengalihkan rasa sakitnya dengan berbagai kebahagiaan yang ada di tempat ini.
Dia tak bisa memaksa hidupnya begitu sempurna seperti yang dia harapkan. Karena nyatanya semua sudah diatur dengan baik dan dia tinggal menjalankannya. Sudah seharusnya dia tak banyak mengeluh dan tetap semangat dalam kondisi bagaimanapun. Tetap kuat dan selalu mampu mengendalikan dirinya supaya tak terlihat lemah dihadapan banyak orang.
"Aku ngantuk, Bu," ujar Syakilla mengalihkan perhatian.
Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. Membiarkan Syakilla dengan pikirannya yang tak dia mengerti. "Makan dulu."
"Tidak lapar."
"Nanti kamu sakit."
"Tidak, Bu."
"Ibu tidak mau kamu sakit. Makan dulu lalu istirahat. Besok kamu harus mengajar lagi."
Syakilla akhirnya mau lalu melangkahkan kaki ke luar kamar dengan hati yang masih gundah.
Di sisi lain, Kalila mendapat kabar bahwa sepupu dari Fauzan sedang dirindung duka. Dia tentu diajak Fauzan untuk bertakziah. Apalagi kabar yang baru dia tahu bahwa sepupu dari Fauzan itu dekat sekali dengannya. Dia mendadak bingung berada di tengah keramaian orang yang sedang berduka itu.
Fauzan sudah ikut bergabung dengan beberapa saudaranya. Beberapa orang menyapanya. Ternyata sudah sedekat ini hubungan Syakilla dengan Fauzan. Dia tak menyangka sama sekali. Andin—sepupu dari Fauzan itu memeluknya dengan air mata yang terus mengalir. Bahunya sampai bergetar.
Suaminya telah pergi karena kecelakaan mobil saat hendak pulang bekerja. Sedangkan, Andin dalam keadaan hamil 7 bulan. Mendengarnya pun dia tak kuasa menahan tangis. Tanpa sadar dia ikut menangis. Hal yang dilakukan hanya bisa menenangkan wanita berbadan dua itu.
"Sabar, Kak. Semoga suami kakak diampuni dosa-dosanya. Semoga husnul khotimah." Hanya itu yang dia katakan. Karena tak tahu nama suaminya.
Andin hanya menangis terus sambil memeluknya. Dia melirik beberapa orang yang menatapnya. Hingga Fauzan menghampirinya dan Andin melepaskam pelukannya. Lalu wanita itu berjalan di depan jenazah suaminya. Dia teriris mendengarnya.
"Kasihan Andin," kata Fauzan menatap Andin dengan tatapan sedih. Dia mengangguk sebagai jawaban.
"Andin pasti kuat."
"Ya, sudah seharusnya Andin kuat. Dia sedang hamil, jangan sampai bayinya kenapa-napa karena ibunya terus bersedih."
Kematian tidak dapat dipastikan. Kematian datang kapanpun tanpa bisa dicegah. Siap tidak siap. Semua sudah tertulis dengan rapi. Dia pasti tak akan kuat jika sampai menghadapi masalah yang diterima Andin.
"Kita menginap di sini dulu. Kamu temani Andin. Aku sudah menghubungi orang tuamu," ujar Fauzan.
"Iya, Fauzan."
Fauzan mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" tanya Kalila dengan bingung. Memangnya dia sedang melakukan kesalahan?
"Tak biasanya kamu memanggil Fauzan."
Dahi Kalila mengerut.
"Memangnya biasanya aku memanggil apa?" tanya Kalila dengan gugup. Dia takut rahasianya terbongkar saat ini juga.
"Manggil Kak. Kamu lupa atau gimana?" tanya Fauzan bingung.
Kalila menelan ludah dengan kasar. Dia berusaha mengurangi kegugupan yang ada dengan senyuman tipis. "Mana mungkin aku lupa. Aku hanya sedang mengerjaimu saja."
Fauzan menggelengkan kepala pelan. "Kita sedang berada di rumah duka. Kamu jangan ajak bercanda dulu. Ya udah, kakak mau ke sana dulu!"
"Maaf," cicitnya pelan.
"Tidak apa, lain kali jangan diulangi." Fauzan tersenyum lalu melenggang pergi. Dia merasa sedikir aneh tadi akan tingkah Syakilla yang menurutnya tak biasa. Namun, dengan segera dia enyahkan pikiran tersebut dari hati maupun otaknya.
Kalila menatap punggung badan Fauzan yang sudah pergi dengan helaan nafas panjang. Sampai kapan dia akan terus seperti ini? Tak yakin dia akan selalu aman di kemudian hari.
"Hampir saja," keluhnya dengan suara pelan. Hampir tak terdengar oleh siapapun. Dia mengusap dadaanya pelan menenangkan jantungnya yang berdetak kencang akibat pertanyaan Fauzan yang terkesan mencurigainya.