Di ruang tamu mewah yang didekorasi dengan gaya Eropa, terdapat tangga spiral kristal yang cantik dan lantai marmer hitam megah. Setiap sudut ruangan dipenuhi berbagai macam barang antik yang cantik dan berharga, memancarkan aura bangsawan kelas atas.
Tapi jelas terlihat Serafina yang duduk di sofa sama sekali tidak serasi dengan suasana di sini.
Serafina mengenakan pakaian olahraga yang bahkan dibeli tahun lalu, bagian lengan jaket juga sudah lusuh, tapi untung saja masih terbilang bersih. Posisi duduknya yang tegap malah terlihat kaku dan berhati-hati, seakan takut dirinya tanpa sengaja memecahkan barang berharga saja.
Tiba-tiba, suara yang tidak asing terdengar dari jauh, diiringi dengan suara langkah kaki dari jarak yang jauh di luar pintu sana, “Dimana putriku? Dimana dia?”
Heryanto melihat ke sekeliling ruang tamu dan menemukan sosok bayangan kecil yang kurus dan lemah itu duduk meringkuk di sofa, membuat senyuman penjilat di wajah orang tua itu seketika jadi suram.
Dia melangkah besar ke arah Serafina, mencubit daging lembek di lengan gadis itu dengan garang dan langsung memaki, “Anak kurang ajar, sudah suruh kamu setelah dapat uang langsung segera pergi, kenapa masih bisa tertangkap?”
Mata Serafina agak memerah, namun dia dengan kuat menahan air matanya, alis matanya juga mengerut erat, satu wajah yang keras kepala dan juga dingin.
"Berani-beraninya kamu mengungkit uang itu? Setelah semua selesai kamu menjanjikanku 5 miliar, tapi sekarang apa? Bahkan 200 juta pun aku tidak dapat! Heryanto Santoso, dimana hati nuranimu?"
Heryanto benar-benar kesal. Tangan yang mencubit lengan Serafina bertambah lebih keras lagi dan berkata, "Kamu ini tidak tahu malu ya! Hari ini aku perjelas semua, memang kamu ini hanya bernilai 200 juta!"
Setelah Serafina mendengar cercaan Heryanto, hanya merasa wajahnya memanas berapi.
Walau bagaimana pun di dalam tubuhnya mengalir dari lelaki itu, tetapi hari ini Heryanto melontarkan perkataan seperti ini di depan orang banyak tanpa menaruh belas kasihan!
Serafina merasa tubuhnya mendingin, garis pertahanan di lubuk hati Serafina akhirnya rubuh dan air matanya langsung saja menetes.
"Heryanto Santoso! B*jingan kamu! Kamu sama sekali tidak pantas menjadi ayahku! Lepaskan aku! Kamu sudah menyakitiku!"
Serafina memberontak untuk menyingkirkan sepasang tangan ayahnya yang kejam itu, hanya terlihat bagian lengan yang dicubit Heryanto sudah memar.
Rolls-Royce Phantom itu tiba di vila bergaya kastil Eropa secara perlahan. Rian turun dari mobil dan berjalan menuju ruang tamu lalu dari kejauhan terdengar suara nyaring itu.
"Berani-beraninya kamu mengungkit uang itu? Setelah semua selesai kamu menjanjikanku 5 miliar, tapi sekarang mana? Bahkan 200 juta pun aku tidak dapat!"
Rian mengerutkan alis, dalah hati muncul perasaan merendahkan Serafina.
"Ternyata benar, kebanyakan wanita itu serakah dan murahan. Demi sedikit keuntungan saja, mereka bisa melakukan hal jahat dan kotor apa pun."
......
Serafina baru berusia 18 tahun dan baru masuk universitas tahun ini. Di mata Heryanto, dia adalah gadis kecil bodoh yang tidak punya otak.
"Mau membantah denganku ayahmu ini?"
. "Huh, dia masih terlalu polos!"
"Ehem."
Tiba-tiba, pengurus rumah tangga yang dari tadi berdiri di pojok dan sama sekali tidak mengeluarkan suara tiba-tiba batuk beberapa kali. Dalam sekejap, suhu di ruang tamu seakan turun beberapa derajat.
Heryanto merasa ada sesuatu yang janggal, lalu melepaskan Serafina dan menoleh ke belakang.
Di luar pintu ruang tamu sana berdiri sesosok bayangan yang dingin dan terhormat.
Pria dengan tinggi badan hampir 1,9 meter, berbentuk badan proporsional, paras wajah tampan yang tajam dan serius, bibir berwarna mawar yang dirapatkan, dan mata yang besar dengan dingin menatap ke ruang tamu, tempat dimana ayah dan putri itu bertengkar.
Serafina mengusap air matanya, ketika pandangannya jadi jelas, jantungnya melompat, langsung saja dia mengenali Rian.
Malam itu gelap, jadi Serafina tidak bisa melihat Rian dengan jelas. Namun, Rian yang bisa membuat detak jantungnya ketakutan sampai bisa berhenti berdenyut ini membuatnya tidak akan pernah lupa.
Heryanto adalah orang pertama yang bereaksi. Wajahnya yang bengis tiba-tiba berubah dan tersenyum ramah, "Pak Rian, Anda sudah kembali?"
Rian tidak memedulikan sanjungan Heryanto dan mendaratkan tatapan penuh selidiknya pada Serafina.
Serafina berpakaian sederhana. Rambut bergelombang setengah panjangnya yang diikat satu membuatnya terlihat seperti murid sekolah. Saat ini dia sedang membulatkan matanya yang kemerahan dan menatap Rian penuh ketakutan.
Seolah-olah dia sedang melihat binatang buas!
Rian mengernyitkan dahinya. Dia merasa sedikit tidak senang.
Dia mengambil handuk yang diberikan oleh Kepala Pelayan dan menyeka tangannya. Kemudian dia berjalan menuju dua orang yang berdiri di tengah ruang tamu dengan langkah santai. Aura anggun dan tenang terpancar darinya.
Kemudian, Rian duduk di sofa tunggal, menyilangkan kaki panjangnya di atas meja teh yang terbuat kristal. Dia membuka bibir tipisnya dan berkata dengan tenang, "Jelaskan."
Meski hanya satu kata, tetapi sudah membuat Heryanto yang bertubuh tinggi besar ketakutan. Wajahnya mulai berkeringat, tetapi kejadiannya sudah seperti ini, Heryanto tidak bisa mundur..
"Pak Rian, Serafina adalah anak saya yang lain. Dia mengagumi Anda dan memohon agar saya memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Anda. Saya menolaknya, tetapi saya tidak menyangka dia akan mencelakai Kalista dan melakukan hal memalukan itu.”
Begitu Heryanto menyelesaikan kalimatnya, Serafina langsung menatap tajam pada Heryanto dengan mata merahnya, “Fitnah! Omong kosong! Kamu berbohong!”
Serafina sangat marah. Jika di depannya ada pisau, dia pasti akan menyerang Heryanto. Serafina mengangkat tangannya dan menampar Heryanto dengan keras.
Tamparan Serafina hampir membuat Heryanto kehilangan keseimbangan. Dia mengiris kesakitan sambil memegang wajahnya. Hatinya dipenuhi amarah. Namun, dia segera berubah pikiran, seperti sudah mendapatkan barang bukti.
"Pak Rian, Anda juga sudah melihatnya. Anak ini sama sekali tidak takut pada saya. Dia menggunakan identitasnya sebagai anak haram saya untuk memeras saya. Dia baru saja meminta 5 miliar pada saya. Kalista sungguh malang, sampai sekarang dia masih terbaring di rumah sakit."
Heryanto tidak bisa menahan diri untuk diam-diam mengamati reaksi Rian ketika membahas Kalista, tetapi Rian tidak menunjukkan emosi apa pun meski Heryanto menyebut nama Kalista.
Awalnya Heryanto tidak mengerti alasan Kalista menolak Rian, pria yang begitu luar biasa dan berkuasa itu. Rian jauh lebih baik dari tunangan Kalista yang merupakan seorang diplomat.
Namun, Heryanto tidak berani memiliki hubungan dengan Rian ketika dia mengetahui kebenaran yang tersembunyi itu.
Sehingga Heryanto bertekad untuk menyelamatkan Kalista, putri sulungnya, yang merupakan satu-satunya aset yang bisa memberinya keuntungan. Sedangkan Serafina hanyalah seorang mahasiswa dari universitas biasa-biasa saja, yang sama sekali tidak berarti bagi Heryanto.
"Pak Rian, ini semua adalah kesalahannya. Jika Anda merasa tidak senang, hari ini saya akan membawanya pulang dan menghabisinya, untuk membalaskan rasa tidak senang Anda!”
Wajah Serafina segera berubah pucat. Hatinya gentar.
Bahkan binatang buas saja tidak akan memangsa anaknya. Kenapa Heryanto bisa tega memanfaatkan anaknya sendiri. Heryanto sudah membuatnya kehilangan kesuciannya. Sekarang bahkan ingin menghabisinya. Apakah Heryanto sungguh merasa dia sangat mudah dianiaya?
Air mata jatuh dari matanya. Serafina menyeka air mata dengan tangannya. Ada sebuah cangkir teh keramik yang sangat indah disajikan di hadapannya. Kepala Pelayan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, "Nona Serafina, silakan minum teh."
Serafina tertegun. Ketika dia sadar, Kepala Pelayan sudah pergi dengan membawa nampan. Saat ini dia baru menyadari hanya dia dan Rian yang disajikan teh.
Cangkir itu adalah porselen biru-putih terbaik yang dibuat di tempat pembakaran resmi pada masa Dinasti Qing, sedangkan pada porselen emas yang dipegang Rian tercetak Totem Naga.