[ 38 - Tekad Ratu ]

2102 Words
STORY 38 - Tekad Ratu *** Tahun 2025 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – TIME FLIES – MONSTERS Rheandra nama wanita itu terngiang dalam benak Ratu saat Arsenio keluar dari kamarnya. Beberapa tahun setelah perpisahannya dengan Arsen, wanita itu baru tahu kalau sang suami dulu pernah memiliki hubungan dan nyaris menikah dengan Rheandra namun gagal. Entah karena alasan apa, dulu Ratu memilih untuk tutup mata dan telinga. Tak ada keinginan mencari tahu, harga dirinya yang besar membuat Ratu hidup penuh dengan tanda tanya. Membiarkan sang suami menikah wanita lain. Tapi sekarang, setelah Ratu berhasil kembali ke sini. Dengan statusnya sebagai istri sang Rajendra. Apa Ratu akan menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan untuknya? “Aku tidak akan membiarkannya,” bisik Ratu tipis, meski wanita itu merasa pusing. Dia memilih untuk kembali duduk dan menyender. Berpikir kembali, setelah dia bisa sedikit tenang dan menerima kenyataan bahwa nyawanya kembali berputar menuju masa lalu. Saat usia Ratu menginjak 30 tahun. “Itu berarti aku sudah menikah selama 5 tahun dengan Arsen,” Usia Arsen sekarang 35 tahun, sedangkan Ravin dan Asta baru menginjak 5 tahun. Kedua tangan Ratu terkepal, “Masih ada waktu lima tahun lagi sebelum,” Tercekat oleh kata-katanya sendiri, Mengingat dengan jelas, tepat di hari ulangtahun Asta dan Ravin yang ke-10 tanggal 14 Februari tahun 2030. Ratu terlambat menyelamatkan Ravin dan membiarkan putranya meninggal dalam pelukan. Saat hangat dalam tubuh Ravin perlahan menghilang, hujan turun deras malam itu. Sebuah mobil melaju brutal dan langsung saja menabrak tubuh mungil sang putra. Ingatan yang begitu mengerikan. Sekarang, dia memiliki banyak kesempatan untuk merubah masa depan itu. “Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai mereka,” bisik sang Edrea sekali lagi. Menarik napas panjang, sekarang apa yang harus Ia lakukan pada Rheandra? Jika memang benar ini tahun 2025, berarti sudah satu tahun berlalu sejak dia mempekerjakan wanita itu. “Aku tidak bisa memecatnya begitu saja,” Jika memecat Rhea adalah jalan keluar dari semua ini. Mungkin semua akan berjalan mudah, tapi wanita itu seolah menyimpan banyak kejanggalan. Ratu tidak begitu mengerti karena dia belum mencari tahu lebih banyak. Apalagi bagaimana reaksi kedua putranya terutama Asta? Bisa saja setelah Ratu memecat Rhea, Asta berbalik semakin membencinya. “Kenapa Ibu malah membiarkan wanita itu menikah dengan ayah?! Apa Ibu tidak pernah menanyakan pendapatku?!!” Kalimat terakhir Asta kembali melintas dalam pikiran Ratu. Wanita itu mendesah, menyender dan menutup kedua matanya. “Ibu, pikir kau sangat menyayangi ibu Rhea-mu, Asta. Karena itu Ibu memilih kalah demi kebahagiaanmu,” bisiknya lagi, Ah, demi kebahagiaan? Ratu menertawakan dirinya sendiri. Bergerak cepat dan langsung saja menampar kedua pipi sekilas. Merasakan perih sesaat, Itu bukan kebahagiaan yang diinginkan Asta atau Ravin. Sejak awal Ratu sudah tahu, selama ini, wanita itu hanya berusaha melarikan diri. Bersikap pengecut dan menganggap kalau dirinya tidak becus merawat mereka semua. Sekarang semua berbeda, Ratu harus berubah. Bukan demi dirinya tapi keluarga kecil wanita itu. Jika memang Tuhan memberikan dia kesempatan, Meski harus melawan dunia sekalipun, Ratu akan tetap berdiri di samping ketiga orang itu. Tersenyum tipis, “Baiklah, aku akan memulai semuanya hari ini.” *** Ratu mencoba mengingat kejadian apa yang akan terjadi selama beberapa tahun ke depan. Terutama saat usia kedua putranya menginjak 5 tahun. Selama beberapa menit berpikir, Ratu reflek mendecak, mendesah berat. Melihat tanggal hari ini, dia baru mengingat. Saat usia kedua putranya menginjak 5 tahun. Ada satu kejadian yang cukup berpengaruh pada hubungannya dengan Asta. Dia sudah melewatkan kejadian itu, “Wanita bodoh,” decak Ratu kesal, menggeleng sekilas. Dia ingat, sekitar dua hari lalu. Ratu baru saja memarahi Asta karena putranya terlibat dengan perkelahian di taman kanak-kanak. Tanpa bertanya lebih dulu kronologi kejadian saat itu, Ratu langsung menyudutkan sang putra. Tepat di depan Ravin dan Rheandra malam itu. Memiliki peran sebagai ibu yang jahat, tega serta dingin di depan anak-anaknya. “Ibu, memasukkanmu ke sana bukan untuk melihatmu berkelahi, Asta!” “Ta-tapi, Bu. Mereka yang salah, bukan aku! Kakak kelas itu mencoba memukulku dan Ravin!” “Kenapa kau malah menangis!! Ibu, tidak suka itu!!” “Dengarkan aku dulu, Ibu!” “Apapun alasanmu, Ibu tidak suka kau melakukan kekerasan seperti ini!!” “Pokoknya Asta tidak salah!! Ibu, jahat!!” Setelah kejadian itu, tidak aneh kalau Ratu melihat sikap aneh Asta tadi. Sang pemuda kecil nampak ragu dan bingung. Raut khawatir memang tercetak di wajah Asta, tapi pemuda kecil itu terlihat takut, “Hh, kau benar-benar bodoh, Ratu.” Memukul kepalanya sendiri. Apa Ratu masih bisa memperbaiki kesalahannya? Tiba-tiba teringat kembali, kalau tidak salah hari ini. Ibu guru Vera akan menghubungi Ratu lagi, dan dia terpaksa datang ke taman kanak-kanak, karena kakak kelas yang memukul Asta memanggil orangtua mereka. Bodohnya, saat itu Ratu kembali menyudutkan Asta. Tanpa melihat luka yang didapat kedua putranya, dia justru memarahi pemuda mungil itu dan memberi perintah pada Asta untuk meminta maaf sendiri. “Astaga,” Mengingat kebodohannya sendiri, pantas saja Asta semakin berubah. Sebenarnya, kenapa sikap Ratu bisa seburuk itu? “Hari ini,” Saat Ratu memaksakan diri untuk bekerja dan datang ke taman kanak-kanak. Itu berarti dia tidak punya waktu untuk beristirahat. Entah apa yang akan terjadi siang nanti, ‘Aku tidak bisa begitu saja meminta Asta untuk tak sekolah hari ini,’ Itu berarti Ratu harus membiarkan waktu berjalan kali ini. Jika memang benar anak-anak itu melukai kedua putranya dengan sengaja, Ratu akan pastikan mereka menerima akibatnya. Ia bergegas bangun dari tempat tidurnya, dan mengambil handphone di atas meja rias. Sebelum semua itu terjadi, Ratu harus mencegahnya, kalau memang kejadian hari ini tak bisa dihentikan. Menghubungi seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi bodyguardnya, meski di masa depan keluarganya dengan paksa memecat lelaki itu. Tapi untuk saat ini, hanya dia yang bisa Ratu percayai. Raven Holigan. Menghubungi nomor lelaki itu, sosok yang memiliki sifat sama persis sepertinya. Tubuh tegap menjulang, rambut terpotong pendek, wajah datar dan dingin, bodyguard terbaik Ratu. “Selamat pagi, Nona Ratu.” Suara itu begitu familiar, di masa depan entah kemana Raven pergi. Tepat setelah keluarganya memecat lelaki itu. Raven lebih memilih untuk pergi menjauh dari Indonesia. “Selamat pagi, Raven aku ada pekerjaan untukmu sekarang. Kau bisa melakukannya ‘kan?” tukas Ratu cepat, “Tentu saja, Nona. Saya akan menjemput anda nanti,” “Tidak usah, kau segeralah pergi ke taman kanak-kanak Matahari. Untuk hari ini, awasi pergerakan kedua putraku di sana, jika ada yang berani melukai mereka. Beritahu aku, lalu lindungi Asta dan Ravin.” Singkat namun jelas, Raven di seberang sana untuk pertama kali mengerjap heran. Terkejut tentu saja, sosok yang biasanya menghubunginya untuk membahas soal pekerjaan saja selama ini, justru meminta dia untuk melindungi kedua pemuda kecil? “Nona,” “Ada apa?” “Apa jangan-jangan kepala anda terbentur keras kemarin?” Dengan nada datar, Ratu mendengar pertanyaan polos Raven. Wanita itu mendesah kesal, “Ck, lakukan saja. Jangan bertanya lagi!” Mencegah rona merah kecil muncul di pipi-nya. Jujur saja, Ratu memang sedikit malu, meminta bantuan pada Raven, karena biasanya wanita itu akan bersikap super dingin, dan irit bicara. “Baiklah, saya akan segera berangkat ke sana.” Panggilan terputus, Ratu menghela napas panjang. Satu masalah sudah selesai, “Sekarang aku harus apa?” ujar wanita itu bingung, Jika di masa lalu, Ratu akan bersikeras untuk bekerja hari ini. Mungkin keadaan berbeda sekarang, kondisinya juga memang sedang tidak baik. “Apa aku turun ke bawah juga sekarang?” bisiknya sekilas. Ratu ingin melihat wajah Rheandra seperti apa saat ini. Sikap polos wanita itu berubah menjadi arrogant di masa depan. *** Area Dapur “Astaga, kenapa roti ini bisa gosong, Tuan? Bagaimana nanti Asta dan Ravin memakannya?” Suara seorang wanita memenuhi area dapur, dengan tawa kecil memarahi makanan yang dibuat oleh Arsenio. Langkah Ratu sedikit terhenti, memeriksa keadaan terlebih dahulu. “Habisnya ayah khawatir tadi ibu jatuh tiba-tiba,” Suara Ravin pun ikut menyahut, “Yang penting s**u anggurku sudah dingin, enak!” Asta ikut berbicara. “Tidak boleh, hari ini kalian harus sarapan. Jadi biar Kak Rhea yang buatkan. Tuan Arsen, silahkan duduk dan tunggu saja, akan saya buat makanan enak,” ujar Rheandra seolah menikmati perannya. “Maaf, Rheandra. Bisa tolong buatkan juga untuk Ratu. Dia harus sarapan hari ini, kebetulan kondisinya sedang tidak bagus .” Ratu sedikit tersentak saat Arsen menyebut namanya, “A-ah, begitu. Baiklah, akan saya buatkan untuk Nyonya Ratu juga,” Mendengar respon Rhea yang persis sama sepertinya sudah menjadi bukti. Hal yang tak Ia sadari sejak dulu, Ratu kembali melangkah. Saat dia hendak masuk ke dalam dapur. Mencium aroma masakan yang perlahan menguar, “Mm, Tuan Arsen. Kalau saya boleh menyarankan, bagaimana kalau mulai besok saya yang menyiapkan sarapan untuk kalian semua? Asta dan Ravin pasti butuh asupan di pagi hari. Anda juga,” Satu moment yang Ratu lewatkan dulu, sekarang dia mendengar dengan jelas. Ternyata wanita itu sengaja menawarkan diri terlebih dulu, “Bukannya itu akan merepotkanmu? Tidak usah, aku masih bisa memasak untuk mereka semua, tenang saja.” jawab Arsen tegas. “Saya tidak merasa direpotkan kok. Justru saya senang karena bisa memasak untuk kalian semua, terutama Asta dan Ravin. Saya akan membuatkan bekal untuk mereka setiap hari,” “Anda juga tidak perlu susah payah mengurus masalah makanan. Saya janji akan membuatkan sarapan yang enak setiap pagi,” lanjutnya lagi. Ah, sekarang Ratu baru mendengar semuanya. Salah satu akar dari masalah yang membuat Asta lebih berpihak pada wanita itu. Tanpa sadar sang Edrea tersenyum tipis, ‘Baiklah, kita lihat sampai mana kau ingin bermain dengan keluargaku, Rheandra.’ Satu kejanggalan masih tercetak dalam benak Ratu. Fakta terakhir saat Asta ditangkap karena pembunuhan. Sosok Rheandra sama sekali tidak ada di samping mereka, kemana wanita itu pergi? Seorang laki-laki dan wanita yang menjadi pelaku kematian Ravindra. Begitu banyak teka-teki belum bisa Ia pecahkan sekarang, Perlahan kembali melangkah, dengan ekspresi andalannya. Menahan rasa sakit di kepala, “Bisa kau buatkan aku juga, Rheandra.” Masuk ke dalam dapur, sembari bertukar sapa dengan Rheandra. Semua reflek menoleh, Rhea mengerjap kaget. “A-ah, Nyonya Ratu. Saya kira anda sedang beristirahat di kamar?” ucap wanita itu sedikit gugup. Ratu menyadarinya, sejak awal Arsenio mengatakan seperti apa kondisi Ratu. Rheandra seolah tidak peduli, bahkan untuk sekedar menanyakan dia sakit apa pun tak ada. Arsenio mendesah tipis, “Bukannya sudah kubilang untuk istirahat saja? Untuk sarapan akan kubawakan ke kamar nanti, Ratu.” ujar lelaki itu pelan. Menggeleng tipis, “Tidak perlu, aku masih kuat berjalan. Tenang saja,” Tersenyum kecil, menatap Rheandra yang kini memunggunginya. “Kudengar kau menawarkan untuk memasak setiap pagi untuk keluargaku, Rhea?” Tubuh itu menegang sesaat, “A-ah, iya. Jika memang anda tidak keberatan, Nyonya Ratu.” Manik amber keemasan itu menatap Rhea sekilas, “Tidak masalah, aku senang kau bisa memasak untuk kami. Jadi aku tak perlu repot-repot menyewa chef terkenal.” Sindir sang Edrea singkat. Melirik ke arah Asta dan Ravin yang kini fokus menatapnya. Saat pandangan mereka bertemu, Asta nyaris tersedak s**u anggurnya, dan Ravin kembali menyantap roti tawar dengan sengaja. Betapa manis dan lucu, kenapa Ratu tidak menyadarinya sejak awal. Melihat kedua putranya sekali lagi, wanita itu tersenyum tipis. Bergerak dengan reflek mengambil satu lembar tisu, duduk sengaja di samping kedua putranya. Tanpa suara, manik Asta mengerjap polos, saat melihat ibunya kini dengan lembut menghapus s**u yang menetes dari sudut bibir dan dagunya. Diiringi senyuman kecil, Ravin pun menatap kaget, tidak sadar bibirnya mengerucut sekilas. Pemuda kecil itu dengan sengaja mencari botol selai coklat di depan sana, mencolek selai tersebut dan langsung mencoretkan di sebelah pipinya. “Ibu, aku juga!” ujarnya polos, sembari mengangkat tangan, manik pemuda kecil itu berbinar. Seolah tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada, Ratu mengerjap sesaat, menahan senyum gelinya. “Hh, baiklah,” Bergilir menghapus kotoran di kedua wajah putranya, “Kalian ini masih saja ceroboh,” Lembut dan mengalun. Satu hal yang tidak pernah Arsenio kira, kini terjadi di depan matanya. Sesaat menahan napas, melihat seperti apa ekspresi Ratu hari ini, Istrinya benar-benar berubah? Tapi kenapa? Dia hanya bisa diam dan menonton. Untuk pertama kali, dalam beberapa tahun ini. Meja makan terasa lengkap dengan kehadiran satu orang wanita yang tak Ia kira akan datang dan meluangkan waktunya walau hanya sesaat. Melupakan semua keberadaan Rheandra, fokus Arsen kini hanya tertuju pada keluarga kecilnya. *** Sementara Rheandra masih memasak, wanita itu tak sengaja melirik ke belakang. Maniknya melebar, dia sendiri tidak mengira kalau Ratu akan datang dan ikut sarapan dengan mereka hari ini. Kursi yang biasa diduduki sang Samantha kini dipenuhi oleh Ratu. Tak ada tempat untuknya. Kedua tangan wanita itu terkepal memegang sutil tanpa sadar, menatap Ratu tajam. Tubuh Rheandra menegang kaget, saat manik Ratu justru sekilas menatapnya balik. Pandangannya teralih cepat. Manik amber keemasan itu melirik dengan singkat dan dingin. Apa yang sebenarnya terjadi?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD