Pasca acara itu, hidupku resmi tidak normal. Aku berjalan di kampus seperti NPC yang tiba-tiba naik pangkat jadi karakter utama. Mahasiswa menyapa. Bukan “Pak”. Tapi: “Pak!” Dengan intonasi penuh makna. Aku membalas dengan anggukan yang terlihat bijak, padahal di kepala aku cuma mikir: tolong jangan ajak diskusi hidup sekarang. Hari Senin berikutnya, aku menemukan fakta baru. Di papan pengumuman fakultas. Ada poster. Besar. Warna pastel. Dengan judul: KELAS TAMBAHAN: “ETIKA, BATAS, DAN KETENANGAN EMOSIONAL” Pengajar: BAPAK SENDIRI Aku membaca sampai bawah. Kuota: 200 orang. Status: PENUH. Aku belum mendaftar. Aku yang ngajar. Aku menoleh ke Raka. “Ini apa?” Raka mengangkat bahu. “Mahasiswa minta, Pak.” “Minta apa?” “Minta diajarin cara nggak baper.” Aku memega

