My Prince Season 2 - 17

2505 Words
Berkat perbuatan nekat dari Arga, semua orang yang berasal dari Ras Teriana mulai memberanikan diri untuk keluar dari rumahnya masing-masing, berhenti bersembunyi dan takut, dan segera menunjukkan pemberontakannya pada semua warga di kota Vanterlock, dengan cara berbondong-bondong secara bersamaan menuju ke tempat acara eksekusi kematian tengah dimulai. Tentu saja kejadian itu membuat semua warga yang hadir di tengah kota terkaget-kaget pada kedatangan orang-orang dari Ras Teriana, mereka tidak menyangka Para Teriana bisa kompak dan berani begitu setelah mendengar teriakan dari bocah laki-laki berusia tujuh tahun, padahal sebelumnya orang-orang yang berasal dari Ras Teriana selalu bersembunyi ketakutan dari warga Kota Vanterlock yang lain, seolah-olah menganggap semua orang adalah monster. Tapi sekarang, dengan api amarah yang menggelora di benak mereka masing-masing, juga karena dipelopori adalah teriakan-teriakan keberanian yang membahana dari Arga, membuat Para Teriana tidak lagi bersikap pecundang, malah sebaliknya, saat ini mereka akan menuntut balik atas segala perlakuan kasar dan tidak adil yang telah dilakukan oleh ras-ras lain di kota ini terhadap apapun itu. Para Prajurit, juga manusia-manusia yang berasal dari ras-ras lain, terpaku dan tercengang menyaksikan kejadian langka itu, ini baru pertama kalinya mereka melihat Para Teriana begitu marah dan mengamuk. Akhirnya satu-persatu dari ras-ras lain yang ada di sana lari terbirit-b***t ketakutan, mengingat Para Teriana memiliki keturunan langsung dengan Bangsa Iblis yang bisa dikatakan kalau kekuatan Para Teriana bisa saja lebih mengerikan dari apa yang mereka kira. Apalagi sekarang orang-orang yang berasal dari Ras Teriana terlihat begitu marah dan mengamuk, sungguh tidak bagus bagi mereka yang berasal dari ras-ras bukan petarung untuk berhadapan dengan golongan dari campuran Bangsa Iblis dan Kelinci tersebut. Ada yang memilih melarikan diri, ada juga yang memilih terdiam kaku, ada pula yang memilih ingin melawan Para Teriana, tapi apa pun pilihan yang dipilih oleh orang-orang Kota Vanterlock tidak mengubah sesuatu bahwa sekarang keadaan di lokasi pengeksekusian kian ricuh dan heboh. Banyak sekali orang yang menjerit ketakutan, berlarian secara berbondong-bondong, dan berteriak-teriak marah. Begitu ramai dan bergemuruh. Arga sudah kembali menginjakkan kakinya ke tanah setelah orang yang ia injak pundaknya berlari terbirit-b***t  dari lokasi, sementara Jiola, perempuan berambut perak panjang, ada di sampingnya, bersikap seperti seorang kakak yang ingin melindungi adik kesayangannya, dengan  cara memeluk badan  Arga seerat mungkin agar tidak ada orang yang menabrak tubuh Sang Adik. Ini adalah keadaan yang tidak pernah Jiola sangka, dia tidak pernah menduga akan ada kejadian seperti ini dan dia melihatnya secara langsung, itu sangat luar biasa. Apalagi ketika melihat saudara-saudara satu rasnya bergabung secara kompak dan mengamuk bersama di hadapan warga Vanterlock. Itu adalah salah satu momentum yang sangat menakjubkan. “Lebih baik kita pergi dari sini sebelum semuanya semakin rumit! Aku tidak ingin kamu terluka jika tetap berada di sini!” seru Jiola dengan langsung menarik lengan Arga tanpa menunggu kesepakatan dari Sang Pemilik Tubuh. Mereka berdua pun berlari secara bersamaan menuju suatu tempat, entah kemana tapi yang jelas mereka harus pergi ke lokasi yang aman agar mereka tidak diburu oleh siapa pun. Jiola tahu resikonya, karena meskipun Para Teriana telah bersatu itu tidak mengubah kalau pihak kerajaan atau khususnya Para Prajurit Kerajaan yang hadir di sana, masih membenci mereka dan pastinya akan menangkap semua orang yang memberontak. Itulah mengapa Jiola lebih memilih meninggalkan lokasi itu dari pada dia bersama adiknya ditangkap oleh Pihak Kerajaan dan dituduh telah melakukan perbuatan buruk dan berakhir mendekam di dalam penjara. Demi apa pun, Jiola tidak ingin itu terjadi, dia ingin hidup dirinya dan juga adiknya tetap berada di jalur normal, yang berarti tidak berurusan dengan kriminalitas, karena sekali mereka dianggap penjahat, maka julukan itu akan terus melekat sampai kapan pun selama mereka masih hidup di kota ini. “Hah… Hah… Hah….,” Akhirnya mereka memilih berhenti di belakang sebuah gedung yang kumuh, untuk mengambil napas dan beristirahat sejenak. Napas Jiola terdengar begitu terengah-engah sedangkan Arga sama sekali tidak terlihat kelelahan, dia hanya sedikit mendesah tapi tidak begitu parah dibandingkan dengan kakaknya. “Setidaknya kita istirahat dulu, menurutku ini tempat yang cukup aman untuk kita singgah.” Kata Jiola sembari memandangi Arga yang ada di sampingnya. Sang Adik tampak tidak begitu suka dirinya dibawa ke tempat seperti ini, dia merasa urusannya di lokasi sebelumnya belum selesai secara penuh. “Bukankah sudah kubilang, kalau kau mau pergi, pergi saja sendirian, tapi mengapa sekarang kau membawaku kemari!? Aku bukan pengecut sepertimu! Aku bisa membela diriku sendiri! Aku juga cukup pandai dalam bertarung ataupun berperang! Jangan remehkan aku hanya karena aku masih anak-anak! Ingatlah bahwa aku sudah hidup di tengah hutan selama tujuh tahun sendirian dan aku baik-baik saja! Itulah mengapa kerusuhan semacam itu tidak akan membuatku mati!” Kelihatannya Arga benar-benar merasa diremehkan oleh Jiola, dia tidak suka jika diperlakukan seperti ini, dia tidak perlu mendapatkan perlindungan dari siapa pun, terutama dari seseorang yang bahkan tidak mengerti bagaimana caranya bertahan hidup yang sesungguhnya. Arga sudah tahu cara agar dia selamat di dalam sebuah kerusuhan yang ia ciptakan, tanpa harus meminta bantuan dari orang lain, meskipun tubuhnya masih anak-anak. Tapi perlakuan Jiola telah mencoreng harga dirinya. Arga merasa diinjak-injak dan dia tidak membenci perlakuan itu. Berkat perbuatan nekat dari Arga, semua orang yang berasal dari Ras Teriana mulai memberanikan diri untuk keluar dari rumahnya masing-masing, berhenti bersembunyi dan takut, dan segera menunjukkan pemberontakannya pada semua warga di kota Vanterlock, dengan cara berbondong-bondong secara bersamaan menuju ke tempat acara eksekusi kematian tengah dimulai. Tentu saja kejadian itu membuat semua warga yang hadir di tengah kota terkaget-kaget pada kedatangan orang-orang dari Ras Teriana, mereka tidak menyangka Para Teriana bisa kompak dan berani begitu setelah mendengar teriakan dari bocah laki-laki berusia tujuh tahun, padahal sebelumnya orang-orang yang berasal dari Ras Teriana selalu bersembunyi ketakutan dari warga Kota Vanterlock yang lain, seolah-olah menganggap semua orang adalah monster. Tapi sekarang, dengan api amarah yang menggelora di benak mereka masing-masing, juga karena dipelopori adalah teriakan-teriakan keberanian yang membahana dari Arga, membuat Para Teriana tidak lagi bersikap pecundang, malah sebaliknya, saat ini mereka akan menuntut balik atas segala perlakuan kasar dan tidak adil yang telah dilakukan oleh ras-ras lain di kota ini terhadap apapun itu. Para Prajurit, juga manusia-manusia yang berasal dari ras-ras lain, terpaku dan tercengang menyaksikan kejadian langka itu, ini baru pertama kalinya mereka melihat Para Teriana begitu marah dan mengamuk. Akhirnya satu-persatu dari ras-ras lain yang ada di sana lari terbirit-b***t ketakutan, mengingat Para Teriana memiliki keturunan langsung dengan Bangsa Iblis yang bisa dikatakan kalau kekuatan Para Teriana bisa saja lebih mengerikan dari apa yang mereka kira. Apalagi sekarang orang-orang yang berasal dari Ras Teriana terlihat begitu marah dan mengamuk, sungguh tidak bagus bagi mereka yang berasal dari ras-ras bukan petarung untuk berhadapan dengan golongan dari campuran Bangsa Iblis dan Kelinci tersebut. Ada yang memilih melarikan diri, ada juga yang memilih terdiam kaku, ada pula yang memilih ingin melawan Para Teriana, tapi apa pun pilihan yang dipilih oleh orang-orang Kota Vanterlock tidak mengubah sesuatu bahwa sekarang keadaan di lokasi pengeksekusian kian ricuh dan heboh. Banyak sekali orang yang menjerit ketakutan, berlarian secara berbondong-bondong, dan berteriak-teriak marah. Begitu ramai dan bergemuruh. Arga sudah kembali menginjakkan kakinya ke tanah setelah orang yang ia injak pundaknya berlari terbirit-b***t  dari lokasi, sementara Jiola, perempuan berambut perak panjang, ada di sampingnya, bersikap seperti seorang kakak yang ingin melindungi adik kesayangannya, dengan  cara memeluk badan  Arga seerat mungkin agar tidak ada orang yang menabrak tubuh Sang Adik. Ini adalah keadaan yang tidak pernah Jiola sangka, dia tidak pernah menduga akan ada kejadian seperti ini dan dia melihatnya secara langsung, itu sangat luar biasa. Apalagi ketika melihat saudara-saudara satu rasnya bergabung secara kompak dan mengamuk bersama di hadapan warga Vanterlock. Itu adalah salah satu momentum yang sangat menakjubkan. “Lebih baik kita pergi dari sini sebelum semuanya semakin rumit! Aku tidak ingin kamu terluka jika tetap berada di sini!” seru Jiola dengan langsung menarik lengan Arga tanpa menunggu kesepakatan dari Sang Pemilik Tubuh. Mereka berdua pun berlari secara bersamaan menuju suatu tempat, entah kemana tapi yang jelas mereka harus pergi ke lokasi yang aman agar mereka tidak diburu oleh siapa pun. Jiola tahu resikonya, karena meskipun Para Teriana telah bersatu itu tidak mengubah kalau pihak kerajaan atau khususnya Para Prajurit Kerajaan yang hadir di sana, masih membenci mereka dan pastinya akan menangkap semua orang yang memberontak. Itulah mengapa Jiola lebih memilih meninggalkan lokasi itu dari pada dia bersama adiknya ditangkap oleh Pihak Kerajaan dan dituduh telah melakukan perbuatan buruk dan berakhir mendekam di dalam penjara. Demi apa pun, Jiola tidak ingin itu terjadi, dia ingin hidup dirinya dan juga adiknya tetap berada di jalur normal, yang berarti tidak berurusan dengan kriminalitas, karena sekali mereka dianggap penjahat, maka julukan itu akan terus melekat sampai kapan pun selama mereka masih hidup di kota ini. “Hah… Hah… Hah….,” Akhirnya mereka memilih berhenti di belakang sebuah gedung yang kumuh, untuk mengambil napas dan beristirahat sejenak. Napas Jiola terdengar begitu terengah-engah sedangkan Arga sama sekali tidak terlihat kelelahan, dia hanya sedikit mendesah tapi tidak begitu parah dibandingkan dengan kakaknya. “Setidaknya kita istirahat dulu, menurutku ini tempat yang cukup aman untuk kita singgah.” Kata Jiola sembari memandangi Arga yang ada di sampingnya. Sang Adik tampak tidak begitu suka dirinya dibawa ke tempat seperti ini, dia merasa urusannya di lokasi sebelumnya belum selesai secara penuh. “Bukankah sudah kubilang, kalau kau mau pergi, pergi saja sendirian, tapi mengapa sekarang kau membawaku kemari!? Aku bukan pengecut sepertimu! Aku bisa membela diriku sendiri! Aku juga cukup pandai dalam bertarung ataupun berperang! Jangan remehkan aku hanya karena aku masih anak-anak! Ingatlah bahwa aku sudah hidup di tengah hutan selama tujuh tahun sendirian dan aku baik-baik saja! Itulah mengapa kerusuhan semacam itu tidak akan membuatku mati!” Kelihatannya Arga benar-benar merasa diremehkan oleh Jiola, dia tidak suka jika diperlakukan seperti ini, dia tidak perlu mendapatkan perlindungan dari siapa pun, terutama dari seseorang yang bahkan tidak mengerti bagaimana caranya bertahan hidup yang sesungguhnya. Arga sudah tahu cara agar dia selamat di dalam sebuah kerusuhan yang ia ciptakan, tanpa harus meminta bantuan dari orang lain, meskipun tubuhnya masih anak-anak. Tapi perlakuan Jiola telah mencoreng harga dirinya. Arga merasa diinjak-injak dan dia tidak membenci perlakuan itu. Berkat perbuatan nekat dari Arga, semua orang yang berasal dari Ras Teriana mulai memberanikan diri untuk keluar dari rumahnya masing-masing, berhenti bersembunyi dan takut, dan segera menunjukkan pemberontakannya pada semua warga di kota Vanterlock, dengan cara berbondong-bondong secara bersamaan menuju ke tempat acara eksekusi kematian tengah dimulai. Tentu saja kejadian itu membuat semua warga yang hadir di tengah kota terkaget-kaget pada kedatangan orang-orang dari Ras Teriana, mereka tidak menyangka Para Teriana bisa kompak dan berani begitu setelah mendengar teriakan dari bocah laki-laki berusia tujuh tahun, padahal sebelumnya orang-orang yang berasal dari Ras Teriana selalu bersembunyi ketakutan dari warga Kota Vanterlock yang lain, seolah-olah menganggap semua orang adalah monster. Tapi sekarang, dengan api amarah yang menggelora di benak mereka masing-masing, juga karena dipelopori adalah teriakan-teriakan keberanian yang membahana dari Arga, membuat Para Teriana tidak lagi bersikap pecundang, malah sebaliknya, saat ini mereka akan menuntut balik atas segala perlakuan kasar dan tidak adil yang telah dilakukan oleh ras-ras lain di kota ini terhadap apapun itu. Para Prajurit, juga manusia-manusia yang berasal dari ras-ras lain, terpaku dan tercengang menyaksikan kejadian langka itu, ini baru pertama kalinya mereka melihat Para Teriana begitu marah dan mengamuk. Akhirnya satu-persatu dari ras-ras lain yang ada di sana lari terbirit-b***t ketakutan, mengingat Para Teriana memiliki keturunan langsung dengan Bangsa Iblis yang bisa dikatakan kalau kekuatan Para Teriana bisa saja lebih mengerikan dari apa yang mereka kira. Apalagi sekarang orang-orang yang berasal dari Ras Teriana terlihat begitu marah dan mengamuk, sungguh tidak bagus bagi mereka yang berasal dari ras-ras bukan petarung untuk berhadapan dengan golongan dari campuran Bangsa Iblis dan Kelinci tersebut. Ada yang memilih melarikan diri, ada juga yang memilih terdiam kaku, ada pula yang memilih ingin melawan Para Teriana, tapi apa pun pilihan yang dipilih oleh orang-orang Kota Vanterlock tidak mengubah sesuatu bahwa sekarang keadaan di lokasi pengeksekusian kian ricuh dan heboh. Banyak sekali orang yang menjerit ketakutan, berlarian secara berbondong-bondong, dan berteriak-teriak marah. Begitu ramai dan bergemuruh. Arga sudah kembali menginjakkan kakinya ke tanah setelah orang yang ia injak pundaknya berlari terbirit-b***t  dari lokasi, sementara Jiola, perempuan berambut perak panjang, ada di sampingnya, bersikap seperti seorang kakak yang ingin melindungi adik kesayangannya, dengan  cara memeluk badan  Arga seerat mungkin agar tidak ada orang yang menabrak tubuh Sang Adik. Ini adalah keadaan yang tidak pernah Jiola sangka, dia tidak pernah menduga akan ada kejadian seperti ini dan dia melihatnya secara langsung, itu sangat luar biasa. Apalagi ketika melihat saudara-saudara satu rasnya bergabung secara kompak dan mengamuk bersama di hadapan warga Vanterlock. Itu adalah salah satu momentum yang sangat menakjubkan. “Lebih baik kita pergi dari sini sebelum semuanya semakin rumit! Aku tidak ingin kamu terluka jika tetap berada di sini!” seru Jiola dengan langsung menarik lengan Arga tanpa menunggu kesepakatan dari Sang Pemilik Tubuh. Mereka berdua pun berlari secara bersamaan menuju suatu tempat, entah kemana tapi yang jelas mereka harus pergi ke lokasi yang aman agar mereka tidak diburu oleh siapa pun. Jiola tahu resikonya, karena meskipun Para Teriana telah bersatu itu tidak mengubah kalau pihak kerajaan atau khususnya Para Prajurit Kerajaan yang hadir di sana, masih membenci mereka dan pastinya akan menangkap semua orang yang memberontak. Itulah mengapa Jiola lebih memilih meninggalkan lokasi itu dari pada dia bersama adiknya ditangkap oleh Pihak Kerajaan dan dituduh telah melakukan perbuatan buruk dan berakhir mendekam di dalam penjara. Demi apa pun, Jiola tidak ingin itu terjadi, dia ingin hidup dirinya dan juga adiknya tetap berada di jalur normal, yang berarti tidak berurusan dengan kriminalitas, karena sekali mereka dianggap penjahat, maka julukan itu akan terus melekat sampai kapan pun selama mereka masih hidup di kota ini. “Hah… Hah… Hah….,” Akhirnya mereka memilih berhenti di belakang sebuah gedung yang kumuh, untuk mengambil napas dan beristirahat sejenak. Napas Jiola terdengar begitu terengah-engah sedangkan Arga sama sekali tidak terlihat kelelahan, dia hanya sedikit mendesah tapi tidak begitu parah dibandingkan dengan kakaknya. “Setidaknya kita istirahat dulu, menurutku ini tempat yang cukup aman untuk kita singgah.” Kata Jiola sembari memandangi Arga yang ada di sampingnya. Sang Adik tampak tidak begitu suka dirinya dibawa ke tempat seperti ini, dia merasa urusannya di lokasi sebelumnya belum selesai secara penuh. “Bukankah sudah kubilang, kalau kau mau pergi, pergi saja sendirian, tapi mengapa sekarang kau membawaku kemari!? Aku bukan pengecut sepertimu! Aku bisa membela diriku sendiri! Aku juga cukup pandai dalam bertarung ataupun berperang! Jangan remehkan aku hanya karena aku masih anak-anak! Ingatlah bahwa aku sudah hidup di tengah hutan selama tujuh tahun sendirian dan aku baik-baik saja! Itulah mengapa kerusuhan semacam itu tidak akan membuatku mati!” Kelihatannya Arga benar-benar merasa diremehkan oleh Jiola, dia tidak suka jika diperlakukan seperti ini, dia tidak perlu mendapatkan perlindungan dari siapa pun, terutama dari seseorang yang bahkan tidak mengerti bagaimana caranya bertahan hidup yang sesungguhnya. Arga sudah tahu cara agar dia selamat di dalam sebuah kerusuhan yang ia ciptakan, tanpa harus meminta bantuan dari orang lain, meskipun tubuhnya masih anak-anak. Tapi perlakuan Jiola telah mencoreng harga dirinya. Arga merasa diinjak-injak dan dia tidak membenci perlakuan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD