agi itu cahaya mentari menembus tirai tipis apartemen Sam, memercikkan kilau keemasan di setiap sudut ruangan. Aroma roti panggang dan tumisan sayur yang baru matang samar-samar memenuhi udara. Cintia—dalam tubuh Valeri—sudah bangun jauh lebih awal. Dengan cekatan ia menata sarapan di meja minimalis: omelet keju, roti hangat, dan kopi hitam. Tak lupa vas mungil berisi bunga mawar putih ia letakkan di tengah meja, memberi sentuhan manis. Setelah ruang tamu ia rapikan, ia memutuskan untuk memanjakan diri. Air hangat memenuhi bathtub, ditaburi busa wangi vanilla. Rambut panjang Valeri ia biarkan terurai, kulit pucatnya berkilau lembut di bawah cahaya lampu kamar mandi. Ia bersandar, memejamkan mata, membiarkan setiap tetes air meluruhkan penat yang ia simpan sejak semalam. Sementara itu, di

