Seratus Hari di Bawah Atap yang Sama

1336 Words

Malam itu, kediaman utama Adhikara di Jakarta Selatan terasa lebih mencekam dari biasanya. Di ruang makan yang megah, aroma wagyu steak yang tersaji di meja seolah tak mampu mencairkan suasana beku di antara dua penguasa rumah tersebut. Ziva Wardani meletakkan pisau dan garpunya dengan perlahan. Matanya menatap Damar Adhikara yang masih asyik dengan ponsel bisnisnya. "Mas, kita harus bicara soal Daffa," buka Ziva, suaranya tenang namun sarat kekhawatiran. Damar mendongak, menyesap anggur merahnya sedikit. "Ada apa lagi? Dia sudah kembali, sudah jadi spesialis terbaik. Kurang apa lagi, Ziva?" "Dia bukan manusia, Mas. Dia mesin. Sejak pulang dari Australia, dia nggak pernah tertawa, bahkan senyum pun nggak. Dia sudah dua puluh delapan tahun, dan dia menutup diri dari semua wanita. Aku ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD