Melihat Ziva yang makin ciut, Damar malah makin gemas. Dia ngerasa seru bisa ngerjain istrinya yang gayanya selangit ini. Dengan sekali sentakan, Damar narik kaki Ziva sampai gadis itu terlentang. Dalam sekejap, Damar udah berada di atas tubuh Ziva, ngunci pergerakannya.
"Om, Ziva mohon... jangan lakuin itu. Om kan udah janji nggak bakal ada sentuhan fisik kalau Ziva nggak mau! Inget perjanjian kita, Om!" ucap Ziva berusaha ngingetin soal kesepakatan mereka.
Damar nggak peduli. Dia malah mulai menciumi leher Ziva, bikin bulu kuduk gadis itu merinding. "Perjanjian bisa gue batalin sepihak kalau lo-nya aja nggak ada sopan-sopannya sama suami," bisik Damar. Tangannya mulai meremas p******a Ziva dengan lembut tapi tegas, bikin napas Ziva seketika tercekat.
"Om... Damar... please..." desah Ziva, antara takut dan ngerasain sensasi aneh yang baru pertama kali dia rasain seumur hidup.
"Gue nggak bakal berhenti sampai lo berhenti manggil gue 'Om'. Gue suami lo, Ziv, bukan tukang ojek langganan lo," ancam Damar. Dia makin gencar nyiumin area d**a Ziva, sengaja ninggalin tanda merah di sana sebagai tanda kepemilikan.
Napas Ziva makin nggak beraturan, jantungnya kayak mau copot. "Iya... iya! Mas Damar! Ziva minta maaf, ampun Mas! Jangan diterusin!" ucap Ziva akhirnya menyerah, suaranya parau.
Damar langsung berhenti. Dia mendongak, menatap wajah Ziva yang udah basah sama air mata. Melihat air mata itu jatuh, hati Damar yang tadinya keras langsung melunak. Dia tersenyum tipis, lalu berbisik tepat di telinga Ziva.
"Lo bener-bener bikin gue candu, Ziv. Tapi tenang aja, gue bukan tipe cowok yang hobi ingkar janji. Gue nggak bakal lanjut lebih jauh kalau emang lo nggak enjoy," ucap Damar lembut sambil ngusap air mata di pipi Ziva.
Damar bangkit dari atas tubuh Ziva, beralih duduk di pinggir ranjang sambil ngerapiin bajunya.
"Sekarang rapiin baju lo. Mahasiswi kok cengeng, malu tuh sama jaket almamater," ledek Damar, berusaha cairin suasana yang tadi sempet tegang banget.
Ziva yang masih emosi campur malu langsung nyambar bantal di sampingnya dan dilempar sekuat tenaga ke arah wajah Damar. "Dasar m***m lo, Mas!"
Damar dengan sigap nangkis bantal itu sambil ketawa kecil. Dia sengaja masang muka horor lagi buat nakut-nakutin Ziva. "Oh, jadi lo masih mau lanjut ronde kedua? Oke, gas," kata Damar sambil gerak mau naik lagi ke kasur.
Ziva langsung ciut, dia nutupin badannya pake bantal lain. "Eh, eh! Iya Mas, ampun! Maaf, Mas Damar yang paling ganteng sedunia! Jangan deket-deket lagi!" seru Ziva panik.
Damar akhirnya beneran turun dari kasur. Dia ngerapiin kemeja dan rambutnya yang sedikit berantakan, terus natap Ziva dengan gaya bos besarnya lagi. "Cepetan ganti baju lo. Gue tunggu di ruang kerja sekarang. Jangan pake lama," perintah Damar tegas tapi ada nada ngeledek.
Ziva cuma diem, tapi matanya natap Damar tajem banget. Pas Damar udah balik badan, Ziva mendengus kesal. "Rese banget sih jadi orang, untung ganteng," gumamnya pelan.
Ziva turun dari ranjang, nyambar paper bag berisi baju baru yang tadi disiapin Damar, terus langsung lari masuk ke kamar mandi sambil banting pintu pelan.
Di luar, Damar cuma bisa geleng-geleng kepala. Dia ketawa puas denger gerutu istrinya itu. Dia melangkah keluar dari kamar istirahatnya, balik ke meja kebesaran direkturnya sambil nungguin mahasiswi "bar-bar" itu keluar.
Setelah ganti baju, Ziva keluar dari kamar mandi dengan muka ditekuk. Dia nyamperin Damar yang lagi fokus di meja kerjanya. Bukannya takut, Ziva malah berdiri tegak sambil naruh kedua tangannya di pinggang.
"Mas!" panggil Ziva ketus.
Damar mendongak, matanya nggak lepas dari penampilan baru Ziva. "Apa lagi? Udah rapi, kan?"
"Gak bisa gitu dong! Mental gue kena nih gara-gara tadi di kasur. Pokoknya gue minta jatah jajan lebih! Anggap aja biaya kompensasi kerugian mental gue," cerocos Ziva tanpa rasa bersalah.
Damar angkat alis, hampir pengen ketawa. "Dih, matre juga ya lo. Emang satu milyar kemarin masih kurang?"
"Ya beda dong! Itu kan mahar, kalau ini jatah 'kena mental'. Pelunasan karena udah bikin gue jantungan!" tuntut Ziva sambil nengadahin tangan.
Baru aja Damar mau ngebalas omongan Ziva, HP-nya di atas
Damar baru saja mau menjawab telepon itu, tapi Ziva dengan cepat menyambar HP Damar. Begitu mendengar suara ayahnya di loudspeaker, emosi Ziva yang sudah dipendam sejak semalam langsung meledak.
"Gak usah sok asik nanyain kabar deh!" bentak Ziva kasar.
"Ziva? Nak, dengerin Ayah dulu—"
"Dengerin apa lagi?! Ayah mana yang tega jual anaknya sendiri demi bayar utang?!" potong Ziva dengan suara melengking. "Denger ya, mulai sekarang nggak usah sok peduli sama gue lagi! Urusin aja tuh pacar kesayangan Ayah yang baru itu! Nggak usah sok perhatian sama gue dan Raka!"
"Ziva! Jaga mulut kamu, Ayah ngelakuin ini buat kebaikan kamu—"
"Kebaikan pala lo peyang! Gue benci sama Ayah! Benci banget! Buat gue, Ayah udah nggak ada sejak Ayah lebih milih perempuan itu dibanding kita. Jadi nggak usah telepon-telepon lagi!" teriak Ziva habis-habisan.
Brak!
Ziva membanting HP Damar ke sofa dengan kasar sampai sambungannya terputus. Napasnya memburu, matanya merah padam menahan tangis yang bercampur dengan rasa muak yang luar biasa. Dia teringat adiknya, Raka, yang juga jadi korban ego ayahnya.
Damar terdiam, dia cukup kaget mendengar Ziva menyebut soal "pacar baru" ayahnya dan nama Raka. Ternyata masalah keluarga istrinya ini jauh lebih rumit dari sekadar utang rumah sakit.
"Puas lo maki-maki orang tua sendiri?" tanya Damar dengan nada dingin, tapi matanya menatap Ziva dengan sorot yang sulit diartikan.
Ziva menoleh, menatap Damar dengan penuh tantangan. "Kenapa? Lo mau belain dia juga? Inget ya, Mas! Lo cuma beli tubuh gue, bukan berarti lo bisa ngatur perasaan gue ke orang itu!"
Ziva langsung balik badan, niatnya mau lari keluar ruangan karena dadanya terasa sesak. Tapi sebelum sampai ke pintu, Damar sudah lebih dulu menyergapnya dari belakang, memeluknya dengan erat agar Ziva tidak kabur dalam keadaan emosi stabil.
"Lepasin gue! Gue benci semua orang! Gue mau pergi!" teriak Ziva sambil meronta-ronta di dekapan Damar.
"Diem, Ziva! Lo nggak bakal ke mana-mana dalam kondisi kayak gini!" bentak Damar tepat di telinganya, membuat Ziva seketika membeku.
Damar narik napas panjang, dia ngelihat Ziva yang udah bener-bener rapuh. Hilang sudah gaya bar-bar mahasiswi semester satu yang tadi nyolot. Damar duduk di samping Ziva, suaranya ngerendah, jauh lebih lembut dari biasanya.
"Cerita sama gue, Ziv. Semuanya. Keluarin aja," ucap Damar tenang.
Ziva narik napas sesenggukan, dia duduk lagi di sofa sambil meluk lututnya. Matanya kosong natep lantai.
"Semua berubah pas Raka lahir, Mas. Raka punya kelainan ginjal dari bayi. Dunianya Bunda cuma buat gue sama Raka. Walaupun Bunda cuma guru SD, tapi perhatiannya... gila, gue nggak bakal bisa bales sampai kapan pun," suara Ziva mulai parau.
"Terus bokap lo?" tanya Damar pelan.
"Bokap? Dia mah b******k! Bunda pernah mergokin dia main sama cewek di kost-kostan. Tapi Bunda tuh terlalu baik, Mas. Bunda maafin dia terus. Berkali-kali dia nyakitin Bunda, nggak cuma sekali dua kali dia selingkuh. Dan lo tau? Utang yang dia bilang buat pengobatan Bunda itu bohong! Sebagian besar duitnya abis buat foya-foya sama pacar-pacarnya, bukan buat kita!" Ziva teriak frustrasi, air matanya makin deres.
"Gue benci laki-laki tukang selingkuh, Mas. Sama kayak si Vino, mantan gue yang sampah itu. Dia selingkuh sama Tiara, sahabat gue sendiri. Bayangin gimana hancurnya gue!"
Damar diem aja, dia dengerin semua curhatan istrinya tanpa motong sedikit pun. Dia baru sadar kalau luka yang dipendam Ziva sedalam itu.
"Jadi Bunda meninggal bukan cuma karena penyakit, Mas. Tapi karena Ayah! Bunda terlalu banyak mendem sakit hati sendiri sampai akhirnya kena jantungan. Pas Bunda nggak ada, gue harus banting tulang. Lulus SMA gue kerja serabutan, jadi pelayan cafe, bahkan gue pernah kerja di klub malem demi duit. Gue bisa kuliah juga karena beasiswa, bukan duit bokap!"
Ziva makin histeris, bahunya naik turun. "Bokap cuma kasih uang receh, cuma cukup buat makan doang. Dia nggak peduli sama biaya pengobatan Raka yang mahal banget!"
Tangis Ziva pecah bener-bener pecah. Dia nggak sanggup lagi nahan semuanya. Tanpa sadar, dia langsung nubruk pelukan Damar, nyembunyiin wajahnya di d**a pria itu.
Damar pun ngerangkul Ziva erat, tangannya ngelus rambut Ziva dengan sayang. "Sshhh... udah, keluarin semuanya. Sekarang lo nggak sendirian lagi, Ziv. Ada gue."
Ziva makin nangis sesenggukan di pelukan Damar. "Gue benci dia, Mas... gue benci banget sama Ayah..."
Damar terdiam lama, membiarkan Ziva menumpahkan semua rasa sesaknya di dadanya. Ada rasa perih yang menjalar di hati Damar mendengar perjuangan gadis semuda Ziva yang harus menanggung beban seberat itu. Dia mengusap punggung Ziva dengan gerakan yang sangat menenangkan.
"Ziva, dengerin gue," ucap Damar sambil sedikit merenggangkan pelukannya agar bisa menatap mata Ziva yang sembap.
Ziva mendongak, sisa air mata masih mengalir di pipinya. "Apa lagi, Mas? Lo mau bilang kalau gue harus tetep bakti sama bokap?"
"Enggak. Gue nggak akan maksa lo soal itu," jawab Damar tegas. "Tapi soal Raka... mulai hari ini, lo nggak usah pusing lagi soal biaya pengobatannya. Gue bakal tanggung semuanya, Ziv. Gue bakal bawa dokter spesialis terbaik buat adik lo, dan gue janji dia bakal sembuh total. Tanpa syarat, tanpa embel-embel apa pun. Itu tanggung jawab gue sebagai suami lo."
Ziva terpaku, mulutnya sedikit terbuka karena nggak percaya. "Mas... lo serius? Biaya ginjal itu mahal banget, Mas."
Damar tersenyum tipis, kali ini senyumnya benar-benar tulus. "Duit gue nggak akan habis cuma buat nyembuhin adik ipar gue sendiri. Gue dokter, Ziv. Gue tahu gimana rasanya kehilangan orang yang disayang karena sakit. Gue nggak mau lo ngerasain hal yang sama lagi."
Ziva kembali terisak, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan rasa syukur yang luar biasa. Dia nggak nyangka pria yang awalnya dia pikir cuma "pembeli" dirinya ternyata punya hati sedalam ini.
"Makasih... makasih banyak, Mas," bisik Ziva tulus.
Damar mengusap air mata di pipi Ziva dengan jempolnya. "Udah, jangan nangis terus. Sekarang, kita ke ruangan raka."
Ziva tertawa kecil di sela isakannya, dia langsung lari ke kamar mandi buat cuci muka. Perasaannya mendadak jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya, Ziva ngerasa kalau keputusannya menikah dengan Damar mungkin adalah jalan dari Tuhan buat nyelametin dia dan Raka.