Aku tak bisa diam dan menjadi orang bodoh terus - terusan aku punya harga diri yang tidak boleh di injak - injak sudah sekian lama aku memendam kesedihan dan Rey hanya mengoleskan kebahagiaan bukan memberikan sepenuhnya, di tambah lagi mami yang selalu membuat ku sakit hati atas omongan - omongannya. Aku membuka ponsel dan terdapat banyak panggilan dan pesan dari papi, ya hanya papi yang sadar aku pergi dari rumah, suami ku pun tak sadar aku pergi. Ironis memang, lebih baik benar - benar ku tinggalkan. aku pun menunggu uwa yang terlalu lama, akhirnya aku menunggu di kursi kayu sambil menyandar ke meja, suasana desa membuat ku mengantuk, alunan suara dari sungai seolah membelai rambut ku, angin sepoy sepoy yang meniup pun menghipnotis mata ku agar tertutup. *** Papi pun segera mene

