Gue nggak tau kenapa, tapi malam itu gue nggak bisa tidur. Kepala gue penuh sama hal yang nggak nyambung: sidang etik, tiga mahasiswi gila itu, rektor muda yang dinginnya kayak freezer, dan dosen baru yang—entah kenapa—bikin gue pengen nulis puisi tiap kali ngeliat dia senyum. Biasanya, kalau gue stress, gue nongkrong di rooftop sambil minum kopi sachet dan dengerin lagu-lagu lawas. Tapi malam ini, bahkan kopi pun rasanya kayak air cucian piring. HP gue bunyi. Notifikasi masuk dari nomor nggak dikenal lagi. > “Jangan percaya siapa pun di rektorat. Bahkan yang paling manis sekalipun.” Gue bengong beberapa detik, terus refleks ngelihat ke arah kontak terakhir yang gue hubungi: Rania. “Yang paling manis,” katanya. Oke, ini mulai aneh. --- Besok paginya, gue dateng ke kantor rektora

