Ibu ku menjadi depresi ketika harus kehilangan semuanya kembali, ia depresi hingga harus di rawat di rumah sakit khusus kejiwaan, menurut analisis dokter ibu tidak boleh stres dikit dan itu akan menjadi kumat. Saat ini juga, Ibu hanya di temani oleh pria muda itu, ya entahlah ia benar benar mencintai ibu ku atau hanya bersandiwara agar ibu ku lepas dari papa nya. Papi juga sedang meninggalkan ku ke luar negeri untuk urusan bisnis hanya seminggu tapi terasa lama bagi diriku yang sedang hamil. "Biiii, Leon sudah di suapi belum," teriak ku dari dalam kamar menanyakan buah hati ku yang pertama, leon sudah semakin pintar, dia sudah mulai berdiri diri solah ingin berjalan. "Sudah Non Cia, Non rapih amat mau kemana? lagi hamil besar jangan kemana mana," "Sebentar bi, hanya ke mall mau b

