2. Rencana

1087 Words
Gasendra, suami Minur dan ayah angkat Momochi keluar dari mobilnya sambil menggurutu kesal. Ia melihat Momochi pingsan tepat depan mobilnya, lalu mengambil angsa itu. Lehernya yang panjang terkulai lemah. Gasendra menggoyang-goyangkan tubuh Momochi. "Momochi sadarlah! Kamu ini kenapa? Apa kamu mau bunuh diri?" Gasendra masih terlihat kesal dan membaringkan Momochi di sofa. Ia menyuruh pelayan untuk membawakannya minyak kayu putih. Pelayan itu segera pergi dan tak lama pelayan itu membawakan minyak yang diminta olehnya. Ia mengoleskan minyak itu di dekat hidung angsa itu dan perlahan-lahan Momochi mulai sadar. Pandangannya buram dan lama-lama menjadi jelas. Momochi langsung duduk dan melihat ke sekelilingnya dengan panik. "Apa aku sudah mati? Aku tidak ingin mati dulu. Aku masih ingin hidup." "Tenanglah! Kamu masih hidup." Momochi bernapas lega. "Syukurlah!" Pelayannya yang sejak dari tadi memperhatikan mereka berdua merasa penasaran dengan percakapan mereka, karena ia tidak bisa mengerti bahasa angsa. Pelayan itu pergi. "Kamu ini kenapa? Apa kamu tadi tidak mendengar suara klakson mobilku?" "Maaf. Aku tidak dengar." "Apa ada masalah dengan pendengaranmu? Aku akan membawamu ke dokter hewan." "Dokter?" Wajah Momochi langsung pucat dan muncul keringat dingin. Ia masih ingat ketika dibawa ke dokter untuk divaksin. Pantatnya ditusuk-tusuk dengan alat pengukur suhu dan jarum suntik yang sangat besar. "Aku baik-baik saja dan pendengaranku masih bagus." "Lalu tadi kenapa kamu tidak mendengar bunyi klakson mobil untung saja aku mengerem tepat waktu kalau tidak kamu sudah terlindas dan tubuhmu rata dengan tanah." Momochi kembali pucat dan ketakutan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan tubuhnya jadi gepeng. "Tadi aku bertengkar dengan Momocha." "Pasti kamu ketahuan sedang menggoda angsa betina." "Itu benar. Aku hanya menggoda saja tidak selingkuh." "Apa Momocha bilang akan menceraikanmu?" "Iya. Aku tidak mau bercerai." Momochi menatap Gasendra dengan tatapan memohon. "Bantu aku!" Gasendra menghela napas panjang. "Kamu ini selalu saja buat masalah dengan Momocha. Seharusnya kamu bisa menjaga diri." "Aku tahu. Aku sudah tobat tidak akan jadi angsa playboy lagi." Momochi nampak muram dan sedih. Gasendra menjadi kasihan. "Baiklah. Aku akan membantumu." Mata Momochi berbinar-binar bahagia. "Terima kasih, Cecep Gasendra. I love You." Momochi memeluk Gasendra dan pria itu membisikkan sesuatu tentang rencananya supaya Momocha mau memaafkannya. "Apa itu akan berhasil?" "Kemungkinan besar akan berhasil." "Baiklah. Aku ikut rencana Cecep Gasendra saja." Dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan cukup berisik. Ternyata langkah kaki itu milik Minur. "Ayang Gasendra sudah pulang." Minur berlari ke arah Gasendra dan hendak memeluknya, tapi Gasendra berhasil menghindar dan Minur nyungsep di lantai berkarpet. Minur menangis dengan keras. Wajahnya sudah basah oleh air mata disertai oleh ingus yang keluar. Momochi tertawa tertahan saat melihat semua itu. "Ayang Gasendra jahat kenapa tidak mau aku peluk?" "Karena aku terkejut kamu tiba-tiba datang. Sekarang kamu boleh memelukku." Minur langsung berdiri dan memeluk suaminya. Kepalanya digesek-gesekan di d**a suaminya. "Ayang Gasendra. Kyaaaaa." Wajah Minur menjadi semerah tomat dan dari kepalanya keluar asap, karena teringat malam romantis mereka berdua kemarin malam. Gasendra melepaskan pelukannya dan membawa Momochi ke kamarnya. "Kamu harus pura-pura pingsan, karena tertabrak mobilku tadi." "Momochi tertabrak,"pekik Minur. "Hampir tertabrak,"ralat Gasendra. Gasendra memberitahu Minur apa yang terjadi pada Momochi. "Baiklah aku mengerti. Aku akan pura-pura sedih. Aku pandai berakting,"kata Minur. Momochi berbaring di tengah tempat tidur diantara boneka Squidward dan Doraemon milik Minur. "Lehermu harus terkulai lemas,"kata Gasendra. "Baiklah." "Minur beritahu Momocha tentang tertabraknya Momochi." "Siap laksanakan komandan ayang Gasendra!" Minur keluar kamar mencari Momocha sambil bernyanyi burung kakak tua. Ia menemukan Momocha berada di kandangnya sedang tidur. "Momocha, bangun!" "Ibu Minur,"serunya terkejut. "Kamu harus ikut denganku ke kamar." "Ada apa?" "Momochi tertabrak mobil dan dia sedang sekarat." Momocha sangat terkejut dan shock. Ia segera berlari menuju kamar Minur. "Momochi, aku datang." Sesampainya di kamar, Momocha terbang ke atas tempat tidur dan melihat Momochi yamg terbaring dalam keadaan lemah. "Momochi, jangan tinggalkan aku dan anak-anak! Aku masih membutuhkanmu. Bangunlah! Aku sudah memaafkanmu." Minur menangis sesegukan. "Bangunlah! Aku mencintaimu." "Kamu memaafkanku dan mencintaiku?"tanya Momochi. "Iya." Momochi langsung bangun dan memeluk Momocha. "Aku juga mencintaimu." Momocha akhirnya sadar sudah dibohongi. "Kalian sudah berbohong padaku." "Kami tidak sepenuhnya bohong. Aku tadi hampir menabrak Momochi dan tadi dia pingsan." "Itu benar. Cecep Gasendra mengatakan yang sebenarnya. Tadi aku hampir mati." "Kalian jangan bertengkar lagi,"kata Minur. "Aku tidak ingin kalian cerai dan pisah rumah." Momochi memeluk Momocha dengan mesra dan mengecup pipinya. "Baiklah. Kali ini aku memaafkanmu." "Horeeee. Terima kasih Momocha, Sayang " "Tapi ingat kamu harus menepati janjimu tidak lagi menggoda para angsa betina." "Aku janji." Momochi mengecup pipi Momocha berkali-kali. "Dasar angsa,"gumam Gasendra. Gasendra membuka pakaiannya dan Momochi langsung menutup mata Momocha. "Cecep Gasendra jangan buka baju sembarangan. Aku tidak mau istriku melihat tubuhmu yang seksi dan kekar itu." Momochi menjadi terpesona melihat tubuh Gasendra yang bagus. Ia ingin merasakan punya tubuh seperti itu. Pandangan matanya penuh damba. Tiba-tiba di pikirannya terlintas ingin menjadi manusia. Momocha juga terpesona melihat tubuh seksi Gasendra. Kedua sayap Momocha terlepas dari mata istrinya. Momochi yang melihatnya merasa cemburu. Gasendra masuk ke kamar mandi. Momochi cepat-cepat mengikutinya. "Jangan tutup pintunya!" Momochi menahan pintu dengan kakinya yang berselaput. Gasendra membukanya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" "Aku mau ikut mandi." Momochi masuk ke dalam bath tub dan menunggu Gasendra membuka kran air. Gasendra membuka kran dan air hangat mengalir dengan deras. Momochi sangat gembira ketika busa sabun memenuhi bath tub. Gasendra masuk dan mulai menggosok badannya. "Cecep Gasendra, tolong gosok badanku!" "Gosok saja sendiri." "Cecep Gasendra pelit." "Kamu ini. Kemarikan sikatmu!" Gasendra menggosok punggung Momochi. Angsa itu merasa keenakan dan nyaman. Ia pun tertidur. Ketika bangun, di kamar mandi sudah tidak ada siapa pun. Momochi segera menghilangkan sabun yang menempel di tubuhnya dengan mengibas-ngibaskan bulunya dan berlari keluar kamar mandi yang pintunya terbuka menuju kamar yang terlihat sepi. "Cecep Gasendra, kenapa kamu meninggalkanku di kamar mandi. Teganya dirimu." Momochi keluar kamar dan hari sudah mulai gelap. Sudah waktunya untuk makan malam. Ia pergi ke ruang makan dan perkiraannya benar. Mereka sedang makan malam. "Kamu sudah bangun?" "Untung saja aku tidak tenggelam." "Kamu tidak mungkin tenggelam." "Bisa saja aku tenggelam." Perut Momochi berbunyi dan ia sudah sangat lapar. Ia melihat Momocha sedang makan di atas meja makan. "Angkat aku ke atas." Di atas meja, Momochi terkejut melihat hidangan utama makan malam, yaitu angsa bebek panggang. "Ya ampun. Nasibmu kurang beruntung. Semoga kamu tenang di alam sana. Aamiin." "Kamu mau makan apa?"tanya Minur. "Apa saja asal jangan angsa panggang itu. Aku tidak ingin menjadi angsa kanibal." Minur memberikannya salad sayuran dan Momochi makan dengan lahap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD