12

1901 Words
Zia, Seunghye, Taekwang dan Haajae baru saja sampai di villa Zia. Mereka terlihat sangat lelah karena perjalanan yang lumayan jauh dari taman Botani Halla ke villa mereka.   "hah lelahnya" ucap Seunghye sambil duduk dan bersandar disofa ruang tamu.   "istirahatlah dikamar, nona" kata Taekwang menyuruh Seunghye dengan nada lembut.   "oooh romantis sekali" sindir Zia yang baru saja masuk kedalam villa.   "sirik saja kau" semprot Seunghye.   "aku tidak sirik...lagi pula Taekwang itu bodyguard-ku jadi dia lebih perhatian denganku dari pada kau.." ejek Zia yang membuat Seunghye merasa jengkel. Dengan kesal gadis cantik itu beranjak dari duduknya dan pergi kekamarnya.   "ada apa dengannya?" tanya Haajae yang baru saja masuk kedalam villa.   "entahlah" jawab Taekwang sambil mengedikkan bahu.   "abaikan saja dia!” kata Zia sambil duduk diruang televisi sambil menikmati air dingin yang tadi ia ambil didapur “…oh ya, Tae...besok aku ingin pergi sendiri lagi ya.." lanjut Zia.   "tapi non-"   "aku tidak peduli...intinya aku ingin keluar sendirian besok!" kekeh Zia sambil melenggang pergi meninggalkan Taekwang dan Haajae diruang tamu dengan pandangan yang sulit diartikan.   "aku akan mengikutinya besok" tawar Haajae.   "tidak usah, hyung...aku tidak mau Zia nona marah nantinya" kata Taekwang.   "tidak apa, Tae…lagipula aku tidak ada kegiatan besok"   "kau tidak mengerti, hyung" kata Taekwang sambil melenggang pergi meninggalkan Haajae dengan penuh tanda tanya diotaknya. Setelah kepergian Taekwang ponsel Haajae berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk dan lelaki itu buru-buru mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.   "ne"   "...."   "baiklah kita bertemu dicafe itu jam 9"   "..."   "tunggu aku disana"   "..." Tut. Panggilan diputus sepihak oleh Haajae kemudian ia berjalan kearah kamarnya untuk istirahat.   ◽ ◾ ◽   07.00 KST. Zia bangun dari tidurnya dan langsung melenggang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi jalan-jalan sendirian lagi hari ini. Selama lima belas menit berada dikamar mandi, Zia keluar dengan celana pendek sebatas paha dengan kaus hitam berpadu dengan jaket denim yang membungkus kulit putihnya. Kemudian ia duduk didepan meja rias untuk memoles wajahnya dengan sedikit make up tipis agar menambah kesan manis diwajahnya. Setelah selesai ia keluar dari kamar dan melihat bahwa Seunghye, Taekwang dan Haajae sudah siap dimeja makan dengan sarapan yang tertata rapi diatas meja. Zia-pun duduk dikursi samping Seunghye dan mulai menyantap sarapannya.   “ini enak” puji Seunghye yang mulai menyantap sarapannya.   “terimakasih” kata Haajae.   “oh apa kau yang buat?”   “iya”   “wah sungguh beruntung gadis yang akan menikah denganmu nanti”   “biasa saja” Haajae yang dipuji itu sedikit malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Taekwang yang mendengar pujian Seunghye itupun merasa tidak suka. Katakan bahwa Taekwang itu iri pada Haajae yang bisa mengobrol dengan Seunghye. Ia tidak suka melihat interaksi keduanya itu. Hal itu ditangkap oleh mata Zia. Gadis mungil yang mengerti situasi bodyguard-nya itu menendang kaki Taekwang dengan pelan yang membuat Taekwang langsung menatap nona mungilnya. “cemburu?” tanya Zia tanpa suara yang mampu ditangkap oleh Taekwang. Lelaki itu menggeleng sebagai jawaban. Zia memutar bola matanya malas sambil minum air yang ada digelasnya.   “terimakasih sarapannya” kata Zia sambil beranjak dari duduknya. Taekwang yang tahu jika Zia akan pergi itupun beranjak dari kursinya dan mengikuti Zia.   “nona….apa nona yakin akan pergi sendiri?” tanya Taekwang yang sebenarnya khawatir dengan nona mungilnya itu. Zia berhenti dan berbalik menatap Taekwang.   “hmz…aku ingin pergi sendiri dan nikmati waktumu dengan Seunghye sebaik mungkin karena….” Zia menjeda ucapannya dan berbalik keluar villa “karena aku tahu jika Haajae akan keluar hari ini” tambahnya sambil melambaikan tangan mungilnya kearah Taekwang tanpa menoleh pada lelaki itu. Taekwang yang tidak tahu maksud Zia itupun menatap kepergian nona mungilnya itu bingung.   “aku pergi dulu, Tae” kata Haajae sambil berlalu keluar dari villa. Taekwang yang masih blank itupun tak bisa merespon perkataan Haajae karena kejadian itu terlalu cepat.   “kau sedang apa?” tanya Seunghye sambil memegang pundak Taekwang membuat lelaki itu terkejut.   “oh tidak ada….apa Haajae hyung pergi?” tanya Taekwang sambil menatap Seunghye yang ada disampingnya.   “iya…baru saja” jawab Seunghye.   “oh…apa kau mau jalan-jalan dipantai belakang?” tanya Taekwang.   “boleh saja” Seunghye menerima ajakan Taekwang dengan senyum yang terkembang diwajah cantiknya. Villa keluarga Kim itu tidak jauh dari pantai jadi mereka bisa menikmati pemandangan laut dan pantai yang ada dibelakang villa tersebut.   ◽ ◾ ◽   Hari ini Zia pergi ke Seopjikoji yang terletak diujung pulau Jeju. Kata orang tempat itu sangat indah dan ditumbuhi berbagai bunga dan juga rumput hijau, maka dari itu Zia memutuskan pergi kesana hari ini. Ia pergi dengan menaiki bus karena ia tidak tahu jalan menuju kesana jadi lebih aman jika naik kendaraan umum. Setelah lama menempuh perjalanan yang melelahkan akhirnya Zia sampai di Seopjikoji. Didepan sana, Zia bisa melihat padang rumput yang terbentang luas dengan berbagai macam bunga yang cantik. Ia berjalan senang kearah bunga-bunga tersebut seakan lupa dengan sifat dingin dan acuhnya yang selama ini tertanam didalam dirinya. Ia bahkan tidak lupa untuk mengabadikan moment itu dengan berfoto ria. Tanpa Zia sadari ada dua pasang mata yang memandang kearahnya dengan pandangan berbeda.   "Zia saeng"   ◽ ◾ ◽   Kevin sudah siap didalam mobil dan menunggu Angga dan Jeni keluar dari villa. Hari ini Kevin akan mengantar Angga bertemu dengan koleganya disebuah restoran yang letaknya lumayan jauh dari kota Jeju. Lama menunggu, akhirnya dua orang yang ia tunggu keluar juga. Kevin bernafas lega karena tidak menunggu terlalu lama. Setelah keduanya masuk kedalam mobil, Kevin langsung melajukan mobilnya menuju kerestoran yang Angga katakan sebelumnya.     Selang satu jam mengendarai mobil, akhirnya Kevin memberhentikan mobil itu disebuah restoran dan Angga langsung turun dari dalam mobil.   "jaga dia, Vin" perintah Angga pada Kevin sambil melirik Jeni yang sudah beralih tempat duduk yang semula dibelakang menjadi disamping Kevin.   "baik hyung...kami pergi dulu" Kevin menjalankan mobilnya lagi meninggalkan Angga yang masih berdiri didepan restoran sambil menatap kepergian kedua orang berbeda kelamin itu. Setelah mobil itu tidak terlihat baru Angga berjalan masuk kedalam restoran tersebut.     Didalam mobil, Jeni melirik Kevin yang ada disampingnya sekilas. Ia tidak berani membuka suara meskipun Jeni ingin mengajak lelaki tampan itu berbicara, tapi mengingat sifat Kevin yang dingin akhirnya Jeni mengurungkan niatnya untuk mengajak lelaki tampan itu bicara.     Lama mereka berada didalam mobil, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Kevin turun dari mobil dan diikuti oleh Jeni setelahnya. Mereka sekarang berada di Seopjikoji-ro, padang hijau yang terbentang luas dengan taman bunga yang menghiasi tempat tersebut. Jeni berjalan didepan Kevin dengan lelaki tampan itu yang mengawasi gerak-gerik gadis itu. Mereka masih tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak didalam mobil tadi. Keterdiaman mereka berakhir saat sebuah tawa kecil masuk kedalam pendengaran Jeni dan juga Kevin. Mereka mencari sumber tawa tersebut dan menemukan seseorang dengan tinggi badan yang mungil dan berisi berada ditengah-tengah taman bunga.   "ZIA SAENG" teriak Jeni.   Zia yang merasa namanya dipanggil oleh seseorang itupun mulai celingukan mencari keberadaan orang yang memanggilnya. Tapi, ia tidak menemukan siapapun disana kecuali banyak orang yang berlalu lalang tanpa memperhatikannya.   Kevin yang sejak tadi diam itu langsung menarik Jeni kala gadis itu memanggil nama Zia yang berada ditengah-tengah bunga. Ia menarik Jeni kebelakang sebuah pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kevin melepaskan cengkraman tangannya dari Jeni dan menatap gadis itu tajam.   "apa kau sudah gila!" bentak Kevin dengan penuh penekanan membuat Jeni merinding dengan bentakan itu.   "aku hanya ingin bertemu dengannya" cicit Jeni dengan memelintir bajunya.   "hah" Kevin menghela nafas "...kau ingin Angg hyung memarahimu seperti kemarin, hah!?" tanya Kevin dan Jeni hanya menggeleng sebagai jawaban.   "bisakah kau temui adikku?" tanya Jeni takut-takut dan membuat kerutan didahi Kevin muncul.   "buat dia tersenyum untukku..aku akan menunggumu disini kumohon..." lanjut Jeni sambil mengepalkan kedua tangannya, memohon pada Kevin.   "aku tidak bisa" tolak Kevin.   "aku mohon" Jeni terus memohon pada Kevin agar lelaki tampan itu mau menurutinya.   "hah baiklah" pasrah Kevin. Entah kenapa Kevin menerima permintaan Jeni, hanya saja ia tidak mau melihat Jeni menangis seperti kemarin. Apa lagi menjadi bahan tontonan banyak orang, Kevin tidak suka hal itu. Jadi ia berjalan mendekati Zia yang sedang asyik menciumi bunga didepannya dengan perlahan.   "DUAR"     "KYAAAAAA!" Kevin mengageti Zia dan membuat gadis mungil itu reflek memukuli tubuh Kevin.   "hei hentikan" kata Kevin dingin. Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya, Zia akhirnya menghentikan pukulannya dan memandang Kevin terkejut.   "Kau!" kaget Zia.   "baru menyadarinya nona pemarah" kata Kevin.   "AKU TIDAK PEMARAH, pabo!" teriak Zia kesal. Jeni yang melihat dari balik pohon besar tadi itupun terkikik dengan ekspresi adiknya itu.   "oh ya lalu yang tadi itu apa? "   "kau...menyebalkan!" sungut Zia sambil berjalan menjauhi Kevin dengan menghentak-hentakkan kakinya ketanah. Ia sebal dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba itu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki pembunuh itu ditempat seperti ini. Padahal niatnya kesini untuk menenangkan diri malah bertemu dengan Kevin yang membuat mood nya sedikit menghilang.   "HEY" teriak Kevin saat Zia meninggalkannya.   "HEY PENDEK!" lagi Kevin memanggil Zia.   "aku punya nama! dan aku tidak pendek!" sungut Zia kesal.   "ya ya baiklah...Zia"   "APA?"   "dimana bodyguardmu?"   "aku ingin pergi sendiri tanpanya"   "kau tidak takut dikejar mereka lagi?"   "tidak!"   Setelah itu tak ada percakapan diantara mereka. Zia memperhatikan bunga didepannya sedangkan Kevin memperhatikan Zia dan Jeni dengan bergantian. Kevin dapat melihat Jeni yang memandangnya dengan penuh harap dengan tangannya yang terus memohon padanya.   "bagaimana membuatnya tertawa?" monolog Kevin dalam hati. Ia kemudian menghela nafas kasar.   "hei lelaki jelek" Zia memanggilnya dan membuat Kevin menoleh kearahnya.   "KYAAAAAAA" teriak Kevin sambil menjauh dari Zia. Pasalnya baru saja Kevin menolehkan kepalanya yang ia lihat bukannya wajah Zia melainkan seekor serangga yang entah Zia dapat dari mana Kevin tak tahu.   "hahahahahaha mukamu lucu... hahahahaha haduh perutku hahahaha" tawa Zia pecah saat melihat wajah Kevin antara geli dan marah bercampur jadi satu. Zia tidak menyangka jika lelaki pembunuh seperti Kevin takut dengan serangga macam itu.   "hiiiii" Zia mengarahkan serangga yang ia pegang kearah wajah Kevin yang menjauh darinya sambil menggoyang-goyangkannya didepan wajah lelaki tampan itu dan membuat Kevin menahan rasa gelinya.   "YAK buang hewan itu, sialan!" umpat Kevin.   "hahahahaha haduh kau lucu sekali...ini hanya serangga hahaha kau….hahahaha"   "sial!" umpat Kevin lagi.   Kevin melihat wajah Zia yang tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Akhirnya ia berhasil membuat gadis mungil itu tertawa meskipun Zia tahu kelemahannya yang terpenting gadismungil itu tertawa saat ini. Jeni yang melihat dari jauh ikut tersenyum melihat adiknya tertawa terbahak seperti itu. Ia tidak tahu jika Kevin bisa membuat adiknya tertawa seperti itu. Awalnya ia ragu untuk menyuruh Kevin karena lelaki itu terlalu dingin dan cuek dengan seorang gadis, tapi saat melihat Zia tertawa membuat Jeni membuang fikiran buruk tentang Kevin.     "cantik" gumam Kevin tanpa sadar yang mampu didengar oleh Zia. Baru kali ini Kevin melihat tawa Zia yang begitu canti menurutnya. Gadis mungil yang mendengar gumaman Kevin itupun langsung menghentikan tawanya dan memasang wajah datarnya lagi. Bahkan ia membuang serangga yang tadi ia pegang ketanah.   "ekhem" dehem Zia yang membuat Kevin berhenti menatap Zia dan mengalihkan pandangannya dari Zia kearah lain. Mereka terdiam. Kali ini mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Zia baru sadar jika dia tadi tertawa didepan orang asing bahkan didepan seorang pembunuh seperti Kevin Pranata. Sedangkan Kevin memikirkan tentang tidak singkronnya wajah Zia saat tertawa dengan wajah datarnya saat ini. Sungguh itu sangat berbeda menurut Kevin dan dia tidak tahu kenapa wajah Zia bisa berubah secepat itu.   "a-aku ha-harus pulang" gagap Zia sambil memainkan tali tas slempangnya. Tanpa menunggu jawaban dari Kevin, ia berjalan menjauhi lelaki tampan itu sendirian ditempatnya. Kevin hanya bisa memandang kepergian Zia sampai gadis mungil itu tidak terlihat lagi olehnya. Setelah memastikan Zia pergi dengan selamat, barulah Kevin berjalan menghampiri Jeni yang juga memandang kepergian Zia.   "apa kau sudah puas?" tanya Kevin setelah ia berada didepan tubuh Jeni.   "ya…teramakasih Kevin-ssi" ucap Jeni pelan. Takut jika Kevin akan memarahinya atau mengancamnya seperti yang dilakukan Angga kemarin.   "sekarang kita pulang…aku taku Angga hyung akan menunggu kita" ajak Kevin dengan nada dinginnya seperti biasa. Jeni yang mendengar perkataan Kevin itupun langsung berjalan didepan lelaki tampan itu sambil menundukkan kepalanya. Ia bersyukur bahwa Kevin tidak memarahinya seperti yang Angga lakukan kemarin, tapi ia juga masih merasa takut pada Kevin yang selalu bersifat dingin. Sedangkan Kevin berjalan dibelakang tubuh Jeni sambil memandang punggung gadis itu dengan lekat. Sebenarnya ia ingin bertanya tentang Zia pada Jeni, tapi melihat gadis itu yang sepertinya takut padanya membuat Kevin mengurungkan niatnya untuk bertanya. Mungkin nanti Kevin akan mencari tahu tentang Zia sendiri atau ia bisa bertanya kepada Dindan yang bekerja di rumah Hyunjung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD