Ikatan yang Tak Pernah ia pilih

1632 Words
Mobil mewah itu berhenti tepat di lobi hotel bintang lima yang megah. Lampu lobi yang terang benderang justru membuat wajah Ziva Alessa Wardhani semakin pucat. "Turun," perintah Damar singkat dan dingin. Ziva menatap pria di sampingnya dengan perasaan campur aduk. "Om..." "Turun sekarang. Langsung ke resepsionis, ambil kunci atas nama saya. Saya mau ke apotek sebentar mencari pengaman," ucap Damar tanpa menoleh, suaranya tidak menerima bantahan. Ziva pun turun dengan langkah gemetar. Kakinya terasa lemas saat melangkah masuk ke dalam hotel mewah itu. Pikirannya kalut membayangkan nasibnya setelah ini demi uang satu milyar. Namun, begitu pintu otomatis lobi tertutup dan Ziva menghilang di balik keramaian hotel, Damar tidak benar-benar pergi ke apotek. Damar mengambil ponselnya, lalu menghubungi sebuah nomor yang sudah ia simpan sejak lama. "Halo, Pak Rizal? Saya sudah di jalan. Tolong pastikan semuanya sudah siap di masjid sekarang juga." Damar memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah masjid yang terletak di dekat perumahan ayah Ziva. Sesampainya di sana, suasana tampak sunyi namun khidmat. Di dalam masjid, sudah berkumpul seorang penghulu dan dua orang saksi. Rizal Wardhani, ayah Ziva, sudah duduk di atas karpet masjid dengan wajah tegang namun penuh ketegasan. Ia telah diberitahu oleh Damar tentang kejadian di klub malam itu. Sebagai ayah yang keras dan sangat menjaga martabat, Rizal tidak ingin putri satu-satunya menjadi bahan gunjingan atau rusak karena pergaulan bebas. Damar pun duduk berhadapan dengan Rizal. Mereka saling berhadapan sebagai dua pria dewasa yang hendak membuat sebuah keputusan besar. Tanpa kehadiran Ziva, proses itu dimulai. "Saudara Damar Adhikara bin Surya Adhikara," ucap penghulu sambil menuntun tangan Rizal untuk menjabat tangan Damar. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Ziva Alessa Wardhani binti Rizal Wardhani, dengan mas kawin uang tunai sebesar satu milyar rupiah, tunai." Dengan satu tarikan napas yang tenang dan suara bariton yang mantap, Damar menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Ziva Alessa Wardhani binti Rizal Wardhani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Bagaimana saksi? Sah?" "Sah!" seru para saksi serempak. Doa dipanjatkan, dan secara resmi di mata agama, Ziva Alessa Wardhani telah menjadi istri sah dari Damar Adhikara. Satu milyar yang dikirimkan Damar ke rekening Ziva tadi bukan sekadar bayaran untuk "tubuh", melainkan mahar pernikahan yang mengikat mereka selamanya. Setelah prosesi selesai, Damar menyalami mertuanya. "Terima kasih, Pak. Saya akan membawa Ziva kembali ke hotel, dan besok saya akan membawanya ke rumah saya." Rizal mengangguk berat. "Tolong jaga dia, Damar. Didik dia dengan caramu." Damar kemudian kembali melajukan mobilnya menuju hotel tempat Ziva menunggunya dengan rasa takut. Ia menyimpan surat keterangan nikah siri itu di dalam jasnya, bersiap menemui istrinya yang masih berusia 17 tahun itu untuk menagih "hak" yang kini sudah menjadi halal baginya. Damar melajukan mobilnya balik ke hotel. Di dalam kamar, Ziva duduk di sofa sambil gigit jari, bener-bener ketakutan. Pikirannya kacau banget. Gila, malam ini gue bener-bener bakal lepas segel gara-gara taruhan konyol, pikir Ziva dalam hati. Nggak lama, pintu kamar bunyi. Cklek. Damar masuk. Ziva langsung loncat dari sofa, kaget setengah mati. Damar cuma senyum tipis, tipikal cowok cool, terus jalan santai ngedeketin Ziva. "Om..." panggil Ziva, suaranya gemeteran. "Kenapa? Lo nggak siap?" tanya Damar santai, matanya ngelihatin Ziva dari atas sampai bawah. Ziva nelan ludah susah payah. "Om beneran mau... anu, mau tubuh gue?" Damar angkat alis, terus ketawa ngeremehin. "Hah? Kapan gue pernah bohong, Ziv? Kan tadi lo sendiri yang jual mahal, dan gue udah bayar lunas satu milyar. Fair, kan?" Ziva cuma bisa diem, mukanya udah pucat banget kayak kertas. "Gue mau mandi dulu biar seger," kata Damar sambil buka jam tangan mahalnya dan ditaruh di meja. "Lo kalau laper pesen makanan aja, terserah mau apa. Pake fasilitas hotel ini, jangan kayak orang susah." Damar jalan ngelewatin Ziva gitu aja menuju kamar mandi. Sebelum masuk, dia noleh sebentar. "Oiya, jangan coba-coba kabur. Lo tahu kan koneksi gue sampe mana? Kabur dikit, hidup lo makin ribet." Blam. Pintu kamar mandi ketutup. Ziva lemes, dia ambruk lagi ke sofa. "Mampus gue. Cowok kaku kayak gitu kalau udah m***m ternyata serem banget," gumam Ziva sambil megangin kepalanya yang makin pening. Dia sama sekali nggak tahu kalau di luar sana, statusnya udah berubah jadi istri sah dokter itu. Setelah lima belas menit yang terasa kayak berjam-jam buat Ziva, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Damar keluar dengan penampilan yang lebih santai, cuma pakai kaus polo dan celana kain, tapi tetep kelihatan berwibawa. Rambutnya masih agak basah, bikin auranya makin kelihatan dominan. Ziva yang dari tadi sudah gemetaran cuma bisa diem mematung di sofa. Dia nggak berani natap mata Damar sama sekali. Damar kemudian jalan dengan santai dan duduk di tepi ranjang yang empuk itu. "Ziv, sini," panggil Damar, suaranya rendah tapi tegas. Ziva tersentak, dia ngeremes ujung dress-nya kuat-kuat. "Eh... Om mau... mau sekarang?" tanya Ziva dengan nada suara yang hampir ilang. Damar angkat alis, dia ngelihatin Ziva yang masih duduk di pojok sofa kayak orang mau dieksekusi. "Kenapa? Hmm... lo belum siap atau gimana?" tanya Damar balik. Karena Ziva nggak gerak sama sekali dan malah makin nunduk, akhirnya Damar yang berdiri. Dia melangkah pelan, setiap langkahnya kedengeran jelas di kuping Ziva. Damar akhirnya sampai di depan Ziva dan langsung duduk di sampingnya, bikin sofa itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Ziva otomatis makin mepet ke sandaran sofa, berusaha jaga jarak. Aroma sabun dan parfum maskulin Damar bener-bener memenuhi indra penciumannya, bikin jantung Ziva makin nggak karuan. "Kok malah makin jauh? Tadi di klub berani banget nyosor, sekarang kenapa jadi ciut begini?" sindir Damar santai sambil menatap profil samping wajah Ziva yang cantik tapi pucat. Ziva gigit bibir bawahnya. "Tadi kan... tadi itu cuma taruhan, Om. Gue nggak nyangka bakal jadi begini." Damar senyum miring, dia sedikit condongin badannya ke arah Ziva. "Dunia nggak sesimpel taruhan temen-temen lo itu, Ziva. Sekarang, lo udah dapet satu milyarnya, kan? Jadi lo harus tanggung jawab sama apa yang udah lo mulai." Damar merogoh tas kerjanya, lalu ngeluarin selembar kertas yang masih kelihatan baru banget. Dia naruh kertas itu di depan Ziva dengan santai. "Nih, baca," kata Damar singkat. Ziva refleks ngambil kertas itu. Pas matanya baca baris demi baris, dia langsung shock berat. Rasanya kayak disambar petir di tengah malem. "Demi apa?! Bokap beneran nikahin gue sama Om?!" seru Ziva dengan nada nggak percaya. Damar cuma senyum miring, kelihatan puas banget. "Yoi, Ziv. Bokap lo sendiri yang minta. Gue mah cuma ngikutin kemauan mertua doang," sahut Damar enteng. Ziva langsung emosi, mukanya merah padam. "Nggak mungkin! Gue mau telepon Bokap sekarang! Sumpah ya, tega banget sih Bokap nikahin gue sama om-om tua kayak Om!" Mendengar kata "om-om tua", Damar langsung melotot. Rahangnya mengeras. Dia yang biasanya disegani di rumah sakit, sekarang malah dikatain "tua" sama bocah Ingusan yang baru aja jadi istrinya. "Barusan lo bilang apa? Om-om tua?" Damar nanya balik dengan nada suara yang rendah tapi nusuk. Dia sengaja majuin badannya, bikin Ziva makin kepojok di sofa. "Iya! Om-om tua! Lagian Om juga ngapain sih mau-mauan aja nikah sama anak masih kuliah?!" tantang Ziva, meskipun sebenernya dia gemeteran liat muka Damar yang mulai berubah galak. Damar narik napas panjang, berusaha nahan diri biar nggak makin emosi. "Denger ya, bocah. Lo mending jaga mulut lo. Om-om tua yang lo maksud ini sekarang suami sah lo. Mau lo nangis darah sekalipun, di kertas itu nama gue udah jadi laki lo. Paham?" Ziva cuma bisa melongo, dia nggak nyangka bakal kejebak dalam situasi segila ini. Ziva menyambar ponselnya dengan tangan gemetar. Dia benar-benar nggak habis pikir kenapa ayahnya se-nekad itu. Dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, dia langsung mendial nomor ayahnya. Begitu panggilan diangkat, Ziva langsung tumpah ruah. "Halo, Yah? Ayah bener-bener ya! Kok tega sih nikahin Ziva sama Om Damar tanpa bilang-bilang? Maksud Ayah apa coba? Ziva masih kuliah, Yah! Masa depannya gimana? Kok Ziva kayak dijual gini sih?" cerocos Ziva sambil terisak. Di seberang telepon, suara Rizal Wardhani terdengar berat dan penuh sesak. "Ziva... dengerin Ayah dulu, Nak. Ayah minta maaf." "Minta maaf buat apa kalau Ayah udah hancurin hidup Ziva? Kenapa harus Om Damar yang udah tua gitu sih, Yah?" "Ziva," potong Rizal dengan nada lirih. "Ayah nggak punya pilihan. Kamu inget kan waktu Ibu sakit keras kemarin? Biaya rumah sakit itu ratusan juta, Ziv. Ayah... Ayah sebenernya pakai dana rumah sakit tempat Dokter Damar kerja. Ayah kalap waktu itu, yang penting Ibu bisa selamat. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Ibu tetep pergi, dan Ayah nggak bisa balikin uang itu." Ziva terdiam seketika. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan. "Dokter Damar tahu semuanya," lanjut Rizal. "Dia yang nutupin kasus itu biar Ayah nggak dipenjara. Dia minta kamu jadi istrinya karena dia bilang cuma dia yang bisa jagain kamu kalau Ayah udah nggak ada. Ayah ngerasa berhutang nyawa sama dia, Nak." Mendengar itu, pertahanan Ziva runtuh. Dia teringat wajah ibunya yang pucat di hari-hari terakhirnya. Bayangan ibunya yang tersenyum lemah sambil membelai rambutnya membuat hati Ziva perih. Dia nggak tahu harus marah ke siapa lagi. "Jadi... karena itu?" bisik Ziva lemas. "Kenapa Ayah nggak pernah cerita?" "Ayah nggak mau kamu kepikiran, Ziv. Ayah cuma mau yang terbaik buat kamu. Tolong, maafin Ayah ya, Nak," ucap Rizal dengan suara serak sebelum akhirnya menutup telepon. Ziva menurunkan ponselnya dari telinga. Dia terduduk lemas di lantai, menangis tanpa suara. Dia merasa terjebak dalam rasa bakti dan kenyataan pahit. Damar, yang sedari tadi cuma menyimak dari ranjang, akhirnya berdiri. Dia melangkah pelan, mendekati istrinya yang sedang hancur itu. "Gimana? Udah puas marahnya?" tanya Damar dengan nada yang sedikit lebih lembut, tapi tetep tegas. Ziva nggak jawab. Dia cuma nunduk, bahunya naik turun karena tangis yang nggak kunjung berhenti. "Ziv, liat gue," perintah Damar. Dia berjongkok di depan Ziva, lalu mengangkat dagu gadis itu biar menatapnya. "Gue nggak sejahat yang lo pikir. Sekarang, hapus air mata lo. Satu milyar itu udah lunasin hutang bokap lo, sisanya buat jaminan hidup lo ke depan. Jadi, berhenti ngerasa kalau lo itu korban."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD