Restoran itu berkilau hangat di bawah lampu-lampu gantung kristal. Musik lembut dari piano mengisi udara, bercampur dengan aroma steak dan wine yang menguar dari dapur. Sam datang lebih dulu, duduk tegap dengan jas abu-abu yang membuat bahunya terlihat semakin kokoh. Tangannya mengetuk pelan meja, menunggu. Ada senyum kecil di wajahnya, tapi juga ketegangan yang ia sembunyikan dengan rapi. Pintu restoran terbuka, dan muncullah Cintia—atau lebih tepatnya, Valeri di dalam tubuh Cintia. Gaun biru gelap yang ia kenakan seolah menyatu dengan matanya yang sayu namun berkilat. Setiap langkahnya menimbulkan decak kagum tamu-tamu lain. Sam berdiri, mendekatinya, lalu menarik kursi dengan sikap gentleman. “Terima kasih sudah mau menemaniku malam ini,” ucap Sam dengan nada yang agak bergetar, meski

