Tidak mungkin

1044 Words
Pengaruh obat perangsang itu mungkin sedikit susah di hilangkan, dan sekarang tubuh Juni malah tampak menggigil kedinginan. Wajahnya pucat, dan bibirnya berubah keunguan. Lalu Gara berpikir, mungkin ini sudah cukup. Dia segera mengambil handuk di belakang pintu dan melilitkannya pada gadis itu. "Sebaiknya kau segera keringkan tubuh mu dan berganti lah pakaian." Selesai bicara demikian, pria itu beringsut keluar dari kamar mandi dan meninggalkannya sendirian. Juni terduduk lemas di lantai. Apakah tadi dirinya tidak salah mengenali? Pria itu... pria itu bukankah CEO muda yang dia temui tadi siang kan? Sekarang perasaan Juni berdebar tak karuan. Apa mungkin ini yang di namakan takdir? Sementara itu. Lili yang menyadari Juni belum juga kembali, merasa khawatir. Dia mencoba menghubungi ponsel Juni, tapi tak di angkat. Lalu dia bergegas ingin mencari Juni ke luar. Dia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. "Lili... kau mau pergi kemana? Ini sudah larut malam." Tegur ibunya yang masih ada di ruang tengah menonton televisi. "Benar, kau mau pergi kemana malam-malam begini?" Tambah sang ayah. "Aku harus mencari Juni, yah, Bu. Dia belum juga kembali sejak tadi." Ayah dan ibu nya saling menatap sesaat, wajahnya tampak khawatir. "Tapi ini sudah malam, kau jangan nekad keluar malam, itu sangat berbahaya. Mungkin saja Juni kembali ke rumah orang tuanya." Bujuk sang ibu. "Tapi aku mencoba menghubungi ponselnya tidak di angkat, aku jadi khawatir." Ujar Lili lagi dengan memasang wajah gelisah. "Mungkin saja dia sudah tidur. Juni sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Lagipula, kau mau mencari dia kemana malam-malam begini?" Tambah sang ayah. Lili menggigit bibir bawahnya ragu. Dia merasa ragu, tetap ingin ngotot mencari Juni atau menuruti perkataan orang tuanya. Jika tetap ngotot mencari Juni, dia juga tidak tahu harus mencari sahabatnya itu kemana. Semoga saja apa yang di katakan orang tuanya benar. Juni sudah dewasa dan dia pasti akan baik-baik saja di luar sana. Ya... benar! Lili mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski hatinya masih di liputi rasa khawatir. *** Karena bajunya telah basah kuyup, Gara memberi Juni baju ganti dengan kemejanya. Kemeja warna putih itu jadi tampak kebesaran di tubuh Juni yang mungil. Juni keluar dari kamar mandi dengan malu-malu. Bagaimanapun kemeja putih itu tak menutupi semua kaki bagian atasnya. Dia menelan ludah kasar saat pria itu seolah menunggunya sambil duduk bersandar di atas ranjang king size miliknya. "Kau sudah selesai?" Suara itu terdengar dingin dan dalam. Dan sorot matanya yang kini menatap ke arah Juni, seolah menghentikan seluruh aliran darahnya. Juni mematung di tempat, dia bukannya tidak tahu caranya bicara, hanya saja lidahnya tiba-tiba saja kelu tak bisa mengeluarkan suara. Pria itu memiliki kelima Indra yang menawan, alis matanya tampak tebal dan tegas, membingkai manik matanya yang jernih dan terkesan dalam. Hidungnya mancung, bersanding dengan bibir tipis bewarna merah alami yang menawan. Dan pria itu sedang menatap ke arah Juni sekarang. "Ya..." Jawabnya akhirnya, kemudian menundukkan kepalanya berusaha menghindari kontak mata dengan pria itu. Sudut bibir Gara tertarik ke atas tersenyum, dia berpikir tadi siang gadis ini terlihat sangat agresif, tapi kenapa sekarang jadi terlihat seperti kucing yang pemalu. Ada apa dengannya? Rambut basah, dan baju kemeja yang tampak kebesaran yang membalut tubuh gadis itu. Tiba-tiba membuat Gara menelan ludah. Perasaan apa ini? Aneh sekali. Tidak biasanya dia merasa seperti ini. Sekarang, giliran Gara yang merasa sekujur tubuhnya seolah terbakar. Dia bahkan sampai berkeringat di ruangan yang dingin ini. Gara mencoba menormalkan dirinya sendiri yang mulai terasa aneh. "Baiklah, kau tidur saja di sini. Biar aku tidur di sofa ruang tamu," ujarnya sembari bangkit berdiri dan hendak berlalu. "Tuan...." Suara Juni menghentikan langkahnya. "Ada apa?" Sahutnya tanpa membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah gadis itu. "Terimakasih karena tuan telah menolong ku. Dan maafkan kelancangan ku tadi siang." Juni membungkuk hormat meski tak terlihat oleh Gara. "Tidak apa-apa, lupakan saja masalah tadi siang. Sekarang lebih baik kau beristirahatlah, besok pagi biar ku antar kau pulang." Gara kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu dan keluar. Juni masih termangu di tempat. Dia tidak menyangka, pria yang terlihat arogant itu, masih memiliki sisi baik. Sudut bibirnya tanpa terasa tertarik ke atas tersenyum. Saat ia hendak naik ke atas tempat tidur, dia tiba-tiba teringat akan Lili. "Astaga... aku belum menghubungi Lili, dia pasti sangat khawatir karena aku belum juga kembali sejak tadi." Gumam Juni sembari mencari ponselnya, namun dia tidak ingat telah meletakkan benda pipih itu di mana. Bahkan tas selempang kecil yang di kenakannya juga tidak ada. "Astaga, sepertinya aku menjatuhkan tas serta ponsel ku di suatu tempat." Gumam Juni lagi dengan wajah gelisah. Astaga... bagaimana ini? Di tengah kebingungannya, tiba-tiba terdengar suara pintu yang di buka. Juni merasa kaget dan segera memasang sikap waspada. Ternyata itu Gara yang kembali ke dalam kamar. "Maaf... aku hanya ingin mengembalikan ini padamu, aku menemukannya di dalam mobilku." Ujar Gara sembari menenteng tas selempang milik Juni di tangannya. "Astaga ... aku pikir aku menghilangkannya." Wajah Juni yang tadi muram kini berubah berseri, dia segera melangkah ke arah Gara untuk mengambil tas selempang nya dari tangan pria itu. "Sekai lagi, terimakasih tuan." Juni menunduk hormat. Gara tanpa sadar menatapi Juni untuk beberapa saat, dan gelayar aneh itu tiba-tiba kembali merayapi seluruh tubuhnya, dan pusatnya paling besar terasa di bawah perut. Sebelum rasa itu mulai menguasainya, dia segera beringsut untuk pergi dari sana. Kemudian bicara dari balik punggungnya. "Kau jangan salah paham dengan kebaikan ku ini ya? Aku melakukan ini hanya untuk rasa kemanusiaan. Mengerti!" Ujar Gara lalu kembali melanjutkan langkahnya. Juni terbengong untuk beberapa saat, "maksudnya apa dia berkata seperti itu? Wajahnya tadi juga sempat terlihat memerah, dia tampak malu-malu. Aneh sekali." Gumam Juni pada dirinya sendiri. Tak ingin berpikir lebih lanjut, dia akhirnya menutup pintu dan pergi tidur. Sedangkan Gara terlihat mondar-mandir di ruang tengah, dia merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa reaksi tubuhnya begitu berbeda jika berada di dekat gadis itu. Gadis itu seolah bisa membangkitkan hasrat dalam dirinya, tapi kenapa harus gadis aneh itu? Dia tidak mengenalnya. Dan dia tidak ingin melakukannya pada sembarang wanita. Dia tidak mau mendapatkan gadis yang tidak suci. Karena dirinya sendiri masih suci, dia tidak pernah bersentuhan dengan wanita manapun karena penyakit anehnya itu. Terlebih lagi, dia tidak mencintai gadis itu. Gadis itu terlihat seperti kucing liar. Dan Dirinya adalah orang yang sangat pemilih. Dia tidak mungkin memilih gadis seperti itu walau hanya sebagai teman tidur. Dia merasa tidak sudi! Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD