Alvian memajukan tubuhnya, mengurung Nabila di antara dinding dan tubuh tegapnya. Ia menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Nabila. "Maaf sayang... Mas cuma mau bilang, kangen banget," bisiknya begitu lirih hingga membuat bulu kuduk Nabila meremang. Nabila berusaha menutupi kegugupannya dengan celotehan khasnya. "Oalah... cuma mau bilang kangen sampai bawa Nabila ngumpet di bawah tangga? Mas ini—" Belum sempat Nabila menyelesaikan kalimatnya, Alvian menatapnya dengan tatapan tajam yang begitu intens. Nabila berkali-kali menelan ludahnya, nyalinya menciut seketika. Jantungnya? Jangan ditanya, rasanya sudah awur-wuran tidak karuan. Tangan hangat Alvian naik, membelai lembut sisi wajah Nabila, menelusuri garis rahangnya dengan penuh perasaan. Nabila yang biasanya banyak bicara kini hanya b

