Alliana menangis dan mengunci kamarnya, wanita polos itu terus bahkan tidak peduli saat Ichiru memanggilnya beberapa kali dari luar sana. Rasa kecewa menghampirinya, menamparnya begitu keras dan membuatnya kesakitan.
“Alliana, aku mohon.” suara Ichiru terdengar, ketukan pintu masih mengiringi suara pria itu.
Alliana menutup telinganya, wanita itu menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal. Perlahan, ia mengingat masa lalu indahnya di tengah hutan, ia merindukan mansion yang ia tinggali dulu.
“Ayah …,” ujar Alliana di tengah isak tangisnya. Wajah Sousaki memenuhi pelupuk matanya. Kenapa pria yang ia anggap ayah tidak mencegah pernikahan ini? Kenapa pria yang ia kagumi hanya diam dan membuatnya terperangkap.
“Alliana! Buka!” suara Ichiru terdengar gusar di luar sana.
“Jika kau masih keras kepala, Kakak akan mendobrak pintu ini!” lagi, suara pria itu menggema.
Alliana keluar dari balik selimut, ia bangkit dan berjalan menuju pintu. Lagi, tangannya bergetar memegang kunci dan memutarnya.
Seketika pintu itu terbuka, Alliana mundur beberapa langkah dan menunduk takut. Wanita polos itu masih menangis sesegukan dan tidak mengangkat kepalanya. Ia memainkan jarinya, terlihat bimbang namun juga ketakutan.
“Alliana,” ujar Ichiru lembut. Pria itu mengembuskan napasnya pelan. Menatap istri mudanya yang masih menangis tanpa menatap kearah dirinya.
“Kau marah?”
Alliana mengangguk, ia tidak menjawab dengan suaranya.
“Mau bicara denganku?”
Alliana menggeleng.
Ichiru melangkah maju, pria itu memegang tangan Alliana lalu menarik istrinya ke dalam pelukan. Ia mungkin tidak mengerti perasaan wanita, namun, ia tahu Alliana sedang marah dan sakit hati padanya.
“Percayalah, aku akan mencintaimu.” Ichiru berusaha membuat Alliana bicara.
“Apa kau mencintaiku?”
Alliana mengangguk.
“Apa kau kecewa?”
Alliana mengangguk.
“Jika demikian, apa ada yang bisa membuatmu memaafkanku?”
Alliana menggeleng.
Ichiru menghela napasnya pelan.
“Kau ingin pergi ke pusat kota bersamaku?”
Alliana tidak merespon, wanita itu masih menunduk dan itu cukup membuat Ichiru kesal.
“Kita akan membeli banyak buku.”
Akhirnya, Alliana menegakan kepalanya, wanita itu menatap Ichiru dan segera saja Ichiru menghapus air mata Alliana.
“Benarkah?”
“Tentu, tapi, kau harus menerima semua saudaramu.”
Alliana mengubah raut wajahnya lagi. Ia masih belum bisa menerima istri Ichiru yang lainnya.
“Jika kau tidak menurutiku, kau tidak akan mendapatkan s**u itu lagi.”
“Tapi ….”
“Kau bisa menerima mereka?”
Alliana tidak menjawab, wanita lugu itu memilih mendorong Ichiru dan kembali masuk lebih dalam ke kamarnya. Ia duduk di sudut ruangan, mengemut jempol, menangis. ia kecewa dengan sikap dan pilihan Ichiru.
“Kakak berbohong padaku, Kakak tidak mencintaiku!” ujarnya kasar dengan suara serak dan air mata yang luruh.
“Alliana, jika aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan menikahimu.”
“Ayah mengatakan, jika pernikahan hanya ada untuk dua orang, laki-laki dan perempuan. Tidak ada istri pertama atau istri kesekian.”
Ichiru terdiam.
“Ayah juga mengatakan, cinta yang sesungguhnya hanya di antara dua manusia. Tapi, kakak bahkan mempunyai banyak istri!” kecam Alliana.
Melangkah, Ichiru memegang pundak istrinya, “Ayo, kau ingin mengelilingi toko buku? Ada banyak hal yang bisa kau temukan di sana.”
“Tidak mau!” Alliana merah, ia berdiri dan berbaring di kasurnya.
Ichiru hanya terkekeh, ia merasa kembali pada masa remajanya Lagi.
“Ingat ice cream?” tanya Ichiru, “Kau ingin merasakannya lagi?” lanjut pria itu.
“Tidak!”
“Ahh … aku akan mengajak istriku yang lain jika begitu, istri mudaku yang cantik mengabaikanku. Bagaimana aku bisa membuktikan rasa cintaku jika begini?” ichiru berdiri, pria itu terkekeh saat mendengar Alliana mendengkus kesal. Baru saja Alliana ingin berdiri, dengan cepat Ichiru memeluk alliana, pria itu bahkan menggendong Alliana dan berlari keluar dari kamarnya.
“Kakak! Lepaskan!” teriakan Alliana terdengar di seluruh ruangan, namun Ichiru tidak memedulikan teriakan istrinya.
…
Di sebuah toko buku, Alliana berjalan sambil menggandeng tangan Ichiru. Wanita itu tersenyum senang, ia menemukan surga dan itu hal yang menyenangkan.
“Senyummu terlalu manis, Alliana.” Ichiru mengelus pipi istrinya.
Beberapa pengunjung perempuan menatap iri, mereka jelas sangat ingin menggantikan posisi Alliana kali ini. Alliana hanya mengangguk, namun bibirnya tersenyum penuh arti.
“Kakak akan ke kamar kecil, kau bisa memilih banyak buku. Ada beberapa bodyguard yang akan menemanimu,” ujar Ichiru.
“Apa kakak akan pergi lama?”
“Tidak.” Ichiru mengecup lembut kening Alliana, ia Tak peduli jika mereka menjadi pusat perhatian.
Sepeninggalan Ichiru, Alliana memilih beberapa buku. Ia tersenyum senang, dengan beberapa bodyguard yang mengawasinya. Wanita itu berjalan sambil membaca, tidak memperhatikan kedepannya.
Tubuh Alliana menabrak seseorang, langsung saja ia terjatuh dan buku di tangannya berserakan.
“Nona!” dua orang bodyguard yang paling dekat dengan Alliana langsung menolong majikan mereka.
“Maafkan saya, Nona. Ah, ini benar-benar memalukan. Saya tidak sengaja.”
“Sudahlah, dia tidak sengaja.” Alliana tersenyum pada dua bodyguard yang paling dekat dengannya, ia berdiri dan menatap pria di depannya.
“Maafkan saya, Tuan.” Alliana tersenyum ramah.
“Saya juga minta maaf, Nona.” pria itu mengulurkan tangannya, “Cristian.”
“Alliana.” jawab Alliana sambil tersenyum, ia tidak menyambut uluran tangan pria itu. Apalagi saat matanya menatap Ichiru dari pantulan cermin tak jauh dari tempat ia berdiri.
Cristian tersenyum canggung, rasanya tak nyaman, “Ah, yah! Senang berkenalan denganmu, Nona Alliana.”
“Kau mendapatkan teman baru?” tanya Ichiru.
Cristian menatap pria di depannya, ia jelas mengenal pria itu, cukup baik.
“Cristian, ku pikir kau bangsawan yang sangat sibuk.”
“Ah, Ichiru D’Acretia rupanya. Senang bertemu denganmu, dia istri barumu?” tanya Cristian.
“Ya, kami baru menikah.” jawab Ichiru.
Cristian mengangguk, pria itu menatap satu buku di rak samping tubuhnya. Diraihnya lalu memberikannya pada Alliana, “Ini baik untuk dibaca, kau pasti menyukainya.” Pria itu kembali tersenyum, ia masih betah menunggu Alliana meraih buku dari tangannya.
“Ambilah, Alliana. Dia salah satu bangsawan Inggris, sering berkunjung ke mansionku dan tentu dia mengenal Ayah.”
Mendapatkan lampu hijau, Alliana meraih buku yang Cristian berikan padanya, “Terima kasih, Tuan.”
Setelah berbasa-basi, Alliana dan Ichiru berpamitan untuk pergi. Sedangkan Cristian melanjutkan misinya untuk mencari beberapa buku.
“Dia itu, seorang bangsawan?” tanya Alliana pada suaminya.
“Kau tertarik padanya?”
Alliana menggeleng, ia merasa ada yang aneh dengan Cristian saat mereka saling menatap. Ia juga melihat beberapa cincin yang Cristian gunakan, lalu ingatannya berputar pada kejadian beberapa tahun lalu.
“Dia dari keluarga bangsawan mana?” tanya Alliana.
“Ada sesuatu yang menarik perhatianmu?”
Alliana mengangguk, ia perlu menulis surat dan meminta Robert mengirim sesuatu padanya.
“Kak, kita pulang. Aku perlu menulis surat untuk Robert saat ini!”