Bab 1 - Masalah Hutang Piutang

1611 Words
     Suara ketukan pintu dari luar rumah terdengar begitu keras. Seseorang yang berada di luar sana seperti sengaja melakukannya untuk membuat penghuni rumah tak berlama-lama untuk membukakan. "Pak Hasan!" Teriak seseorang itu dengan suaranya yang begitu keras dan berat.    Aku yang baru saja selesai membereskan kamar terperanjat mendengar ketukan itu. Bukan ketukan, tapi lebih tepatnya gedoran. Aku segera menemui ibu yang juga heran. Siapa malam-malam seperti ini bertamu?    Bapak yang baru saja menikmati secangkir kopinya bergegas menuju pintu, seolah mengenali siapa yang datang. "Siapa, Pak?" Ibu bertanya dengan hati-hati. "Itu seperti suara Juragan Asep, Bu." Jawab Bapak menenangkan.    Aku hanya diam memperhatikan, dan seketika darah dalam tubuh mengalir deras kala sosok tinggi besar itu masuk. Sosok--Juragan Asep yang begitu di takuti warga Desa. Aku tak begitu mengenali Juragan Asep, yang aku tau hanya sebatas itu.    Juragan Asep datang bersama dua orang, dua orang itu adalah pengawalnya. Pengawal yang selalu menemani kemana pun. Dua pengawal yang sama-sama mempunyai tubuh tinggi besar, berpakaian serba hitam dan kepala botak itu menambah kesan sangar dari keduanya.    Untuk apa ia datang kemari? Untuk membahas pekerjaan? Secara Bapak adalah salah satu pekerjanya. "Silahkan duduk, Juragan." Bapak mempersilahkan Juragan Asep duduk di kursi rotan yang sudah tua, hanya itulah tempat duduk satu-satunya yang terdapat di rumah kami yang kecil ini. Rumah gubuk yang masih beralaskan semen tanpa keramik, dan dinding yang masih di tutup dengan bahan papan.    Kursi rotan bewarna cokelat tua, sebagian juga mulai rapuh itu lantas di duduki juragan Asep. Pengawalnya tetap berdiri tegak tak jauh dari dirinya.    Aku masih berdiri, menyimak percakapan Bapak dan Juragan Asep dari balik tirai pintu kamar yang sudah mulai lusuh warnanya. Aku di sini karena ibu yang melarang ku berada di tengah mereka, karena menurut ibu, perasaanya tak enak. Lagi pula, ini kali pertama Juragan Asep datang ke rumah kami. Tentulah mempunyai maksud dan tujuan tertentu. "Kau tentu penasaran kenapa aku datang kemari, Hasan?" Juragan Asep yang memulai obrolan, dengan gaya bicaranya yang khas. Sinis dan begitu merendahkan lawan bicaranya. Bapak hanya tertunduk, tak berani menatap mata orang yang di segani. "Iya, Juragan. Ada apa gerangan?" "Aku ke sini untuk menagih hutang-hutangmu. Aku mau di lunasi malam ini juga."   Ucapan Juragan Asep itu membuat Bapak dan Ibu kaget. Keduanya saling bertatapan, raut wajah mereka berubah menjadi panik.   Aku yang masih mengintip dari balik tirai juga merasakan hal demikian. Rasa kasihan ini memberontak di dalam d**a melihat Bapak dan Ibu yang harus menanggung banyak beban. "Kenapa tiba-tiba, Juragan? Bukankah sesuai kesepakatan ... hutang itu saya bayar setiap bulan pada saat saya menerima gaji?" Ucap Bapak. Aku tau Bapak saat ini kebingungan, begitu juga ibu di sebelahnya. "Aku tidak mau tau, Hasan. Aku sudah tidak bisa memberimu kemudahan. Lagi pula, gaji mu bertahun-tahun juga tidak akan mampu melunasi hutang-hutangmu. Bahkan rumahmu ini juga tak akan cukup untuk membayar hutangmu." Bapak bungkam. Ingin sekali rasanya aku menghampiri Juragan Asep dan menonjok wajah sombongnya itu, yang sudah berkata kasar pada Bapak. Tapi, aku tak ingin memperkeruh suasana. Aku hanya diam bertahan. "Begini saja, bagaimana kalau Dini aku nikahi dan hutangmu semuanya aku anggap lunas?" Tanpa keraguan Juragan Asep mengatakan hal demikian.    Mata Bapak membulat, ibu yang berada di sebelah Bapak memegang baju Bapak sangat erat. Ibu mulai khawatir. Aku hanya bisa tertegun mendengar ucapan Juragan Asep yang sama sekali bukan ketidak-sengajaan. Aku sangat yakin, itu adalah tujuan utama dia datang ke rumah ini. Kurang ajar sekali lelaki tua itu!   Segera aku menyibak tirai yang sedari tadi menjadi tempat persembunyian ku. Darahku seakan naik ke ubun-ubun. Amarah memuncak tak tertahankan. "Aku tidak sudi menjadi istrimu!" Aku tak perduli dengan laki-laki tua bernama Asep ini. Takut ku seakan musnah saat itu juga. Yang ada di benakku ingin mencaci maki si tua bandot yang tak ingat umur ini. Padahal dia pun terkenal sudah mempunyai banyak istri. Lelaki tak tau malu!    Bapak dan Ibu yang kaget dengan kedatanganku segera menenangkan. Juragan Asep yang sedari tadi duduk kini bangkit. Kedua pengawalnya dengan sigap memegangi tubuh Bapak dan Ibu.    Aku merasa sangat jijik, kini lelaki tua mata keranjang ini malah tanpa rasa malu memegang tanganku. "Kamu cantik," ujarnya yang sama sekali tak membuatku merasa terpuji.    Segera mungkin pegangan itu ku tepis, "Benar-benar tidak sudi jika harus bersentuhan dengan laki-laki hidung belang sepertimu!"     Terasa begitu tiba-tiba, tamparan mendarat di wajahku. Rasanya sangat sakit. Aku terjerembab jatuh ke lantai. Di bagian sudut bibirku terasa perih, aku tau darah sedang mengalir di sana.    Bapak dan Ibu semakin memberontak, tapi kedua pengawal Juragan Asep tak melepaskan mereka.  "Jangan sakiti anak kami, Juragan!" Pekik Ibu mengiba. "Iya Juragan, anak kami tak tau apa-apa. Jangan sakiti dia."    Semakin sesak di dalam d**a, memperhatikan  Bapak dan Ibu yang bersimpuh di kaki Juragan arogan itu demi menyelamatkanku dari siksaan.    Juragan Asep masih terlihat emosi karena perkataan yang aku ucapkan tadi. Matanya yang menatapku terlihat merah karena amarah. Cengkraman tangannya terasa sakit di kedua sisi pipiku. "Anak kecil sudah berani melawanku! Orang miskin banyak tingkah! Seharusnya kau bersyukur mau ku nikahi!" Ucap Juragan Asep seraya membuang wajahku. Di matanya kami ini hanyalah sampah yang sama sekali tak berarti. "Aku tunggu keputusan kalian besok! Menikah, atau harus bayar!"   Juragan Asep melangkah menuju pintu, tak lama di susul oleh pengawalnya. Mereka meninggalkan rumah kami tanpa rasa bersalah sedikitpun.   Yang di tinggalkan hanyalah sebuah pilihan, yang membuat ku tak tau harus memilih yang mana. Ibarat buah simalakama. ***** "Bu, apa aku harus menikahi Juragan Asep?" Pertanyaan yang membuat Ibu menghentikan aktivitasnya mengompres pipiku. "Tidak perlu, Nak. Kita harus mencari jalan lain." "Lalu bagaimana dengan hutangnya?" "Tidak usah kamu pikirkan, biar itu menjadi urusan Ibu sama Bapak. Kamu istirahat saja." Ucapan Ibu yang berusaha menenangkan ku, tapi aku tau ... dibalik sikap tenangnya itu ibu sendiri kebingungan memikirkan masalah yang sedang keluarga kami hadapi. Ibu hanya tak ingin aku terbebani dengan pikiran. Begitulah Ibu.   Ibu keluar dari kamarku, menemui Bapak yang sedang duduk di ruang depan. Sayup-sayup masih terdengar percakapan mereka dari kamar ini. Bapak dan Ibu membahas masalah pernikahan dan hutang.    Aku hanya bisa menangis, dalam hati terasa perih. Aku merasa sangat tidak berguna. Tidak bisa menolong Bapak dan Ibu yang lagi kesusahan. Apa aku harus menikah dengan Juragan Asep? Biar Bapak dan Ibu tidak lagi kesusahan memikirkan hutang mereka yang harus dibayar esok.    Tapi, membayangkannya saja aku sudah ngeri. bagaimana seandainya kami menikah? Aku yang harus melayani Tuan Asep di kamar. Secara, tubuh Tuan Asep sangatlah besar. Kalau di ibaratkan Tuan Asep tak jauh beda dengan gentong! Aku bisa tergencet oleh tubuh besarnya itu. *****   Pagi-pagi sekali pintu rumah kami kembali di gedor dengan suara yang sama seperti tadi malam. Juragan Asep lagi. Benar-benar sudah tak punya otak lelaki bandot itu, dia benar-benar ingin mendesak kami supaya tak mempunyai pilihan lain selain meng-iyakan pernikahan itu.   Lagi-lagi Bapak dan ibu melarang ku keluar, tapi kali ini aku tak bisa menuruti. Aku sudah bertekad untuk menolak tawaran Juragan Asep. Walau berkali-kali Bapak dan Ibu mencegahku untuk membukakan pintu, tapi aku tetap saja melangkah ke sana. "Ibu dan Bapak tunggu saja di dalam. Biarkan aku bicara pada Juragan Asep." Aku melarang Bapak dan Ibu untuk keluar, karena aku takut mereka akan di pukuli lelaki itu lagi. Aku tau Bapak dan Ibu belum menemukan cara pemecahan masalah yang sedang kami hadapi saat ini, walaupun tadi malam Bapak dan Ibu nyaris tak tidur karena memikirkan. Tapi tetap saja, mereka tak menemukan jalan. *   "Pagi, Sayang." Sapa Juragan Asep dengan tatapan yang menggelikan saat aku berada tepat di depannya.    Laki-laki itu semakin mendekat, dengan tangan kanan bertumpu di sisi pintu rumah, dan tangan satunya lagi tersembunyi di dalam kantong celananya. Dia menatap lekat, tatapan yang menjijikan. "Bagaimana?" "Sama seperti jawabanku tadi malam, aku tidak sudi menikahi Juragan." Desisku dengan tatapan tajam.    Pak Asep terdiam menatap, amarahnya mulai memuncak. Kepalan tangannya yang menimbulkan urat-urat melayang ke arah pintu hingga membuat pintu itu bolong.   Aku hanya diam, walau dalam hati rasa takut ini tak bisa di bohongi. Juragan Asep bertepuk tangan. Entah apa maksudnya. "Hebat! Hebat sekali!" Teriaknya, sangat membingungkan. "Oke, berarti kau siap membayar hutang itu sekarang juga!"   Juragan Asep membalas tatapanku, membuat tubuhku seketika bergetar. Tapi aku berusaha tetap tenang.   Tiba-tiba Bapak dan Ibu menerobos keluar rumah, dan langsung bersimpuh di kaki Juragan Asep. Pemandangan yang begitu membuat sesak. Mereka bersimpuh, memohon, hingga menciumi kaki lelaki yang sebenarnya tak pantas di perlakukan demikian.   Aku tak sanggup jika harus berlama-lama melihat Bapak dan Ibu mengiba pada Juragan Asep. Apalagi Bapak yang mulai di pukuli pengawalnya. Sedangkan para warga mulai berdatangan, penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi mereka semua hanya bungkam, tak ada satupun yang berani menolong karena takut pada Juragan Asep dan para pengawalnya yang semakin banyak jumlahnya. "Hentikan!" Kali ini aku yang bersimpuh di kaki Juragan Asep. Aku tak mempunyai pilihan lain. Aku tau, aku tak sebanding dengan tubuhnya yang besar di tambah lagi para pengawalnya. Tuhan, aku benar-benar tidak tau sekarang harus bagaimana. "Berikan aku waktu dua bulan untuk melunasi semua hutang kami!" Entah dapat bisikin dari mana, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Air mata mulai berjatuhan membasahi pipi.    Juragan Asep masih hening, para warga semakin ramai berdatangan. Mereka saling berbisik, merasa kasihan atau entahlah. "Aku sudah tidak berminat menjadikanmu istri! perempuan suka berontak sepertimu ini akan menyusahkan saja nantinya!" Ucap Juragan Asep, yang seolah ingin mempermalukan ku. "Baiklah, aku beri waktu dua bulan dan kau harus segera melunasi semua hutang-hutang keluargamu." Sambungnya, kemudian berlalu meninggalkan ku dan juga Bapak dan Ibu yang sudah tidak berdaya. Warga perlahan mulai bubar, melihat kejadian ini mereka bertambah takut saja pada Juragan Asep beserta para Pengawalnya yang luar biasa tak punya hati nurani. Aku meraih Bapak dan Ibu. Memeluk mereka erat seraya air mata ini tak berhenti mengalir sangat deras. Tangis kami pecah, saling menguatkan satu sama lain.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD